
Author POV
Sementara Naira dan ibunya sedang merencanakan sesuatu untuk memberi pelajaran pada Samuel karena telah menerima Caren bekerja di perusahaan.
Wanita yang membuat kedua ibu dan anak itu kesal sedang berada di suatu tempat yang tidak mungkin orang akan mengira kalau wanita itu berada di sana. Seorang wanita dengan pakaian elegan berada di sebuah lorong sepi di sebuah lingkungan yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari tempat seharusnya dia berada.
Di dekat rel kereta, dimana semua orang menganggap tempat itu sebagai kawasan yang seharusnya di jauhi karena di sana di kenal dengan kawasan yang tidak baik. Maksudnya adalah kebanyakan orang yang tinggal di tempat itu adalah para preman yang suka berkeliaran di pasar-pasar dan juga terminal. Kawasan dimana orang lebih suka mencari yang dengan memalak, merampok dan mencuri daripada bekerja keras.
Wanita itu disana, Caren Maida sedang berdiri di sana berhadapan dengan empat orang pria berbadan tegap dan juga berwajah bengis. Salah satu dari mereka yang berbadan penuh tato mendekat pada Caren.
Setelah pria itu mendekat, Caren melemparkan satu buah tas yang ukurannya cukup besar pada pria itu.
"Itu sisa bayaran kalian, kalian juga sudah ambil cek dari Samuel kan, jadi urusan kita selesai!" seru Caren dengan wajah dingin dan kata-kata yang begitu dingin.
Pria bertato itu tertawa sangat senang, di ikuti ketiga temannya yang berdiri di belakangnya
"Ha ha ha, senang berurusan dengan wanita licik seperti mu nona!" ucap pria itu sambil meraih tas yang tergeletak di depannya.
Sambil memanggul tas itu di pundak sebelah kirinya, seolah tas itu benda berat padahal hanya tas yang ringan dengan ukuran sedang, bahkan Caren pun tadi membawanya dengan menentengnya santai.
Pria itu maju mendekati Caren.
"Nona cantik, kalau butuh bantuan. Jangan ragu untuk menghubungi kami lagi!" kata pria itu sambil mengedipkan sebelah matanya pada Caren.
Wajah Caren masih sangat dingin, dia juga terlihat begitu acuh.
'Jangan mimpi, aku sudah menghabiskan banyak uang untuk membayar kalian. Tapi tak apa, jika dengan itu aku bisa kembali mendekati Samuel. Tapi selanjutnya aku tidak akan pernah berurusan dengan kalian lagi!' batin Caren.
__ADS_1
"Tentu saja, baiklah. Aku akan pergi. Ingat, jangan pernah mengatakan apapun pada siapapun!" seru Caren.
"Tentu saja nona cantik, kami akan jaga rahasia dengan baik. Uang ini akan menutup mulut kami nona!" jawab si pria bertato lalu menghampiri ketiga temannya.
Caren pun segera berbalik dan berjalan dengan cepat meninggalkan tempat itu, dia bergegas menuju ke mobil yang tadi mengantarkan nya ke tempat ini.
Setelah dia masuk ke dalam mobil, mobil itu pun segera melaju meninggalkan tempat ini.
Di dalam mobil itu seorang wanita berambut keriting tengah mengemudi dengan gemetaran.
"Parah kamu Caren, aku baru kali ini ke tempat seperti itu. Kamu tahu tidak, beberapa orang bahkan mengetuk pintu mobil dan bertanya ada urusan apa aku disana. Aku gemetaran, lihatlah bahkan sampai sekarang aku masih gemetaran!" seru Vina sahabat Caren.
"Kamu kan tinggal bilang, kamu sedang menunggu bos Toni, seperti yang aku katakan padamu sebelumnya, tidak akan ada yang berani mengganggumu kalau kamu sebut nama itu disana!" sahut Caren.
Vina mengangguk paham.
Caren mengerutkan keningnya.
"Maksud mu apa?" tanya Caren.
"Apa kamu tidak lihat Caren, pandangan para pria itu pada wanita seperti serigala yang kelaparan! aku tidak mau lagi ke sana, ke tempat itu. Pokoknya tidak mau, lagi pula darimana kamu tahu tempat itu?" tanya Vina setelah menegaskan kalau dia tidak mau mengantar Caren ke sana lagi.
"Itu tidak penting, yang jelas sekarang aku sudah berhasil dengan tujuan ku. Aku sudah berhasil masuk ke perusahaan Samuel, dan itu sangat bagus. Aku akan bisa mendekati Samuel lagi!" jawab Caren.
"Hei, dia itu sudah punya istri. Kenapa tidak cari pria lain saja sih?" tanya Vina yang tidak setuju kalau sahabatnya itu mendekati Samuel yang jelas-jelas sudah menikah, sudah punya istri.
"Ck... kamu tidak mengerti Vina. Aku sungguh sangat menyesal telah melepaskan pria sebaik dan setulus Samuel demi laki-laki seperti Kenzo itu, aku sadar kalau aku salah telah melakukan itu, aku akan mendapatkan hatinya kembali, dan setelah itu aku dan dia akan bahagia selamanya. Kami akan menjadi pasangan yang serasi, seperti dulu!" terang Caren pada sahabatnya Vina.
__ADS_1
"Terserah kamu lah, aku sudah mengingatkan. Sekarang kita mau kemana?" tanya Vina.
"Ke butik, aku harus beli pakaian untuk bekerja besok!" ucap Caren pada Vina.
"Hei nona Caren, apa kamu lupa? kamu sedang berakting menjadi wanita tidak mampu yang kehilangan pekerjaan dan kehilangan uang, yang kamu punya hanya bakat dan rumah saja! sekarang kamu mau ke butik, yang benar saja!" seru Vina dengan tatapan tidak senang sama sekali.
Melihat reaksi temannya dan apa yang dikatakan Vina, Caren malah terkekeh.
"Oh iya ya, kamu benar. Sekarang kan aku adalah wanita yang bahkan untuk makan saja harus bersusah payah, ha ha ha aku lupa Vina. Terimakasih kamu sudah mengingatkan aku. Kalau begitu kita pasar tradisional saja, aku harus bekerja besok dan aku tidak mungkin pakai pakaian yang ada di lemari kamar ku itu!" seru Caren.
Vina mengangguk paham.
"Itu baru benar, tapi aku tidak masuk ya ke dalam pasar. Aku hanya mau menunggu di tempat parkir, kamu tahu kan pasar tradisional itu, iyuh... tidak mau pokoknya!" seru Vina sambil menggidikkan bahunya.
Caren terkekeh melihat tingkah Vina, dia memang adalah wanita yang tidak pernah menginjakkan kakinya di tempat-tempat seperti itu. Vina itu adalah anak dari salah seorang pejabat di kota ini, dia baru saja pulang dari luar negri beberapa hari yang lalu. Dia juga adalah sahabat Caren dan Samuel ketika mereka kuliah. Namun setelah selesai kuliah, Vina memilih untuk bekerja di luar negeri. Saat ini dia kembali karena ayah dan ibunya sudah menjadi seorang pejabat dan dia harus datang untuk pelantikan jabatan ayah nya itu.
Caren bertemu dengannya beberapa hari yang lalu ketika sedang melamar pekerjaan di perusahaan ayah Vina. Sebenarnya Caren sudah di terima disana. Tapi karena dia tidak menyukai pekerjaan itu dia melepaskan nya dan memilih untuk kembali mengejar Samuel dengan cara berpura-pura menyedihkan dan seperti pertemuannya dengan Samuel wanita itu, di kejar penagih hutang dan terancam di jual. Sungguh cara yang licik, padahal Caren juga masih punya tabungan yang bisa membuatnya bertahan hidup beberapa bulan.
Dengan bantuan Vina, dia membayar para preman itu dan rencana nya pun berhasil, dia berhasil masuk ke perusahaan Samuel.
"Eh Caren, ngomong-ngomong apa posisi mu di perusahaan Samuel? kamu belum bilang padaku loh!" tanya Vina.
"Ck... sebenarnya aku agak kesal dengan posisi itu, aku hanya di pekerjakan sebagai staf pembantu di bagian promosi!" jawab Caren.
"SPG?" pekik Vina.
***
__ADS_1
Bersambung...