Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
136


__ADS_3

Aku dan Samuel berjalan-jalan di sebuah roof top yang seperti taman bunga minimalis di lantai paling atas hotel ini.


Aku juga tidak tahu kenapa pria ini mengajakku kemari, padahal ini juga sudah larut malam. Sepanjang jalan dia juga menggandeng tangan ku, padahal disini tidak ada orang lain. Hanya dua orang penjaga yang menjaga di pintu keluar menuju ke taman ini.


"Kita duduk di sana!" ajaknya.


Aku mengangguk setuju, dan kami pun menuju ke sebuah kursi taman yang unik. Karena terbuat dari kayu yang berukir sangat indah. Lampu-lampu taman juga di buat tidak terlalu terang. Membuat suasana sangat tenang dan nyaman.


Saat kami sudah duduk, Samuel melepaskan tangan ku yang rasanya sudah sangat kebas karena sejak pergi dari restoran tadi dia tidak melepaskan nya.


"Bukan kah dia terlihat menyedihkan?" tanya Samuel sambil menundukkan kepalanya dan melihat ke arah sebuah bunga berwarna biru di tengah bunga berwarna ungu.


Aku mengernyitkan dahi ku, aku merasa bunga itu tidak menyedihkan. Itu justru terlihat sangat unik dan dia jadi semakin terlihat mencolok. Tapi aku takut salah bicara, masalahnya Samuel tidak pernah memperhatikan hal-hal semacam itu kan.


Saat aku masih diam, Samuel terlihat menghela nafas berat. Seperti ada beban berat di pundaknya.


"Dia bahkan lebih kurus sekarang!" ucapnya dengan nada sangat lirih.


Aku terkejut saat dia bilang kata kurus, ternyata aku salah. Samuel tidak sedang bicara tentang bunga yang dia pandang. Tapi dia sedang bicara tentang Caren. Dia terlihat kurus dan menyedihkan. Itu pas sekali dengan keadaan Caren.


Aku merasa hatiku terasa sakit mendengar itu. Entah kenapa, tapi aku benar-benar ingin menangis mendengar Samuel masih perduli pada mantan kekasihnya itu. Aku menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan nya perlahan.


Apa yang aku pikirkan, aku memang hanya istri kontrak nya, apa yang aku harapkan. Apa mungkin Samuel akan mencintai ku, itu tidak mungkin. Aku berusaha menyembunyikan kesedihan ku dan coba untuk tersenyum agar aku tidak menangis.


Aku kembali melihat ke arah Samuel, dan masih sama. Dia masih terlihat sedih. Aku juga tidak ingin mengatakan apapun. Dan seperti inilah kami selama beberapa menit, diam dan tidak saling bicara. Juga tidak saling memandang, kami larut dalam pikiran kami masing-masing.


Aku memikirkan tentang masa depanku setelah ini.


'Tidak buruk Naira, menjadi mantan istri seorang Samuel Virendra pasti tidak buruk. Tapi kenapa aku ingin menangis!' gumam ku dalam hati.


"Mas, aku akan kembali ke kamar!" ucap ku pada Samuel karena aku benar-benar sudah tidak tahan lagi ingin menangis.


Ketika aku berdiri dan akan melangkah, Samuel menarik pergelangan tangan ku.


"Apa kamu cemburu aku mengatakan kata-kata seperti itu tentang Caren?" tanya nya kemudian.


Samuel bahkan mengatakan itu dengan wajah yang begitu datar dan tanpa ekspresi, aku tidak tahu dia sedang memikirkan apa. Ingin sekali aku mengangguk, tapi aku tidak punya hak untuk merasakan perasaan cemburu pada Samuel bukan.

__ADS_1


Aku langsung menggelengkan kepala ku dengan cepat.


"Tidak mas, aku tidak cemburu. Bukankah mas memang sangat mencintai nya, wajar kalau mas perduli padanya! aku akan kembali ke kamar!" ucapku.


Samuel melepaskan tangan ku dan tidak berkata apapun lagi. Aku berbalik dan langsung melangkahkan kakiku dengan cepat menuju ke pintu masuk hotel. Aku sudah tidak tahan lagi ingin menumpahkan air mata yang sejak tadi aku tahan.


Kenapa semua ini terasa menyakitkan di hatiku, kenapa mengetahui kalau Samuel masih perduli pada Caren membuat ku merasa sangat tidak terima. Apa yang aku pikirkan, aku ini siapa? dia itu siapa? kenapa aku harus merasakan perasaan seperti ini.


Aku setengah berlari menuju ke arah kamar ku.


Brukk


Aku merasa tengah menabrak seseorang. Tapi saat aku akan terjatuh, aku merasa seseorang memegang pinggang ku dan menahan ku agar tidak jatuh. Aku melihat ke atas dan ternyata...


"Kenzo!" ucap ku lalu segera membenarkan posisi berdiri ku dan menjauh darinya.


"Naira, apa yang terjadi? kenapa terlihat terburu-buru begitu?" tanya nya.


Aku yang langsung tersadar dari rasa terkejut langsung terpikirkan satu alasan yang masuk akal kenapa aku terburu-buru seperti itu.


"Em, aku mencari toilet. Aku tidak tahu Diaman toiletnya, jadi...!"


"Em, aku akan kembali ke kamar saja!" ucap ku sambil berjalan.


"Aku akan curiga kalau sebenarnya kamu tidak sedang mencari toilet jika menolak bantuan ku!" ujar Kenzo membuat aku segera menghentikan langkah ku.


Aku berbalik dan menatap kesal padanya.


'Ih, ni orang jeli banget sih!' keluh ku dalam hati.


"Ya sudah, dimana toiletnya?" tanya ku pada Kenzo.


"Silahkan, sebelah sini!" ucapnya sambil mengarahkan tangannya ke arah yang bersebrangan dengan arah menuju ke kamar ku.


Aku berjalan ke arah yang di tunjukkan oleh Kenzo. Dan benar saja, toiletnya memang sangat dekat.


"Terimakasih!" ucap ku lalu langsung masuk ke dalam toilet khusus wanita.

__ADS_1


Aku melihat ke arah cermin besar yang ada di depan ku. Aku sudah tidak sedih lagi seperti tadi. Aku menghela nafas dan membasuh wajah ku dengan air dan menyekanya dengan tissue yang ada di di ruangan itu. Aku menghela nafasku panjang.


"Naira, ini baru satu bulan lebih, kalau kamu baper! kamu pasti bakalan makan hati terus menerus. Samuel itu, si lidah tajam itu kan memang sukanya sama Caren. Kamu jangan mimpi dia perduli sama kamu! yok bisa yok tinggal kurang dari sebelas bulan lagi! yok bisa yok!" aku terus bergumam di depan cermin.


Aku memberikan semangat untuk diriku sendiri. Dan setelah aku merasa sudah baikan, aku keluar dari dalam ruangan toilet.


Dan betapa terkejutnya ketika aku keluar, pria yang tadi menunjukkan jalan padaku masih berdiri sambil menyandarkan lengan nya di dinding sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kamu ngapain masih disini?" tanya ku heran.


"Tadinya aku mau pergi, tapi aku mendapatkan sebuah kabar, dan aku rasa kamu juga harus melihatnya!" jawab Kenzo membuatku penasaran.


Tapi setelah aku pikir lagi, aku tidak perlu tahu hal itu.


"Tidak perlu, aku ngantuk. Aku mau kembali ke kamar ku dan istirahat. Mas Sam, pasti sudah menunggu ku!" ucapku sambil melangkah melewati nya.


"Sayangnya suamimu itu tidak ada di kamar!" serunya membuat ku menghentikan langkah ku.


Dia berjalan menghampiri ku dan berada di depan ku.


"Suami mu tidak ada di kamarnya. Karena dia sedang bersama dengan seseorang yang masih sangat dia cintai, ikuti aku kalau kamu tidak percaya!" ucapnya lalu berjalan ke arah taman di roof top tadi.


Aku menelan saliva ku dengan susah payah. Aku sangat berharap apa yang dikatakan Kenzo itu tidak benar. Aku makin merasa tidak nyaman dalam hatiku.


Seharusnya aku pergi dan tidak mengikuti Kenzo, tapi kaki ku malah perlahan melangkah mengikuti Kenzo.


Kami sudah ada di dinding kaca yang bisa memperlihatkan pemandangan yang ada di luar, pemandangan di taman bunga itu.


Kenzo berhenti, dan aku juga berhenti. Tangan Kenzo kemudian terangkat perlahan dan menunjuk ke arah luar. Aku mengikuti arah tangan Kenzo.


Deg


Jantungku nyaris berhenti berdetak melihat pemandangan di depan ku. Samuel sedang memeluk Caren dengan begitu erat.


Tes tes


Tanpa terasa air mataku menetes begitu saja. Rasanya sangat sakit melihat Samuel memeluk Caren dan mengelus punggung wanita itu dengan lembut seperti itu.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2