
Aku sungguh tak bisa berkata-kata lagi selain mengatakan kalau Riksa memang hebat. Mungkin kesabaran nya tidak ada limit nya. Dia benar-benar luar biasa.
"Lalu berapa lama jam kerja mu? semalam kami datang larut malam menemani bos mu ke rumah ku dan sekarang kamu bangun sangat pagi, jam 7 pagi saja kamu sudah sangat rapi seperti ini! jam berapa kamu bangun?" tanya ku pada Riksa karena aku benar-benar penasaran.
"Aku tidak ada jam kerja, bisa sampai 12 jam sehari, bisa juga 24 jam sehari. Tergantung bos masih memerlukan bantuan ku atau tidak!" jelasnya dan aku jadi makin kagum saja pada sekertaris si lidah tajam ini.
Aku berhenti bertanya pada Riksa karena saat ini kami sudah berada di depan gerbang sekolah.
Riksa membuka sabuk pengaman nya, dan aku tahu dia pasti akan membukakan pintu mobil untuk ku.
"Riksa, biar aku turun saja sendiri. Aku hanya akan menyerahkan kunci rumah saja pada ayah, dan akan segera kembali kemari!" ucap ku membuat Riksa menghentikan apa yang dia lakukan sebentar.
Tapi kemudian, setelah aku selesai bicara dia tetap melepas sabuk pengaman nya dan keluar dari dalam mobil. Dia tetap membukakan pintu mobil untukku.
"Aku juga ingin bertemu dengan Om Rama, boleh kan?" tanya nya padaku.
Aku hanya bisa tersenyum dan turun dari mobil. Aku menunggunya menutup pintu dan berjalan berdampingan dengannya penuh rasa canggung. Aku menyelipkan helaian rambut ku ke belakang telinga. Rasanya benar-benar, seperti berjalan dengan seorang selebriti. Semua mata memandang ke arah kami, tapi aku rasa mereka sedang memandang ke arah Riksa.
Aku berjalan semakin cepat ketika melihat ayah akan menutup pintu gerbang.
"Ayah!" panggil ku pada ayah sambil berlari menghampiri nya.
Aku meraih kunci rumah dari saku celana panjang ku, dan memberikan nya pada ayah.
"Ini, kunci rumah ayah!" ucap ku setelah ayah meraih kunci itu dari ku.
"Selamat pagi Om Rama!" sapa Riksa sambil tersenyum pada ayah.
Ayah juga langsung tersenyum pada Riksa. Dia kembali membuka pintu gerbang dan keluar dari dalam sana menghampiri Riksa.
"Nak Riksa, selamat pagi!" jawab ayah.
"Om, saya mau mengajak Naira pergi ke butik untuk memilih gaun pengantin nya!" ucap Riksa yang terkesan meminta ijin pada ayah ku.
Ayah terlihat menoleh ke arah mobil yang tadi di kemudikan oleh Riksa, dan Riksa juga ikut melihat ke arah yang sama dengan ayah.
"Om, mencari sesuatu?" tanya Riksa. Pertanyaan Riksa itu sangat mewakili apa yang ingin kutanyakan juga pada ayah.
__ADS_1
"Nak Samuel tidak datang bersama kalian?" tanya ayah yang sepertinya merasa kecewa karena yang menemani ku memilih gaun pernikahan adalah Riksa bukan Samuel.
"Em, maaf Om. Tapi bos sedang ada pertemuan penting. Dan pertemuan ini sudah di atur jauh-jauh hari. Jadi tidak bisa di batalkan. Karena itu saya yang menemani Naira!" jelas Riksa pada ayah.
Aku hanya bisa mengangguk, membenarkan apa yang di ucapkan oleh Riksa. Ketika ayah menoleh ke arah ku.
'Maaf ayah, maaf!' lirih ku dalam hati.
Ayah terlihat menundukkan kepalanya sekilas lalu kembali melihat ke arah ku.
"Kamu sudah sarapan?" tanya ayah memastikan.
Aku mengangguk kan kepala ku lagi. Meskipun sebenarnya aku tidak sempat melakukan itu.
"Ya sudah, kalian hati-hati ya di jalan. Jangan ngebut ya nak Riksa!" seru ayah membuat Riksa kembali tersenyum.
"Baik ayah, saya akan memastikan Naira aman bersama saya! permisi Om!" ucap Riksa pamit pada ayah.
"Ayah, Nai berangkat dulu ya!" ucap ku pamit pada ayah ku.
Ayah hanya mengangguk kan kepalanya lalu kembali ke dalam dan menutup gerbang. Aku kembali ke dalam mobil bersama dengan Riksa.
'Ayah terlihat kecewa sekali, maaf ayah. Kurasa ayah akan lebih kecewa lagi jika tahu kebenaran nya. Tapi ini semua tak akan lama, dan tak akan mempengaruhi keluarga kita!' batin ku.
Beberapa meter dari sekolah, Riksa kembali memecah keheningan yang sejak tadi bersama kami.
"Kenapa diam saja?" tanya Riksa.
Mungkin karena biasanya aku sangat cerewet, jadi ketika aku hanya diam saja Riksa merasa heran.
"Tidak apa-apa, aku hanya tidak tahu mau bicara apa!" sahut ku.
Sebenarnya aku masih memikirkan kehidupan ku selanjutnya setelah ini.
"Kamu belum sarapan kan?" tanya nya lagi.
Perhatian sekali Riksa ini, akan sangat baik jika si lidah tajam itu punya 20 persen saja sikap baik hati dan perhatian Riksa. Tapi itu tidak mungkin, dan tidak akan pernah.
__ADS_1
"Iya, kamu pasti merasa tidak suka padaku karena tadi aku berbohong pada ayah ya, dan mengatakan kalau aku sudah sarapan!" terka ku.
Dia malah menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tahu kamu mengatakan itu agar ayah mu tidak cemas. Nanti kita bisa sarapan di butik!" ucap nya lagi.
Aku hanya menundukkan kepala ku.
'Seperti apa ya butik nya, sampai bisa sarapan disana. Apa di dalam nya juga ada restoran nya?' tanya ku dalam hati.
Beberapa menit kemudian, kami sudah sampai di depan sebuah butik yang sangat besar dan sangat mewah. Yang terparkir disana semua mobil-mobil mewah. Aku jadi gemetaran saat Riksa membukakan pintu mobil untuk ku.
"Ayo turun!" ucap Riksa dengan suara khas nya, lembut dan menenangkan.
"Em..!" aku masih ragu. Semakin aku melihat ke arah gedung butik yang begitu besar dan mewah aku makin ragu untuk turun.
"Naira, ada apa?" tanya Riksa yang sepertinya mengerti kalau saat ini aku sedang dalam kondisi yang takut dan bingung.
"Em, aku belum pernah ke tempat yang seperti ini. Nanti di dalam kamu jangan jauh-jauh ya! aku takut nyasar!" jawab ku dan apa yang aku katakan ini memang apa yang ada di dalam. pikiran ku.
Riksa malah terkekeh saat aku mengatakan itu. Dia sempat melihat ku sekilas lalu menunduk dan melanjutkan kekehan nya.
"Kenapa malah tertawa?" tanya ku heran. Aku sedang gugup, sangat sangat gugup tapi dia malah tertawa.
"Kamu lucu Naira, ini butik bukan hutan. Bagaimana mungkin kamu aka nyasar!" sahut nya.
Aku terdiam, karena merasa apa yang dia katakan itu memang benar. Aku yang terlalu berlebihan karena sangat gugup.
Akhirnya aku tersenyum kikuk pada Riksa, aku juga menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal.
"Mari!" ucap nya lembut bahkan mengulurkan tangannya padaku.
Aku melihat ke arah tangan Riksa yang terulur lalu ke arah Riksa. Aku segera menerima uluran tangan Riksa dan turun dari dalam mobil.
"Nai, jangan tegang begitu. Kita ini akan masuk ke dalam butik. Bukan mau masuk ke rumah hantu!" serunya.
***
__ADS_1
Bersambung...