
WARNING AREA 21+
MOHON BIJAK DALAM MEMBACA, DALAM BAB INI ADA SEDIKIT ADEGAN KEKERASAN.
JADI BUAT BOCIL, SKIP AJA YA.
***
Sementara itu Naira sudah mulai melakukan kegiatan yang biasa dia lakukan kalau sedang bekerja di toko buku. Dia merapikan beberapa buku sesuai dengan nama dan urutan nya. Sesekali dia melirik ke arah Mini yang sedang duduk di meja kasir yang sedang melayani para pelanggan yang akan membayar.
Naira terkekeh, karena Mini terus melihat ke arah Haris yang sedang sibuk mengoperasikan mesin fotocopy dan sesekali membantu orang-orang yang menyewa komputer jika kesulitan menggunakan aplikasi pada komputer.
'Kelihatannya mereka memang semakin dekat, aku bersyukur sekali. Aku tidak sabar menunggu kabar baik dari mereka berdua!' batin Naira yang ikut merasa bahagia atas kebahagiaan kedua sahabatnya.
Saat Naira sedang merapikan buku, tiba-tiba saja ada beberapa orang yang masuk ke dalam toko buku itu. Mereka berpakaian hitam-hitam, dengan jaket dan tampang yang menyeramkan.
"Selamat datang...!"
Mini tidak jadi meneruskan apa yang dia ucapkan karena saat dia menoleh ke arah pintu, Mini yang berniat menyapa para pelanggan malah jadi ketakutan ketika melihat orang-orang yang datang itu. Mereka berjumlah Lima orang, dengan dia orang berbadan kekar berdiri paling depan dan tiga lainnya yang berbadan kurus berasa di belakang.
"Haris!" teriak Mini ketika lima orang pria itu mendekati meja kasir Mini.
Brakk
Salah seorang menggebrak meja membuat Mini nyaris berjingkat ke belakang. Mini memegang dadanya dan melihat ke arah Haris yang sedang berjalan dengan cepat ke arahnya.
"Hei, kalian lagi. Kami sudah bilang kan, kami tidak akan..!"
Bughhh
Belum selesai Haris berkata kepada orang-orang itu wajahnya sudah lebih dulu dipukul oleh salah seorang pria berbadan kekar yang ada di hadapannya. Haris terhuyung jatuh ke lantai dan Mini pun langsung histeris berteriak.
__ADS_1
"Haris!" teriak Mini yang langsung berlari keluar dari meja kasir. Kemudian menghampiri Haris yang masih berusaha untuk bangkit berdiri sambil memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah.
Naira yang melihat hal itu tidak bisa tidak ikut campur. Dia menghampiri orang-orang itu dengan cepat, nyaris dia melupakan kalau sekarang dia sedang hamil dan dengan hal tinggi seperti itu, seharusnya dia tidak berjalan secepat itu.
"Siapa kalian? kenapa kalian memukul Haris?" tanya Naira kesal sambil membantu Haris dan juga Mini.
Salah seorang pria yang tubuhnya tidak kekar namun berwajah galak kemudian maju melihat Naira dari atas sampai bawah. Penampilan Naira memang semakin cantik saat dia menjadi nyonya Samuel, sekarang dia memakai celana panjang dan juga blouse, meski terkesan biasa namun itu adalah pakaian pemberian Samuel, pasti berbeda dan terlihat sangat elegan.
"Wah, nona cantik. Kenapa kamu berteriak-teriak begitu pada kami. Lebih baik kamu berteriak di atas...!"
Bugh
Belum selesai pria itu bicara, sebuah kursi sudah melayang ke arah nya. Dan membuat pria itu langsung terhuyung ke lantai sambil memegangi beberapa anggota badannya yang sepertinya terasa sakit karena lemparan kursi yang begitu keras. Sanking kerasnya lemparan kursi tersebut, kursi kayu itu sampai hancur menjadi beberapa bagian.
Semua mata pun akhirnya mengarah pada arah datangnya kursi tadi. Dan semua orang terkejut melihat seorang pria tampan dengan tinggi badan 180 cm, membuka jaketnya lalu melemparkan jaketnya itu ke sembarang arah.
"Mas!" lirih Naira yang begitu terkejut.
Mini dan Haris lalu saling pandang dan mendekati Naira. Sementara orang yang tadi terkena lemparan kursi telah di bantu dua orang temannya untuk bangun dan berdiri. Sambil menyeka darah yang mengalir di dahinya yang sobek akibat terkena lemparan kursi, pria itu me***** di depan Samuel.
"Cih, beraninya menyerang dari jauh. Hadapi aku kalau berani. Akan aku tunjukkan pada istri mu itu kalau kamu hanya lelaki lemah!" teriak pria hitam itu dengan begitu sombongnya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Naira.
Pria hitam itu tidak menyadari kalau apa yang dia lakukan sudah menyulut amarah dalam diri Samuel. Tanpa menanggapinya dengan perkataan, Samuel bahkan langsung melayangkan tendangan kaki kanannya yang begitu panjang ke arah perut bagian kiri si pria hitam.
Membuat pria itu menyemburkan air dari mulutnya.
"Sial!" teriak teman pria hitam itu yang lain dan segera menyerbu Samuel.
"Kalian menjauhlah, lindungi istriku!" seru Samuel melirik ke arah Haris dan Mini.
Haris dan Mini yang mendengar perintah Samuel segera mengajak Naira untuk menjauh dari tempat perkelahian yang sebenarnya tidak terlalu luas. Di depan meja kasir itu hanya tersedia space yang luasnya hanya 3×3 meter saja. Yang biasanya di pakai oleh para pelanggan untuk mengantri saat membayar.
__ADS_1
Ko Acong yang baru keluar dari toilet juga langsung menghampiri Mini dan Haris.
"Mereka lagi, cepat telepon polisi Haris!" seru ko Acong.
Dan Haris pun segera meraih ponsel yang ada di saku celana nya dan segera menghubungi polisi.
Sementara itu Naira terlihat sangat cemas karena suaminya sendiri melawan lima orang yang ada di depannya.
"Sudah ada ko Acong, Mini jaga Naira ya. Aku akan membantu suaminya!" seru Haris lalu maju dan meninggalkan Naira, Mini dan ko Acong yang berdiri dekat ruangan ko Acong sekitar 5 meter dari area perkelahian Samuel dan juga ke lima orang itu.
Samuel meninju dan menendang mereka dengan cepat, tapi karena dia kalah jumlah hampir saja salah seorang dari para penjahat itu memukul Samuel dari belakang dengan sebuah tongkat kayu yang biasa di pakai oleh Mini atau Naira untuk meraih buku yang letaknya ada di atas rak buku, yang letaknya tinggi dia atas.
Untung saja Haris datang di waktu yang tepat dan langsung menendang orang itu sehingga orang itu pun terjungkal dan tongkat kayu yang tadinya ingin dia pakai untuk melukai Samuel pun patah.
Samuel dan Haris bahu membahu untuk melawan ke lima orang itu. Hingga polisi datang dan menahan ke lima orang itu.
Setelah kelima orang itu di bawa oleh polisi, ko Acong dan yang lainnya juga di minta eh polisi untuk ikut ke kantor polisi untuk di mintai keterangan.
"Mini, kamu bisa tidak menutup toko ini sendirian?" tanya ko Acong yang sudah di tunggu oleh petugas.
Mini langsung mengangguk.
"Iya ko, bisa!" jawab Mini yang masih terlihat begitu gugup.
Setelah itu, ko Acong dan Haris ikut mobil polisi untuk pergi ke kantor polisi. Dan Samuel juga Naira mengendarai mobil mereka. Di perjalanan menuju ke kantor polisi, Samuel berusaha menghubungi Riksa, tapi tidak ada jawaban.
"Ada apa mas?" tanya Naira yang melihat kalau suaminya sedang gelisah.
"Riksa tidak mengangkat telepon nya, dimana dia?" tanya Samuel kesal.
***
__ADS_1
Bersambung...