
Sementara itu di dalam hotel Naira masih tertidur pulas di atas tempat tidur nya, dia baru pertama kali tidur di atas ranjang seempuk dan senyaman itu. Saat di rumah Samuel, sebenarnya ranjangnya sangat empuk tapi karena ada Samuel dia tidak terlalu nyenyak tidurnya.
Tapi sekarang, dia tidak perlu cemas pada Samuel. Hingga dia tidur dengan sangat pulas.
Tapi sayangnya kenyamanan itu tidak berlangsung lama, pintu kamar di ketuk beberapa kali, bukan di ketuk. Melainkan sudah seperti di gedor. Tadinya Naira mencoba menutupi telinganya dengan bantal agar suara itu tak terdengar. Tapi ternyata percuma saja, suara lebih kerasa lagi baru saja dia dengar.
Naira segera melempar bantalnya lalu turun dari tempat tidur nya, kamar hotel ini mempunyai lubang kaca yang hanya bisa mengintip dari dalam. Dan sebelum membuka pintu, untuk berjaga-jaga Naira mengintip terlebih dahulu siapa yang ada di luar.
Naira terkejut, karena ada tiga orang di depan pintu, dan satu orang yang sangat dia kenal.
"Tuan!" gumam Naira lalu dengan cepat membuka kunci pintu kamar.
Setelah Naira membukakan pintu kamarnya, dua orang petugas hotel pria langsung membawa Samuel masuk dengan memapah di kanan dan kiri Samuel. Sementara seorang lainnya membawakan koper Samuel.
Naira tampak terkejut, dia begitu panik. Dia lalu berlari kearah tempat tidur dan menyiapkan bantal untuk Samuel dan menyingkirkan selimut tebal yang tadi dia gunakan.
"Tolong baringkan disini!" ucap Naira pada kedua petugas yang tadi membantu Samuel.
Mereka berdua membaringkan Samuel di tempat tidur, sementara salah seorang lainnya meletakkan koper di dekat lemari.
"Nyonya, kata supir tuan Samuel mabuk di club. Dia membuat keributan, dan ini kartu tuan Samuel!" ucap petugas hotel itu sambil menyerahkan sebuah kartu berwarna gold pada Naira.
"Terimakasih banyak, maaf sudah merepotkan!" ucap Naira sebelum ketiga orang petugas hotel itu pergi meninggalkan kamar Naira.
Setelah mengunci pintu kamar, Naira kembali melihat keadaan Samuel. Naira melepaskan sepatu yang Samuel pakai, juga kaos kakinya. Lalu Naira meletakkan dua benda itu di rak yang sudah tersedia di dekat pintu kamar. Naira kembali lagi melihat keadaan Samuel yang tidak sadarkan diri.
"Tuan, apa yang terjadi? bukankah seharusnya kamu sedang merayakan ulang tahun pacar mu itu." gumam Naira di sisi tempat tidur Samuel.
Naira berdiri dan melihat berapa Samuel sepertinya sangat sedih. Dia bahkan bisa melihat bekas air mata di wajah putih Samuel.
__ADS_1
Meskipun penasaran tapi Naira juga tidak mau ambil pusing, dia memilih untuk melanjutkan tidur nya di sofa. Dia meraih bantal dan juga selimut dari atas tempat tidur dan membawanya ke sofa panjang yang ada di depan meja televisi. Naira memilih untuk tidur disitu. Tapi baru saja dia akan memejamkan matanya dia mendengar suara benda terjatuh.
Prang
Suara benda pecah terdengar di telinga Naira, membuatnya langsung bangun dari tidur nya, dengan posisi duduk dia melihat ke arah tempat tidur Samuel. Gelas dan juga sebuah hiasan meja yang terbuat dari kaca telah jatuh berantakan di lantai. Dan Samuel sedang berusaha untuk berdiri. Naira berfikir mungkin saja Samuel mau ke toilet tapi karena dia mabuk, mungkin Samuel butuh bantuan untuk berjalan ke toilet.
Naira berinisiatif untuk membantu Samuel, dia berdiri dan berjalan dengan cepat menghampiri Samuel.
"Tuan, ada yang bisa ku bantu?" tanya Naira pada Samuel.
Samuel yang setengah sadar menoleh melihat ke arah Naira.
"Perempuan pengkhianat!" pekik Samuel sambil melemparkan bantal ke arah Naira.
Bukh
"Aduh!" pekik Naira kaget.
'Perempuan pengkhianat? apakah Caren mengkhianati Samuel?' tanya Naira dalam hatinya
Naira yang awalnya kesal jadi sangat kasihan pada Samuel. Dia tidak menyangka kalau Caren bisa melakukan itu. Naira mengira mereka bahkan rela mati demi satu sama lain. Tapi ternyata hanya Samuel yang mampu melakukan itu. Naira benar-benar merasa kasihan pada pria yang sedang patah hati di depannya itu.
"Tuan, tenanglah. Semua pasti akan baik-baik saja. Tuan sebaiknya kembali istirahat!" ucap Naira dengan suara pelan dan juga hati-hati. Dia tidak mau sampai menyinggung Samuel.
Dan benar saja, setelah Naira mengatakan kalimat itu padanya, mata tajam Samuel menatap ke arah Naira.
Naira terkesiap, dia bahkan memundurkan langkahnya karena takut akan tatapan kemarahan Samuel itu. Naira menelan saliva nya dengan susah payah, ketika Samuel malah bangun dan berjalan dengan sempoyongan ke arahnya.
"Kamu berani memerintah ku hah!" bentak Samuel.
__ADS_1
"Tu... tuan maaf. Aku tidak berani. Maaf!" ucap Naira tergagap, jantungnya saat ini sudah berdetak sangat kencang karena cemas dan takut disaat yang bersamaan.
Samuel masih tetap melangkah maju, membuat Naira juga semakin mudur ke belakang.
Tapi kemudian Naira terkejut karena Samuel tiba-tiba berhenti dan menundukkan kepalanya. Naira memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Samuel sambil terus waspada, dia juga tidak berani mendekat.
Tapi tak lama dia mendengar suara isakan dan melihat air mata Samuel yang terus terjatuh setetes demi setetes ke lantai. Naira membelalakkan matanya, dia tak percaya pria yang begitu arogan, sombong dan keras kepala seperti Samuel bisa menangis dan itu karena seorang wanita.
Tapi Naira menyadari kalau wanita yang bernama Caren itu sangatlah berharga bagi Samuel, Naira mengingat lagi betapa Samuel berkorban banyak hal demi dirinya, membohongi keluarga nya. Meninggalkan semua pekerjaan nya, bahkan sampai menikah kontrak dengan nya hanya karena ingin hubungannya dengan wanita itu tidak di ketahui oleh ibunya.
Naira makin tercengang, ketika Samuel jatuh berlutut di depannya.
"Kenapa Caren, kenapa?" gumam Samuel terus bertanya pada hatinya kenapa Caren bisa melakukan pengkhianatan itu padanya.
Naira bingung harus berbuat apa, akhirnya dia berjalan perlahan mendekati Samuel dan ikut bersimpuh di depannya, Naira mencoba untuk memberanikan dirinya untuk menepuk bahu Samuel. Ayahnya juga selalu melakukan itu untuk menenangkan Naira ketika dia merasa sedih dan kecewa.
"Tuan... menangis lah, setidaknya hal itu akan membuatmu merasa sedikit lega!" ucap Naira lembut.
Samuel mengangkat wajahnya, apa yang dilakukan oleh Naira ini adalah hal yang sama ketika pertama kali bertemu dengan Caren, wanita itu juga datang ketika Samuel sangat rapuh dan terluka, ketika baru pertama kuliah dulu, dia tidak sekuat sekarang. Dan saat dia di bully oleh teman-temannya, Caren datang dengan cara yang sama seperti ini. Dia menepuk bahu Samuel dan menyemangati nya.
Mengingat kejadian itu membuat mata Samuel makin merah karena amarah. Dia mendorong Naira hingga Naira yang tidak siap pun terjatuh ke lantai dengan keras.
Brukk
"Aghk!" pekik Naira merasa sakit di punggungnya.
Naira segera menoleh ke arah Samuel yang makin mendekatinya dengan wajah yang begitu marah, bahkan Naira bisa mendengar Samuel mengerekatkan giginya sangking emosinya.
***
__ADS_1
Bersambung...