Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
291


__ADS_3

Di tempat lain, Samuel juga sedang bersama dengan anak buahnya menggunakan dua buah mobil minibus yang mereka sewa menuju ke sebuah kediaman yang mereka yakini adalah kediaman Jonathan yang mereka maksud. Mereka berhasil menemukan kalau Jonathan yang mereka maksud itu adalah putra tunggal keluarga Johnson. Pengusaha yang cukup terkenal dan di segani. Samuel dan anak buahnya sudah mengeceknya beberapa kali.


"Aku bilang tidak usah ikut, kenapa tidak mau dengar?" tanya Samuel pada Riksa yang duduk dengan keadaan yang masih memejamkan matanya berusaha menahan rasa sakit akibat luka di seluruh tubuhnya. Rasa sakit paska luka itu di jahit lebih sakit daripada sebelum di jahit dan di beri obat.


Riksa hanya tersenyum.


"Aku tidak mau sampai Puspa merasa bos adalah pahlawan nya, dan bukan aku!" kelakar Riksa.


"Hei, aku ini memang pahlawan nya. Memang apa yang sudah kamu lakukan, hanya meminta bantuan ku dan berbaring. Aneh!" ucap Samuel dengan nada yang begitu terdengar kasar.


Membuat Eka dan yang lain yang berada satu mobil dengan Samuel hanya bisa saling pandang dan memegang kening mereka. Sementara Riksa yang sudah biasa mendengar kata-kata kasar Samuel itu malah terkekeh kecil.


Saat mereka tiba di depan pintu gerbang kediaman Jonathan Johnson yang ternyata lebih besar daripada kediaman Virendra. Eka dan yang lain sedikit tertegun menunjukkan kekaguman mereka.


"Sial, kenapa rumahnya lebih bagus daripada rumah ayah ku!" gerutu Samuel.


Mendengar Samuel menggerutu lagi-lagi Riksa malah terkekeh.


"Mereka tidak mau membuka gerbang bos!" kata Arman, salah satu anak buah Samuel.


"Tabrak saja gerbangnya!" perintah Samuel tanpa berpikir lagi.


"Tunggu bos, ini negara orang. Jangan lakukan itu, kita turun saja bos, bicara baik-baik pada Jonathan. Kata Puspa dia sebenarnya orang baik!" sela Riksa sebelum Arman melangkah meninggalkan mereka untuk melaksanakan perintah Samuel.


"Ck... kenapa dulu aku tidak berpikir untuk menjadi WNA saja!" gerutu Samuel lagi lalu turun dari dalam mobil.


"Eka, Arman bantu Riksa turun dari mobil. Yang lain tunggu saja di depan gerbang sini. Kalau aku menghubungi kalian, artinya kalian harus masuk. Tabrak saja jika gerbangnya di tutup lagi. Mengerti!" tegas Samuel dan semua anak buahnya pun mengangguk paham.


Samuel berjalan di depan, dan Riksa, Eka dan Arman berada di belakang Samuel.

__ADS_1


"Hei, katakan pada Jonathan Johnson atau Putra Gunawan, Samuel Virendra ingin bertemu dan bicara dengan mereka!" seru Samuel tanpa basa-basi pada penjaga gerbang berbadan kekar yang tadi tidak mau membukakan pintu saat Arman minta untuk masuk.


"Hanya dua orang saja yang bisa masuk!" jawab penjaga gerbang itu setelah menghubungi seseorang dengan HT yang dia pegang.


"Sial!" pekik Samuel.


"Bos, kita saja yang masuk ke dalam!" ucap Riksa.


"Memangnya kalau ada seratus orang di dalam kamu bisa membantuku menghadapi mereka, Arman kamu ikut dengan ku...!"


"Bos...!"


"Hei, Arman itu guru karate dan ahli senjata. Aku tidak mau masuk dengan mu dan hanya mengantarkan nyawa, aku masih ada istri yang cantik sedang menungguku pulang, sebentar lagi juga aku akan menjadi seorang ayah. Sudah diam dan tunggu saja di mobil!" tegas Samuel membuat Riksa terdiam.


Dia sangat ingin bertemu dengan Puspa, tapi apa yang dikatakan oleh Samuel juga benar. Samuel akan lebih bisa mengandalkan Arman daripada dirinya kalau masalah perlindungan diri.


Dengan langkah tidak bersemangat, Riksa pun berbalik dan berjalan masuk kembali ke dalam mobil, Eka juga hanya mengikuti nya.


Saat Samuel dan Arman masuk, kebetulan beberapa pelayan sedang menurunkan beberapa barang yang terbakar dari lantai dua ke arah belakang rumah Jonathan.


'Kurasa aku tahu siapa yang menyebabkan banyak benda itu terbakar!' batin Samuel.


Samuel telah bisa menebak kalau semua kekacauan itu adalah hasil perbuatan dari sahabat nya Puspa.


"Selamat datang tuan Samuel Virendra, aku tidak menyangka CEO terkenal seperti anda bisa mampir ke rumah ku yang kecil ini, sedang liburan kah?" tanya Derek Johnson, ayah Jonathan yang menyambut kedatangan dari Samuel Virendra.


"Terimakasih tuan Johnson, tapi aku rasa anda juga sudah tahu apa tujuan ku kemari. Aku tidak ingin berbasa-basi tuan Johnson, Puspa sama sekali tidak mau menikah dengan Jonathan, dan aku mau mengajak sahabat ku itu pulang!" jelas Samuel tanpa rasa takut ataupun keraguan sama sekali meskipun dia sedang bicara dengan seseorang di negara asing dan orang itu termasuk orang yang sangat di segani.


Derek Johnson tertawa mendengar apa yang disampaikan oleh Samuel padanya.

__ADS_1


"Nak, apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan. Kamu sadar tidak kalau saat ini kamu seperti seekor tikus di sarang ular besar. Kamu terlalu menilai tinggi dirimu Samuel!" ucap Derek yang mulai menunjukkan ekspresi wajah yang tidak bersahabat pada Samuel.


"Aku sudah menyampaikan maksud kedatangan ku, apakah anda pikir aku datang tanpa persiapan. Aku juga sudah melaporkan kedatangan ku pada KBRI. Dan aku juga sudah mengatakan pada anak buah ku untuk masuk dengan paksa jika aku tidak keluar dalam lima menit. Aku ini seorang pengusaha tuan Johnson, memikirkan untung rugi dan membuat perhitungan adalah keahlian ku!" ucap Samuel begitu percaya diri membuat Derek Johnson menggerakkan giginya karena kesal.


"Samuel!" teriak Puspa yang langsung berlari dari sebuah kamar menuju ke arah tangga untuk turun dan menemui Samuel.


Namun sebelum Puspa bisa menuju tangga, Mega menghadangnya.


"Jangan berpikir untuk melangkah lebih jauh Puspa!" seru Mega dengan wajah tegas.


"Ibu, sebaiknya biarkan aku pergi jika tidak ingin terjadi keributan dan perkelahian lagi!" balas Puspa.


Mega malah langsung memegang pergelangan tangan Puspa dan menariknya kembali menuju kamar dimana tadi dia keluar.


Jonathan juga ikut masuk bersama dengan para penjaganya yang berbadan besar, kekar dan berotot.


"Kalau begitu kita buktikan saja, apakah kalian bisa membawa Puspa keluar dari rumah ini!" tantang Jonathan yang merasa kalau sudah tidak ada lagi hal yang perlu di bicarakan lagi.


"Begitulah, baiklah!" sahut Samuel lalu meraih ponselnya dan menekan angka 8 disana.


Tak lama setelah Samuel menekan tombol di layar ponselnya terdengar suara yang begitu keras dari arah depan kediaman Johnson.


Jonathan langsung mengepalkan tangannya dan maju ke arah Samuel, tanpa basa-basi Jonathan langsung melayangkan tinjunya pada Samuel, dan dengan sigap Samuel mengelak dan menahan tangan Jonathan lalu menguncinya di belakang punggungnya sampai terdengar suara.


Krek


"Jonathan!" pekik Derek yang begitu terkejut melihat apa yang terjadi pada putra tunggalnya itu.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2