
Aku masih bengong di tempat ku berdiri, apa-apaan Samuel itu. Aku kan minta ke rumah ayah itu untuk bisa menjauh sebentar saja darinya, kenapa malah dia ikut menginap disini sih. Lalu apa bedanya nanti, dia juga tetap akan menyuruh ku macam-macam kan.
"Naira, cepat masuk! buatkan minum untuk nak Samuel. Ibu masih di sekolah!" seru ayah.
Dan perkataan Ayah barusan membuatku tersadar dari lamunanku. Aku langsung masuk ke dalam sambil membawa paper bag yang berisi pakaian ganti ku.
Aku masuk ke dalam kamar setelah orang-orang dari toko furniture itu keluar dari kamar. Aku terkejut bukan main, tidak hanya tempat tidur, bahkan lemari juga sudah berubah. Meja rias ku yang minimalis sekarang lebih besar, Lalu lemari kayu buatan ayah dulu juga sudah berubah menjadi lemari kayu ukiran yang besar dan terkesan mewah. Bahkan ruangan ini penuh hanya dengan tiga benda itu, space dari meja rias dengan tempat tidur benar-benar sangat sempit, bahkan kursi pun tak akan muat di sana.
Kipas angin bahkan di letakkan di belakang pintu kamar.
"Pantas saja pintu kamarnya susah di dorong!" gumam ku lalu meletakkan dua buah paper bag itu di atas tempat tidur.
Kemudian aku keluar dari dalam kamar dan menuju ke arah dapur, aku tidak melihat ayah dan juga Samuel mungkin mereka sedang berjalan jalan di belakang rumah yang ada sebuah kolam ikan kecil dan kebun milik tetangga ku.
Aku membuatkan 3 gelas air sirup dingin, karena para pekerja dari toko furniture sudah pulang setelah membereskan barang-barang. Aku letakkan minumannya di atas meja ruang tengah yang juga adalah ruang televisi. Setelah itu aku mencoba untuk mencari barang-barang yang sudah dikeluarkan dari kamarku, tapi saat aku mencarinya di depan rumah barang-barang itu sudah tidak ada.
Aku akhirnya memutuskan untuk melihat di belakang rumah, dan ketika sudah berada di belakang rumah pun barang-barang itu juga tidak ada. Bukan hanya barang-barang yang aku cari tapi ayah dan Samuel juga tidak ada di sana.
"Kemana mereka?" tanya ku sambil celingak-celinguk ke sana ke mari.
Aku tidak melihat mereka dimana pun, tapi kurasa Samuel tidak akan kesasar disini karena ayah kan bersamanya. Aku kembali ke belakang rumah karena ingin mengambil sapu untuk menyapu kamar ku, dan tanpa sengaja aku mendengar beberapa tetanggaku sedang bergosip. Mereka bergosip di gang kecil yang ada di samping pagar pembatas kebun milik tetangga ku.
"Ih, beneran tadi tuh saya mah liat artis di rumah pak RT, meunih ganteng pisan eta. Masih bujangan atau sudah punya istri ya?" ucap seorang ibu berkerudung ungu.
"Yang bener, di komplek kita kedatangan artis gitu? oppa oppa apa bule?" tanya Bu Saodah.
__ADS_1
"Kayaknya sih blasteran gitu, soalnya rambutnya hitam dan dia itu ngomongnya pakai bahasa indonesia, aduh sayang ya si Euis mah masih SMA, coba sudah lulus. Saya mah gak nolak loh kalau dia mau jadi mantu saya!" ujar ibu berkerudung ungu itu lagi.
Aku masih belum jelas siapa ibu yang memakai kerudung warna ungu itu, karena dia berdiri membelakangi ku. Yang aku lihat hanya Bu Saodah, tetangga ku yang paling up to date kalau masalah gosip, tapi sebenarnya dia sangat baik.
Aku sepertinya tahu siapa yang sedang ibu itu bicarakan. Dia pasti Samuel.
"Oh, rupanya ayah mengajaknya ke rumah pak RT" gumam ku lalu kembali ke dalam rumah lalu melanjutkan apa yang ingin aku kerjakan.
Di komplek perumahan ini memang ada aturan ketatnya, jika ada tamu dari salah satu warga yang sekiranya akan menginap atau tinggal sementara di komplek ini maka dia harus melapor dulu pada Pak Amir, ketua RT 010 di komplek perumahan ini.
Aku masih membereskan kamar ku, setelah selesai menyapu kamar aku memutuskan untuk memasang sprei untuk tempat tidur. Dan aku mencari sprei itu di lemari, karena aku yakin ayah sudah memindahkan isi lemari lama ku ke dalam lemari yang baru bukan.
Tapi lagi-lagi aku terkejut setelah membuka lemari baru ini.
Aku melihat baju-baju Samuel dari rumah lama, dan beberapa baju baru dan baju ku tadi yang kami beli di mall sudah tergantung di dalam lemari. Aku mengusap wajah ku kasar, dengan pakaian sebanyak itu apa pria itu ingin tinggal sebulan disini.
Aku hanya bisa mendengus kesal lalu meraih sprei dan memasangnya di tempat tidur. Aku juga baru menyadari kalau bantal dan guling nya juga baru, aku tidak habis pikir kalau memang dia ingin membuang-buang banyak uang seperti ini kenapa dia tidak menghapus saja hutang ku.
Aku memasang sarung bantal sambil terus memikirkan sikap Samuel beberapa hari ini. Aku merasa kalau dia kadang terlihat begitu perduli, tapi beberapa saat kemudian sikapnya berubah lagi.
"Hei, ambilkan handuk! aku mau mandi!" sebuah suara membuat ku terkesiap dan refleks langsung melihat ke arah belakang.
'Apa ku bilang, barusan aku pikir dia sudah mulai perhatian. Dan panggilan 'hei' itu pun keluar lagi. Memangnya susah ya kalau sebutkan saja namaku, Naira begitu!' omel ku dalam hati.
Tentu saja aku hanya berani mengomel dalam hati. Jika tidak, huh... hutang akan bertambah lagi. Meskipun sambil ngedumel sendiri, aku meninggalkan pekerjaan yang sebelumnya aku kerjakan dan berjalan menuju lemari dan mengambilkan sebuah handuk bersih untuk Samuel.
__ADS_1
Dia terlihat sedang melepaskan jam tangan dan mengeluarkan dompetnya dari kantong celananya.
"Ini mas!" ucap ku sambil menyodorkan handuk itu padanya.
Dia menoleh sekilas lalu bertanya,
"Kamu tidak mandi?" tanya nya tanpa melihat ke arah ku.
"Kan mas mau mandi, aku nanti setelah mas!" jawab ku pelan.
"Aku sudah lihat kamar mandi nya, aku tidak tahu caranya mandi di kamar mandi yang seperti itu, kamu ajari aku dulu!" seru nya.
Dan apa yang dia katakan ini menurut ku sangat dibuat-buat. Apa mungkin ada orang yang seumur hidupnya tidak pernah melihat kamar mandi dengan bak mandi dan gayung sebagai alat untuk mengambil airnya.
Tapi setelah ku pikir lagi, itu mungkin saja bagi Samuel. Karena di rumahnya memang tidak ada gayung di kamar mandi. Lalu di kantor toiletnya juga toilet duduk dan juga tidak ada bak mandi dan gayung. Lalu dia kan terbiasa tinggal di hotel, lalu di hotel juga sama dengan di rumahnya dan di kantor kamar mandinya.
"Mas tinggal mengambil air dengan gayung saat akan membasahi badan mas sebelum di sabun...!"
Aku baru saja ingin menjelaskan caranya, dan dia sudah menarik tangan ku membuatku berhenti bicara.
"Ck... tidak usah pakai teori, langsung praktek saja!" serunya dan menarik ku ikut masuk ke dalam kamar mandi.
***
Bersambung...
__ADS_1