
Setelah beberapa jam kemudian, mata Vina pun terbuka. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
'Ini masih di restoran itu, apa yang sudah terjadi?' tanya Vina dalam hati.
Vina lantas mengingat apa yang sudah terjadi, menurut ingatannya. Wajahnya memerah, ketika mengingat dia dan Adam telah melakukan hubungan itu.
Ceklek
Deg deg deg
Ketika pintu terbuka, Vina berusaha bangun dari posisi tidurnya di sofa panjang tempatnya tertidur. Dia melihat Adam datang, jantung Vina berdetak tak karuan.
Adam yang melihat Vina akan bangun segera menghampiri dan membantunya.
"Kamu sudah bangun?" tanya nya lembut.
Vina melihat pakaian nya pun sudah di ganti.
"Aku yang menggantinya, pakaian mu robek tadi!" seru Adam yang mengerti kenapa Vina melihat ke arah pakaian yang dia pakai.
Mereka berdua terdiam, Adam duduk di sebelah Vina yang hanya menundukkan kepalanya.
"Adam, terimakasih telah menolong ku...!"
"Aku yang berterima kasih, karena kamu memberikan nya padaku!"
Blush
Wajah Vina langsung kembali memerah.
"Em, sebaiknya kita pulang Adam!" ucapnya sambil berdiri lalu meraih tasnya yang ada di atas meja dan keluar begitu saja dari ruangan itu.
Adam hanya terkekeh pelan melihat Vina yang menurutnya sedang salah tingkah di hadapannya.
Dalam perjalanan pulang, tidak ada satu kata pun yang keluar dari keduanya. Hingga mereka tiba di kediaman Virendra. Suasana di depan rumah juga sedang ramai. Rupanya ada Rama dan Anisa yang mengantarkan Naira pulang dari rumah sakit.
"Vina, kemari sayang!" panggil Stella.
Vina langsung menghampiri ibu mertuanya itu. Stella langsung merangkul Vina dan memeluknya.
"Sayang, kamu tahu tidak. Ternyata calon cucu ibu adalah seorang jagoan, calon anak Naira adalah laki-laki!" ucap Stella sangat senang.
__ADS_1
Vina juga tersenyum, dia juga ikut bahagia. Tapi matanya langsung mengarah ke Adam yang masih bicara pada ayahnya dan ayah Naira.
Tatapan Vina begitu sedih, Naira melihat itu. Dia lalu memegang tangan Vina dan menepuk punggung tangan Vina perlahan.
"Kita bisa mengurusnya sama-sama!" ucap bakar mencoba mengingatkan Stella dengan cara halus kalau menantu bungsu nya itu tak akan pernah menjadi ibu, jadi dia tidak boleh terlalu antusias bahagia di depan Vina.
Stella yang mendengar ucapan Naira langsung diam. Wajahnya yang tadinya sangat bahagia berubah, dia merasa sangat bersalah pada Vina. Stella lalu merangkul Vina lagi.
"Maafkan ibu sayang!" ucap Stella lembut. Dia merasa sangat bersalah pada Vina.
Vina tersenyum.
"Tidak apa-apa ibu, aku akan kembali ke kamar ku dulu!" ucapnya lalu berjalan meninggalkan semuanya yang ada di ruang tamu.
Stella mendekati Naira.
"Ibu sudah salah bicara, bagaimana ini?" tanya Stella yang merasa sangat tidak enak pada Vina.
Naira hanya mengelus punggung ibu mertuanya perlahan.
"Vina adalah wanita yang baik dan pengertian, dia tidak akan marah Bu!" jawab Naira mencoba untuk menenangkan ibu mertuanya.
"Rapat umum pemegang saham di majukan besok pagi!" ucap Adam ketika baru memasuki kamarnya.
Vina yang sedang berdiri menghadap ke arah jendela langsung berbalik menghadap ke arah Adam.
"Bukankah kamu sudah mendapatkan semua buktinya?" tanya Vina.
"Iya, anak buah ku sudah menyimpannya. Besok pagi kita bisa berikan kejutan itu pada Jodi dan Caren!" ucap Adam sambil berjalan mendekati Vina.
Vina menatap Adam. Dia sebenarnya sudah menaruh rasa suka dan simpati pada Adam, tapi dia juga menyadari kekurangan nya meskipun semua itu karena Adam, tapi Vina tidak pernah menyalahkan Adam. Dia sudah menganggap semua itu takdirnya.
Dan tujuannya untuk meminta bantuan Adam untuk membuka kedok Jodi dan Caren juga sudah tercapai. Besok hari kehancuran Jodi dan Caren sudah dapat dipastikan.
Vina merasa, kalau sudah saatnya dia pergi dari kehidupan Adam. Dan membiarkan pria itu hidup bahagia dengan wanita yang lebih sempurna dari dirinya. Yang bisa memberikan dia anak, yang bisa memberikan ibu Stella cucu. Tidak seperti dirinya.
"Adam, terimakasih kamu telah membantu ku. Setelah besok kamu tidak perlu menunggu dua bulan lagi, kita bisa langsung mengakhiri perjanjian kita, kamu bisa menggugat cerai...!"
"Jadi setelah kamu memanfaaatkan aku, kamu akan membuang ku begitu saja?" tanya Adam menyela ucapan Vina.
Vina terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Adam.
__ADS_1
Adam meraih kedua tangan Vina dan menggenggam nya dengan erat.
"Aku sudah putuskan, aku tidak akan pernah mengakhiri perjanjian kita itu Vina, aku akan mengikat mu selamanya dengan perjanjian itu!" ucap Adam dengan tatapan begitu dalam pada Vina.
Mata Vina sudah berkaca-kaca. Kata-kata Adam itu terdengar begitu indah di telinganya. Tapi kenyataan kalau dia tidak bisa memberi Adam keturunan membuat Vina langsung menarik tangannya dari Adam.
"Tidak Adam, kamu sudah membantuku dan kamu berhak mendapatkan wanita yang bisa memberi mu anak, tidak seperti aku!" ucap Vina yang sudah menangis dan berbalik membelakangi Adam.
Adam maju dan memeluk pinggang Vina dari belakang. Membuat Vina terdiam kaku.
"Memangnya kenapa kalau tidak punya keturunan? keluarga Virendra sudah punya penerus, anak Samuel dan Naira sudah cukup bagi mereka. Kita malah bisa menjalani hidup kita hanya berdua saja sampai tua, bukankah itu akan sangat romantis!" ucap Adam sambil memeluk erat Vina dan meletakkan dagunya di bahu Vina.
Vina tidak bisa menahan tangisnya, Vina bahkan sudah terisak. Adam lalu melepaskan pelukannya dari Vina, dia berjalan ke depan Vina lalu menyeka tangis istrinya itu.
"I love you Vina!" ucap Adam.
Vina mengangkat kepalanya, memandang pria di hadapannya itu. Vina bisa melihat ketulusan Adam di matanya. Vina menubruk dada Adam dan memeluknya dengan erat. Adam juga langsung memeluk Vina, dan mencium kening Vina.
"Tidak mau katakan kamu juga mencintai ku?" tanya Adam.
Vina menggelengkan kepalanya dan kembali memeluk Adam, membuat Adam tersenyum. Dia sudah memutuskan untuk menghabiskan hidupnya bersama Vina. Karena menurutnya wanita itulah yang ditakdirkan Tuhan untuknya.
Adam yang memuja Puspa bertahun-tahun malah sama sekali tidak pernah dapatkan tanggapan dari wanita itu. Tapi saat dia kalut, dia malah bertemu dengan Vina. Tiba-tiba saja menikah dengannya, beberapa waktu bersama Vina membuat Adam mulai simpati dan sangat perduli pada Vina. Adam merasa sedih saat Vina sedih, dan Adam senang ketika Vina juga senang.
Dari setiap hal itu Adam merasa yakin kalau sebenarnya Vina lah takdirnya. Dan kejadian tadi siang membuat Adam semakin yakin kalau dirinya memang ditakdirkan untuk Vina dan Vina juga telah ditakdirkan Tuhan untuknya.
Sementara Adam sudah menentukan pilihan dan keputusan untuk hidupnya. Pernikahan Puspa dan juga Riksa juga tengah di siapkan oleh Damar dan juga Putra.
Puspa dan Riksa akan menikah dua hari lagi, semua persiapan juga sudah selesai.
"Kamu sudah akan menjadi istri orang nak!" lirih Putra yang merangkul Puspa yang sedang fitting baju pengantin di butiknya.
Puspa langsung memeluk ayahnya.
"Terimakasih ayah sudah merestui aku dan Riksa!" ucap Puspa.
"Ayah yakin tidak akan ada pria yang lebih mencintaimu melebihi Riksa!" ucap ayah Putra.
***
Bersambung...
__ADS_1