
Aku masih diam mematung sampai Samuel menjauh dan memberi jarak dirinya dengan ku.
"Aku akan mandi dulu, buatkan nasi goreng seperti tadi malam untuk sarapan ku!" serunya dan langsung turun dari atas tempat tidur menuju ke kamar mandi.
Aku terduduk lemas di atas tempat tidur. Aku menelan saliva ku perlahan, aku masih tak habis pikir kapan dia memeriksa ponselku, dan kenapa dia malah melarang ku menunda kehamilan.
Cukup lama aku terdiam, sebelum akhirnya aku mengikat rambut ku dengan asal dan keluar dari dalam kamar.
Seperti apa yang tadi Samuel katakan setelah keluar dari dalam kamar tujuan ku adalah dapur, aku akan membuatkan nasi goreng seperti yang dia inginkan.
"Selamat pagi nyonya muda!" sapa Pak Ranu dengan ramah.
"Selamat pagi nyonya muda!" sapa pelayan lainnya mengikuti.
Aku hanya menjawab singkat dan dengan senyum sesaat pada mereka.
"Selamat pagi!" ucap ku pelan.
"Pak Ranu, mas Sam ingin sarapan nasi goreng, bolehkah aku menyela pekerjaan kalian sebentar?" tanya ku sopan pada pak Ranu dan juga dua pelayan bagian dapur.
"Tentu nyonya muda, silahkan!" ucap pak Ranu dan meminta dua pelayan bagian dapur untuk menyingkir dari dapur sebentar.
"Terimakasih!" ucap ku setelah mereka memberi ruang padaku.
Aku mulai memotong bawang dan menyiapkan semua bahan yang di butuhkan, tapi pikiran ku benar-benar tidak fokus.
"Agkh!" aku memekik pelan ketika jari telunjuk kiri ku teriris pisau.
Aku mengangkat jari ku dan darah segar mengalir dari sana. Sepertinya lukanya cukup lebar sekitar satu centimeter lebih sedikit.
Pak Ranu terlihat panik, dia segera mendekati ku dan memegang tangan ku yang terkena pisau dan mengalirkan darah yang tak kunjung berhenti. Pak Ranu menuntunku ke wastafel dan mencuci darah yang ada di telunjuk kiri ku dengan air yang mengalir.
"Cepat ambil kotak P3K!" teriak Paka Ranu pada dua pelayan yang seperti nya juga ikut panik.
Salah satu dari mereka langsung berlari mengambil apa yang pak Ranu minta.
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya bibi Merry yang baru datang.
"Jari nyonya muda teriris bibi Merry!" jawab pelayan satunya yang membersihkan papan talenan tempat ku memotong bawang tadi.
"Bagaimana ini bisa terjadi, bawa kemari!" seru bibi Merry yang terlihat tidak senang.
Dia mengambil kotak P3K yang di bawa oleh salah seorang pelayan yang datang dengan berlari lalu mengajakku untuk duduk di kursi yang ada di dekat dapur bersih.
"Astaga, ini lumayan lebar! bagaimana anda bisa mendapatkan luka ini nyonya?" tanya bibi Merry sambil mengobati luka yang ada di jari ku sebelum membalutnya kain kasa dan plester.
"Bagaimana nyonya, apa masih sakit?" tanya bibi Merry memastikan keadaan ku.
Aku menggeleng dengan cepat.
"Tidak bibi Merry, sejak tadi memang tidak sakit. Aku hanya kaget saja tadi. Maaf telah membuat kalian semua panik, aku minta maaf!" ucap ku sambil menundukkan sedikit kepala ku.
Tapi saat aku melakukan itu, bibi Merry malah menepuk lengan ku perlahan.
"Nyonya jangan lakukan itu!" ucapnya sambil berbisik.
Aku duduk di salah satu kursi dan bibi Merry meletakkan nampan dengan dua cangkir teh manis hangat di atasnya.
"Silahkan nyonya!" ucap bibi Merry sambil meraih satu buah cangkir dari nampan dan meletakkan nya di atas meja di dekat ku.
"Terimakasih bi!" jawab ku tak kalah sopan.
"Kalau boleh tahu apa yang membuat anda terganggu sepagi ini?" tanya bibi Merry.
Aku menatap takjub pada bibi Merry, dia ini selalu bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat, dia sangat sensitif.
Tapi aku juga tidak ingin bibi Merry tahu apa masalah ku yang sebenarnya. Aku memilih tersenyum dan menggeleng kan kepala ku perlahan.
"Tidak ada bibi Merry, hanya saja mungkin karena semalam aku tidur terlalu larut. Dan harus bangun sepagi ini makanya aku kurang fokus!" jawab ku sambil menundukkan wajah.
Meskipun tidak semuanya bohong, tapi juga tidak semuanya jujur.
__ADS_1
"Jangan pikirkan apa yang bibi katakan kemarin ya nyonya!" ucap nya membuat ku langsung menoleh dan melihat ke arah bibi Merry.
Tidak hanya berkata seperti itu, tapi bibi Merry juga memegang tangan ku yang berada di samping cangkir teh ku.
"Jangan terlalu menjadi beban, nyonya besar dan tuan memang sangat menginginkan cucu, dan mereka yakin itu akan menjadi penyemangat untuk kesembuhan tuan besar yang sedang sakit. Tapi jangan sampai itu membuat nyonya muda terbebani dan stress!" ucap bibi Merry panjang lebar.
Ternyata dia mengira aku justru memikirkan bagaimana caranya cepat memberi cucu untuk ayah dan ibu mertua ku. Sepertinya dia salah paham, aku justru takut itu akan terjadi. Tapi bagus juga apa yang bibi Merry katakan ini. Seperti nya ayah dan ibu mertuaku memang orang yang baik, mereka tidak akan memaksakan kehendak mereka.
Tapi dari pembicaraan bibi Merry barusan aku juga bisa menangkap kalau mungkin saja Samuel memang menginginkan anak. Tapi bagaimana mungkin, itu artinya setelah aku melahirkan aku akan di pisahkan bukan dari anak ku. Membayangkan nya saja aku sudah sangat sedih.
Refleks aku menutup wajah ku, sampai aku tidak ingat kalau ada bibi Merry di sebelah ku. Dia mengelus punggung ku beberapa kali.
"Ada apa nyonya?" tanya nya cemas.
Aku menarik tangan ku dari wajah ku dan menggelengkan kepalaku.
"Tidak bibi Merry, tidak ada. Apakah ada hal lain lagi bibi Merry? jika tidak aku akan masuk ke dalam, hari ini adalah hari pertama ku bekerja pada mas Sam!" ucap ku mencoba mengalihkan perhatian bibi Merry.
"Anda akan bekerja?" tanya bibi Merry terkejut.
Aku langsung mengangguk membenarkan apa yang di tanyakan oleh bibi Merry.
"Iya, Samuel ingin aku jadi sekertaris nya!" jawab ku dan bibi Merry malah tersenyum mendengar apa yang aku katakan.
"Wah, ini luar biasa nyonya muda, seperti nya tuan memang tidak ingin berada jauh dari anda!" sahut bibi Merry.
Apa yang di katakan oleh bibi Merry barusan tentu saja membuat keningku mengernyit. Itu adalah hal yang paling mustahil, yang ada dia tidak ingin aku bersantai di rumah. Dan dia kan terus bisa menindas ku di kantor nya nanti.
"Oh ya nyonya muda ada satu hal lagi yang harus saya katakan pada nyonya muda, saya tahu anda sangat baik. Tapi anda sebagai anggota keluarga Virendra juga harus tahu dengan siapa dan dimana anda bersikap sopan dan baik!" jelas bibi Merry yang membuat aku tidak mengerti.
"Anda harus membedakan siapa yang pantas anda hormati dan tidak, boleh saja bersikap baik pada pelayan termasuk juga saya, tapi anda tidak boleh menundukkan wajah apalagi kepala anda pada kami, juga dengan bawahan anda di perusahaan nanti, apa anda mengerti nyonya muda?" tanya bibi Merry setelah menjelaskan kalau apa yang aku lakukan di dapur tadi adalah salah.
***
Bersambung...
__ADS_1