
Sementara itu dalam keadaan kesal dan marah, Ema kembali keruangan nya. Dia melempar semua barang yang ada di atas mejanya.
"Menyebalkan, aku tidak pernah di hina seperti ini sebelumnya. Siapa juga yang mau menggoda Samuel!" keluh Ema membuat Dina terkejut ketika kembali ke ruangan sekertaris.
"Ada apa ini?" tanya Dina terkejut melihat beberapa barang Ema yang seharusnya berada di atas meja kerjanya sudah berserakan di lantai.
Ema lalu menoleh ke arah Dina dan memalingkan wajahnya lagi.
"Tidak apa-apa, aku akan panggil OB untuk membereskan semua ini!" ucap Ema yang langsung keluar dari ruangan sekertaris.
Dina yang memang tidak mengerti apa yang terjadi bertambah bingung saja. Tapi dia tidak mau ambil pusing atau ikut campur karena pekerjaan masih banyak sedang menunggunya.
Di dalam ruangannya, Samuel yang sudah tidak lagi berselera untuk makan siang meminta salah seorang OB membereskan semua makanan yang ada di atas meja dan meminta pada OB itu untuk membuang saja makanan itu karena sangat kesal dengan apa yang sudah terjadi.
Samuel kemudian duduk di meja kerjanya sambil berpikir. Istrinya tadi mengatakan kalau sekali lihat saja Naira sudah tahu kalau Ema bukan wanita yang punya niat naik bekerja di perusahaan ini menggantikan Riksa, meskipun dia adalah orang yang di rekomendasikan dari kantor pusat, yang merupakan perusahaan ayah Samuel sendiri yaitu Damar. Tapi dari apa yang dikatakan Naira tadi, Samuel merasa kalau apa yang dikatakan oleh Naira ada benarnya. Kalau memang dia tidak sengaja jatuh maka dia akan langsung berdiri, bukan hanya diam di atas Samuel selama beberapa detik sampai Naira berjalan dari pintu kamarnya sampai ke arah sofa, itu membutuhkan beberapa langkah artinya butuh beberapa detik. Dan jika memang Ema tidak sengaja dia pasti sudah bangun dan berdiri.
Samuel mengusap wajahnya kasar, dia merasa karena terlalu banyak memikirkan pekerjaan dirinya jadi tidak bisa memikirkan hal semudah itu. Ternyata dia memang sangat membutuhkan Riksa baik itu untuk membantunya dalam.hal pekerjaan atau segalanya tentang hidupnya.
Samuel lalu meraih ponsel yang ada di atas meja kerjanya. Dia sudah menemukan nomer kontak Riksa, tapi saat dia akan menekan nomer kontak Riksa itu untuk menghubungi nya. Dia mengurungkan niatnya lagi karena ingat pada ancaman dan omelan Puspa kalau dia menghubungi Riksa untuk masalah pekerjaan, maka Puspa akan minta Riksa resign sekalian dari perusahaan Samuel. Puspa bahkan mengancam Samuel, dia bertaruh apakah ucapan Samuel atau permintaan Puspa yang akan lebih di dengar Riksa.
Samuel kembali meletakkan ponselnya di atas meja, dia benar-benar tidak tahu harus apa. Tapi dia juga tidak akan bisa menghadapi gertakan istrinya barusan, kalau dia tetap mempekerjakan Ema, maka jatah malam nya akan di liburkan oleh Naira. Kepala Samuel berdenyut hanya dengan membayangkan dia tidak boleh menyentuh istrinya itu, Samuel mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
Samuel kembali meraih ponselnya.
"Baiklah sekarang apa yang harus aku lakukan? membiarkan hubungan ku atau hubungan Riksa yang berantakan?" gumam Samuel masih terus berpikir sambil melihat layar ponselnya.
Setelah cukup lama berpikir akhirnya keputusan pun telah di ambil oleh Samuel. Dia meletakkan ponsel nya kembali ke atas meja.
"Aku tidak akan membiarkan hubungan Riksa dan Puspa terkena masalah karena ulahku!" gumam Samuel lagi yang memutuskan untuk tidak mengganggu Riksa yang sedang cuti.
Samuel lalu berdiri dan melihat ke arah dinding kaca yang ada di belakang meja kerjanya.
Dia sedang memikirkan cara membujuk istrinya yang sedang marah padanya itu.
Setelah terpikir sesuatu, Samuel lalu berjalan ke arah meja kerjanya lagi, dia menekan tombol dengan angka 3 di telepon kantornya.
"Dina pesankan seratus tangkai mawar untuk Naira, kirim ke rumah. Dengan ucapan.. Please forgive me!" ucap Samuel memberikan perintah pada Dina.
"Apa Naira sedang marah padamu bos?" tanya Dina.
Tanpa menjawab pertanyaan Dina, Samuel langsung memutuskan panggilan telepon nya.
***
__ADS_1
Sementara itu di perjalanan pulang, Naira juga hanya diam saja. Meski dia berusaha tegar di desain Samuel dan wanita bernama Ema itu tadi. Sebenarnya dia merasa sangat sedih, bahkan sudah ingin menangis. Bagaimana pun dia sangat kesal melihat suaminya begitu dekat dengan wanita lain. Dia kembali teringat pada apa yang dikatakan Sundari, meskipun seorang suami itu awalnya setia dan sangat mencintai istrinya, tapi jika wanita lain terus menggodanya dan wanita itu sedikit saja punya kelebihan yang tidak di miliki oleh sang istri maka tidak menutup kemungkinan untuk sang suami lama kelamaan akan tergoda juga pada wanita lain.
Melihat Naira diam dengan raut wajah yang begitu sedih, bibi Merry pun menepuk bahu Naira dengan lembut.
"Jangan terlalu di pikirkan nyonya muda, bibi mengenal tuan muda Samuel sejak dia baru lahir, dan ketika tuan muda mencintai seseorang maka dia akan mencintai wanita itu dengan segenap jiwa raganya, dia juga akan setia seumur hidup padanya jika dia tidak dikhianati. Nyonya muda tidak perlu cemas, wanita seperti yang di kantor tadi tidak akan mampu merebut perhatian tuan muda dari nyonya, apalagi sekarang nyonya muda sedang hamil. Seluruh keluarga Virendra pasti akan ada di pihak nyonya muda!" ucap bibi Merry dengan wajah dan juga suara yang begitu meneduhkan saat di dengar dan juga di lihat.
Naira hanya tersenyum. Dia sebenarnya juga yakin Samuel itu pria yang setia, tapi apa yang dikatakan oleh Sundari benar-benar mengganggunya.
"Bibi Merry, apa yang aku lakukan tadi sudah benar?" tanya Naira pada bibi Merry.
Mendengar apa yang di tanyakan oleh Naira, wanita paruh baya yang selalu berpenampilan rapi dan bersih itu mengangguk dengan yakin.
"Iya nyonya muda, apa yang nyonya muda lakukan dan katakan pada wanita itu tadi sudah benar, nyonya Stella pasti juga akan melakukan hal yang sama jika ada wanita yang berusaha menggoda tuan Damar. Sebagai seorang istri kita juga harus menjaga dan melindungi hak kita sendiri, kita tidak boleh kalah dari wanita yang berusaha menggoda suami kita!" jawab bibi Merry membuat Naira tersenyum.
"Apa dulu juga ada yang berusaha menggoda ayah mertua, bi?" tanya Naira yang mulai tertarik dengan apa yang dikatakan oleh bibi Merry tadi.
Bibi Merry kembali mengangguk.
"Iya nyonya muda, bukan sekali dua kali, tapi sangat sering nyonya Stella harus saling adu kecantikan, adu kepintaran dan kadang adu cakar juga adu jambak menghadapi wanita wanita penggoda tuan Damar!" jelas bibi Merry.
'Wah, kalau begitu aku harus belajar banyak dari ibu mertuaku bagaimana menghadapi kadal kadal betina itu!' batin Naira.
__ADS_1
***
Bersambung...