
Sepertinya Naira bingung mau pakai yang mana, dia membuka pintu kamar mandi dan menyembulkan kepalanya untuk melihat ke arah Samuel yang sedang duduk dan memainkan ponselnya.
"Tuan!" panggil Naira pelan.
***
Tapi Samuel malah pura-pura tidak mendengarnya dan masih fokus pada layar ponselnya. Sebenarnya sih Samuel mendengar panggilan Naira, hanya saja dia sudah bilang pada Naira untuk tidak memanggilnya tuan lagi. Karena itu saat Naira memanggilnya dengan sebutan tuan, Samuel pura-pura tidak mendengar nya.
Merasa tidak di hiraukan Naira akhirnya memanggil Samuel dengan suara yang lebih keras.
"Tuan!" panggil Naira lagi lebih keras daripada yang pertama kali tadi.
Samuel masih tidak mengacuhkan Naira, dia malah makin menunduk dan makin fokus pada layar ponselnya.
"Ck... dia kan tidak pakai handset, kenapa dia tidak bisa mendengar ku?" tanya Naira dengan menggumam kesal.
Naira akhirnya membuka lebar pintu kamar mandi lalu keluar, sebenarnya pun dia masih berpakaian lengkap. Dia menghampiri Samuel yang masih asik mengetik sesuatu di ponselnya.
"Tuan, apa kamu mendengar ku?" tanya Naira.
Kaki ini Samuel mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arah Naira.
"Apa kamu juga mendengar ku, ku bilang jangan panggil aku tuan lagi!" serunya tanpa mengalihkan pandangannya dari Naira.
Naira malah merasa takut pada ucapan Samuel.
"Tapi kalau tidak panggil tuan aku harus panggil apa?" tanya Naira bingung. Naira berbicara pada Samuel dengan sangat hati-hati. Dia tidak ingin membangunkan harimau yang tengah tidur dalam diri Samuel.
"Apa kaku ini benar-benar bodoh, tidak kah bisa pikirkan sendiri hal semudah itu?" tanya Samuel dengan raut wajah kesal dan berdecak setelahnya.
'Memangnya aku harus panggil apa?' tanya Naira dalam hati.
Naira masih bingung, tapi kemudian dia ingat dengan panggilan Riksa pada Samuel. Jadi Naira pikir tidak masalah jika menggunakan panggilan itu pada Samuel.
"Bagaimana kalau bos?" tanya Naira berhati-hati.
Dan setelah Naira mengatakan ucapannya itu, Samuel malah makin melotot padanya.
"Memangnya kamu anak buah ku, memang nya kamu bekerja untuk ku. Bodoh sekali sih kamu ini!" kesal Samuel.
__ADS_1
Naira benar-benar sudah tidak tahan lagi, salah hatinya berfikir apakah Samuel benar-benar tidak pernah memikirkan perasaan nya sama sekali. Dia terus memaki dan menghina Naira.
'Kenapa sih harus marah-marah terus, aku ini manusia bukan batu. Kenapa juga harus selalu marah-marah bahkan selalu menghina ku!' batin Naira yang sudah mulai menangis.
"Malah menangis, sudah bodoh! cengeng lagi! benar-benar perempuan yang tidak...!"
"Iya aku bodoh, aku cengeng, terus saja hina aku. Anggap saja aku batu yang tidak punya hati. Lalu apa bagus nya dirimu, pernah tidak kamu berkaca di depan cermin? pernah tidak? lalu apa bagusnya dirimu di bandingkan aku?" teriak Naira di depan Samuel dengan air mata yang menetes.
Naira sudah tidak mampu lagi menahan kesalnya pada Samuel. Dia bahkan sudah menyentuh Naira tanpa persetujuan Naira, sekarang masih saja menghinanya dan merendahkannya.
Samuel berdiri, wajahnya tak kalah kesal dari Naira.
"Kamu bilang apa? berani kamu bicara seperti itu padaku?" tanya Samuel pada Naira. Matanya juga sudah memerah karena kesal.
Naira tak gentar, dia terus mencoba untuk tetap menunjukkan kalau dia tidak takut pada Samuel.
"Iya, aku berani. Pria seperti kamu memang tidak pantas untuk dicintai, pantas saja kekasihmu mengkhianati kamu, kamu memang tidak punya hati!" bentak Naira.
Dan Samuel langsung mengangkat tangannya hendak memukul Naira, Naira langsung memejamkan matanya.
***
Begitu matanya terbuka, ternyata dia masih berdiri di balik pintu kamar mandi. Dan Samuel juga masih berada di tepi tempat tidur dan fokus dengan ponselnya.
Ternyata dia sedang membayangkan adegan kalau dia berani melawan Samuel, dan pada akhirnya dia menyadari kalau dia tidak sekuat itu untuk melawan Samuel.
'Ck... apa yang aku pikirkan. Mana mungkin mulut pengecut ku ini bisa bicara seperti itu, tidak mungkin, syukurlah!' batin Naira lagi.
Tapi Naira benar-benar keluar dari kamar mandi dan menghampiri Samuel. Dia melangkah dengan pelan.
Dan dia berhenti setelah cukup dekat dengan Samuel.
"Tuan, apa kamu mendengar ku?" tanya Naira.
Tapi selanjutnya Naira tertegun, karena kalimat ini sama dengan yang ada di khayalan nya tadi.
Samuel mengangkat kepalanya, dan itu malah lebih membuat Naira tertegun lagi.
'Huh, kenapa adegan ini bisa sama? apa aku benar-benar akan di tampar?' tanya Naira dalam hatinya yang sudah panik dan takut pada saat yang bersamaan.
__ADS_1
"Bukan kah aku sudah bilang untuk tidak memanggilku dengan sebutan tuan lagi?" tanya Samuel dengan wajah dingin.
Naira terdiam dan sedikit memiringkan kepalanya.
'Nah kalau ini sedikit berbeda, tapi intinya sama!' ujarnya dalam hati lagi.
Naira menunduk,
"Maaf tuan, maksud ku.. !" Naira menjeda ucapan nya.
Naira sedang berfikir untuk menemukan kata yang tepat, agar kejadian dalam khayalan nya tidak menjadi kenyataan.
"Mas...!" ucap Naira lalu sedikit mengintip reaksi Samuel.
Sebenarnya Samuel senang dengan sapaan baru dari Naira, tapi dia berusaha untuk bersikap biasa.
"Panggilan yang bagus, ada apa?" tanya Samuel datar.
"Mas, itu bajunya semuanya.. em, apakah mas yang memilihnya?" tanya Naira pada Samuel.
Samuel menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Bukan, itu pilihan sekertaris ku. Ada apa?" tanya Samuel.
Naira tidak bisa menjelaskan nya, dia langsung pergi ke kamar mandi dan membawa keluar tiga gaun pilihan dari sekertaris Samuel itu dan meletakkan nya di atas tempat tidur.
"Lihat ini mas..!" ucap Naira sambil memperlihatkan ketiga gaun itu dengan menempelkan nya satu persatu di tubuh Naira.
Gaun pertama membuat Samuel menaikkan sebelah alisnya, gaun kedua membuat Samuel melebarkan matanya, dan gaun ketiga... Samuel langsung meraih gaun itu dan membantingnya di atas tempat tidur nya.
"Dona..!" geram Samuel.
Samuel mendengus kesal lalu terlihat menghubungi seseorang.
"Halo Riksa, cari kan satu gaun yang bagus dan sopan untuk Naira dalam dua puluh menit!" Samuel langsung mematikan ponselnya.
Dia terlihat menjauh dan membelakangi Naira, ternyata keputusan nya untuk meminta bantuan Dona sangat salah. Tapi dia juga tidak mengerti, kalau itu Caren yang memakai gaun itu, Samuel merasa tidak masalah. Toh, selama ini Caren memang berpakaian seperti itu. Tapi begitu dia membayangkan Naira yang memakainya, dia merasa sangat kesal dan tidak rela.
Dan dia juga bertambah kesal saja, karena ternyata dia memang tidak bisa mengacuhkan Riksa. Karena memang hanya Riksa lah yang mengerti benar dengan keinginan dan semua hal tentang nya.
__ADS_1
***
Bersambung...