
Hari sudah menjelang sore, aku melewati jalan pintas di gang kecil yang hanya muat untuk satu orang saja berjalan disana dan jika berpapasan dengan orang lain maka harus memiringkan badan agar keduanya bisa lewat.
Aku memilih jalan ini agar cepat sampai di gerai ayam geprek yang ada di gang satunya lagi, kalau lewat gang rumah ku maka perjalanan akan semakin jauh.
"Eh, Naira!" panggil Indah yang sedang membawa bungkusan, seperti nya itu pesanan ayam geprek customer.
"Indah, mau kemana?" tanya ku basa-basi padahal aku sudah tahu dari benda yang dia bawa dan juga dia masih memakai seragam lengkap gerai tempat dia bekerja dia pasti mau antarkan delivery order.
"Mau antar pesanan Pak Mahmud! eh kamu mau kemana?" tanya Indah.
"Mau ambil sepeda di gerai kamu.."
"Udah di bawa sama Haris, tadi tuh dia ke gerai nyari kamu? terus dia bilang kalau kamu ke gerai bilangin kalau sepedanya sudah di bawa sama dia gitu, soalnya nomer kamu gak bisa dia telepon katanya!" jelas Indah. Aku sedikit pusing menterjemahkan apa yang di ucapkan oleh indah. Tapi aku bisa mengetahui intinya, sepeda ku di bawa oleh Haris.
"Oh gitu, makasih ya!" seru ku padanya.
Aku langsung berbalik arah, kalau lewat sini maka aku akan lebih lama lagi sampai di toko buku.
Beberapa menit kemudian aku sampai di toko buku ko Acong. Kurasa ini sudah sangat sore, aku melihat teman-teman Baim adikku sudah pulang semua. Aku rasa dia juga sudah pulang.
Aku melihat sepeda ku ternyata sudah terparkir di tempat biasa. Aku lalu masuk ke dalam toko buku.
"A...aku kembali!" ucap ku gugup karena merasa tidak enak pada Mini dan Haris.
Mini terlihat cemas dan segera menghampiri ku, namun harus telah terlebih dulu tiba di depan ku dan memegang kedua lengan ku dengan kedua tangannya.
"Nai, kamu gak papa kak? kamu darimana?" ponsel kamu mati ya? kenapa nomernya tidak bisa di hubungi?" tanya Haris bertubi-tubi memberondong ku dengan pertanyaan yang menunjukkan kalau dia sangat mencemaskan aku tadi.
__ADS_1
Aku jadi semakin tidak enak padanya dan juga Mini.
"Maaf ya, aku malah bikin kamu panik. Kalian sudah makan?" tanya ku lagi.
Mini mendekati ku dan langsung menganggukan kepalanya.
"Sudah, kami sudah makan. Itu nasi milik mu sudah dingin! makan dulu yuk!" ajak Mini menggandeng tangan ku.
Aku segera menuju ke meja tempat biasa kami membungkus buku yang baru datang, Mini membersihkannya dengan tissue basah yang dia ambil dari tasnya. Dia bahkan memberikan tissue itu untuk ku agar aku membersihkan tangan ku sebelum makan.
Aku duduk, Mini juga. Dan Haris mengikuti kami. Karena kebetulan kondisi toko lumayan sudah sepi.
"Sambil makan, coba deh sambil cerita kejadian nya tuh, gimana sampai kata Indah kamu malah di tarik seseorang ke dalam mobil?" tanya Haris yang kurasa sudah penasaran level maksimal.
Aku mulai membuka bungkusan nasi dan ayam, sambal makan aku mulai menceritakan kejadian tadi siang pada kedua teman ku ini.
"Motor yang ada di sebelah sepeda tuh jatuh, nah nimpa mobil mewah di sebelah nya!" aku menjeda cerita ku untuk mengambil minum yang ada di depan ku.
Kedua teman ku ini seperti nya masih asik mendengarkan, tapi aku malah kembali mencomot ayam dan memasukkan nya kedalam mulut ku. Terus terang aku memang sangat lapar, kan tadi siang aku belum makan. Si lidah tajam itu juga tidak memberikan aku makan saat mengajak ku ke sana sini. Jadi sekarang aku memang lapar sekali..
"Kebaret deh tuh mobil, mana lumayan lebar!" jelas ku.
Haris langsung mencondongkan tubuhnya ke arah ku.
"Terus gimana? kamu di bawa ke kantor polisi?" tanya nya dengan raut wajah panik.
Aku menggelengkan kepala ku dengan cepat. Aku sedikit ragu harus mengatakan tentang hal ini pada mereka berdua. Karena aku memikirkan ayah dan ibu ku. Mereka tidak akan terima kalau anaknya ini menikah tapi dengan perjanjian seperti itu. Meskipun kami memang keluarga sederhana, tapi ayah dan ibu tidak akan membiarkan putri mereka di permainkan. Aku rasa aku harus menutupi nya dari mereka berdua.
__ADS_1
"Gak kok, masalahnya udah kelar. Yang punya mobil bawa aku ke bengkel, terus dia nanya mobilnya bisa dibenerin apa gak? terus kata tukang bengkel nya bisa. Setelah itu aku di antar pulang ke rumah!" jelas ku pada Haris dan Mini yang menganggukkan kepala mereka dan mengelus dada mereka.
"Syukurlah, aku kira kamu bakalan di tuntut. Syukur banget deh kalau udah selesai. Ya sudah lanjut makan, aku mau ngecek komputer!" seru Haris dan meninggalkan aku juga Mini yang masih duduk di dekat ku.
"Kamu gak bohong kan Nai?" tanya Mini ragu.
"Uhuukk uhuukk!" aku sampai tersedak karena pertanyaan tiba-tiba dari Mini. Wajar sih dia gak percaya, aku sama Mini tuh sudah temenan dari SMA. Mungkin dia tahu aku lagi mengarang bebas saja sekarang ini.
"Bener lah Min, udah tenang aja. Semuanya aman!" jawab ku menambahkan.
Beberapa menit kemudian aku selesai makan, dan kembali ke pekerjaan ku. Toko buku ko Acong ini buka sampai jam tujuh malam. Awalnya hanya sampai jam lima sore, tapi karena banyak permintaan dari para pelanggan yang ingin toko ini buka sampai malam, ko Acong mengabulkannya. Tapi sebatas jam tujuh malam saja. Karena ko Acong sudah tua, dan butuh banyak istirahat.
Makin petang, makin banyak pengunjung yang datang. Karena mereka menyelesaikan tugas dari sekolah mereka. Juga beberapa mahasiswa yang mencari buku pelajaran dan panduan lain.
Aku dan Mini selalu senang jika toko ini ramai. Walaupun lelah, tapi kami senang karena semakin banyak omset ko Acong, biasanya dia selalu memberikan bonus di akhir bulan. Ko Acong ini orangnya sangat baik dan pengertian.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, Aku dan Mini menyapu dan mengepel toko. Sedangkan Haris mematikan semua mesin dan merapikan peralatan lainnya. Kami pamit pada ko Acong dan seperti biasanya. Mini yang memegang kunci toko, karena dia selalu datang lebih pagi dari aku dan juga Haris.
"Hai calon makmum!" panggil Kak Kaktus membuat ku dan Haris menoleh.
Haris nampak berdecih tidak senang. Dan aku hanya terkekeh melihat kak Kaktus mengedipkan sebelah matanya.
"Kenapa kamu? cacingan?" tanya Haris tidak senang.
***
Bersambung...
__ADS_1