
Rasa haru dan sedih tetap saja menyelimuti hati dan perasaan ku, meskipun aku menyadari kalau ini hanya sebuah permainan bagi Samuel. Tapi bagiku ini adalah pernikahan yang sebenarnya. Aku menjalani nya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan dalam hatiku. Aku bahkan berjanji pada diriku sendiri kalau aku benar-benar akan berbakti sepenuh hati pada suami ku ini.
Aku sudah berulang kali menangis, Puspa terus saja menghapus air mataku dengan tissue dan selalu berada di sampingku. Sering kali dia mengusap punggung dan lengan ku dengan lembut saat aku menangis.
Acara selanjutnya adalah prosesi meminta restu, dan aku menangis sampai terisak. Aku sungguh baru menyadari kalau selama dua puluh tahun hidupku ini, aku belum bisa memberikan hal yang berarti pada kedua orang tua ku. Selama dua puluh tahun ini mereka yang selalu ada merawat ku, menjagaku, memberikan aku makan, pakaian dan tempat tinggal, memberiku perlindungan, dan memberi semangat. Aku sangat sedih, hingga rasanya aku tak ingin beranjak dari hadapan ibu dan ayah ku.
Puspa kembali mendekati ku.
"Nai, ayo bangun sekarang kamu harus meminta restu pada ayah dan ibu mertua mu!" seru nya pelan berbisik di telinga ku.
Aku langsung bangun di bantu oleh Puspa, dan aku segera beranjak ke arah ke dua mertua ku yang sepertinya juga sedih melihat ku menangis seperti tadi. Namun saat berpapasan dengan si lidah tajam. Dia bahkan masih saja memakai lidahnya untuk mengatakan kalimat yang tidak enak di dengar di saat seperti ini.
"Dasar cengeng!" bisik Samuel di telinga ku.
Aku hanya diam, tidak ingin meladeni pria yang tidak punya hati ini. Aku duduk bersimpuh dengan tumpuan lutut ku (seperti posisi orang yang sedang sungkeman pada umumnya ya).
Aku melipat tangan ku dan menyatukan nya dengan ibu Stella. Pengarah acara sudah mengajarkan apa yang harus aku katakan dan aku mengikuti apa yang di ajarkan oleh pengarah acara.
"Ibu, a... aku meminta restu da... dari ibu sebagai orang yang telah begitu berjasa melahirkan pria yang mu... mulai saat ini telah menjadi su...amiku..!"
"Naira sayang!" sela ibu Stella.
Sepertinya ibu Stella sangat mengerti apa yang aku rasakan, dia menyela apa yang ingin aku katakan. Karena aku mengucapkan kalimat itu sambil sesenggukan, aku benar-benar tidak bisa mengucapkan kalimat yang sudah diajarkan dengan benar.
"Ibu dan ayah sangat merestui ku, kami sangat menyayangi mu. Mulai sekarang anggaplah kami juga orang tuamu. Jika Samuel melakukan kesalahan dan membuat mu menangis maka jangan ragu untuk memberitahu kami, jika dia mengkhianati mu maka dia sama saja mengkhianati kami. Tersenyum lah, nak. Pernikahan ini harus membawa kebahagiaan bagimu bukan kesedihan!" ucap ibu Stella dengan mata yang berkaca-kaca.
Dia bahkan langsung memelukku. Meskipun pakaian yang kami kenakan sedikit menyulitkan kami. Ayah Damar bahkan ikut memelukku dan juga ibu Stella.
Aku melihat ke arah ayah dan ibuku yang juga menangis dengan senyuman ketenangan saat melihat ini. Aku tahu mereka lega, karena ayah dan ibu mertua ku terlihat sangat menyayangi ku.
__ADS_1
Acara sungkeman selesai, aku di ajak ke pelaminan oleh Puspa kan setelah ini pengarah acara memperbolehkan keluarga dan teman dekat untuk memberi ucapan selamat dan berfoto bersama kami.
"Tidak penasaran apa yang ayah mu katakan padaku?" tanya Samuel dengan wajah sombongnya di depan ku setengah berbisik.
Aku sudah mulai kesal ya dengan orang ini, dia sejak tadi seperti sedang mencoba untuk menyulut emosi ku. Baiklah, aku akan katakan sesuatu yang membuatnya terkejut.
"Tuan juga tidak penasaran apa yang di katakan ayah Damar dan ibu Stella padaku?" tanya ku membalasnya.
Aku lihat Samuel mulai mengernyitkan keningnya.
"Hah, paling juga kami menyayangi mu, anggap kami sebagai orang tua mu, begitu kan?" tanya Samuel dan memang apa yang dia pikirkan itu benar.
Aku terdiam, bagaimana dia bisa dengan mudah menebaknya. Sedangkan aku tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh ayah padanya.
"Sudah bisa ku tebak, kalau jawaban ku benar kan?" tanya nya lagi penuh percaya diri.
Plak
Saat Riksa mengatakan kalimat itu dan belum menyelesaikan nya, Samuel malah memukul lengan Riksa dengan kuat.
"Jangan mengatakan hal-hal yang tidak mungkin, kamu yang paling tahu seperti apa pernikahan ini nantinya kan?" tanya Samuel pelan pada Riksa.
"Bos, aku kan hanya ingin memberimu selamat dan doa!" sanggah Riksa.
"Do'akan dirimu sendiri, carilah calon istri supaya tidak mengganggu hubungan orang lain!" celetuk Adam yang berdiri di belakang Riksa.
Aku hanya menatap Riksa, ingin tahu apa reaksinya. Dan seperti yang sudah ku duga, Riksa hanya diam saat Adam menghinanya.
'Sebenarnya ada masalah apa antara Adam dan Riksa?' tanya ku dalam hati.
__ADS_1
"Minggir, kalau sudah selesai!" lanjut nya lagi dan apa yang dikatakan nya itu membuat Riksa langsung maju dan pergi menjauhi kami. Aku bahkan masih melihat ke arahnya yang turun dari pelaminan dan pergi menjauh.
"Kakak ipar, jaga matamu. Kamu sudah punya suami. Jangan melihat laki-laki lain seperti itu, atau akan ada orang lain lagi yang lebih salah paham dariku!" ucap Adam padaku.
"Adam, aku dan Riksa...!"
"Sudahlah, ini hari pernikahan kakak mu Adam. Tidak mau memelukku dan mengucapkan selamat?" tanya Samuel menyela menyela lagi apa yang ingin aku jelaskan pada Adam.
Adam memeluk Riksa dan mengucapkan selamat padanya. Aku kesal sekali pada Kaka beradik ini.
Setelah semua acara yang melelahkan, aku kembali ke kamar ku. Masih ada acara resepsi jam delapan malam tadi. Dan masih ada satu jam, untuk kami makan malam dan kembali bersiap. Aku masuk ke dalam kamar di temani oleh Puspa.
"Apa kamu lelah?" tanya Puspa.
"Sedikit!" jawab ku berbohong. Karena sebenarnya aku sangat lelah. Tidak menyangka kalau menjadi pengantin itu bisa sangat melelahkan seperti ini.
"Baiklah, sekarang kita buka baju ini dan kita akan ganti kemeja dulu. Kita akan makan malam sebelum melanjutkan merias mu untuk acara resepsi!" ucap Puspa dengan sangat bersemangat. Padahal aku tahu dia sebenarnya juga sangat lelah.
Para pelayan hotel sudah mengantarkan makanan kami ke dalam kamar.
"Kemana Samuel? apa dia tidak makan?" tanya Puspa yang dari tadi tidak melihat keberadaan Samuel begitu pula dengan ku.
Aku hanya mengangkat bahuku dan mulai menyendok sup hangat yang rasanya sangat enak.
"Dimana sih dia? Nai kamu lanjut makan malamnya, aku akan cari dia dulu!" seru Puspa dan aku hanya mengangguk sekali sambil terus menyantap makanan hotel yang menurut ku sangat lezat.
***
Bersambung...
__ADS_1