
Samuel dengan cepat menghubungi Riksa sambil berjalan menuju lift menuju ke area parkir.
"Halo bos..!"
"Riksa apa yang sedang kamu lakukan, apakah melakukan reservasi dan makan siang harus selama ini?" tanya Samuel dengan nada suara yang makin lama makin meninggi.
"Bos, aku baru pergi setengah jam, ada apa?" tanya Riksa yang tidak mengerti.
"Riksa, cepat ke kantor. Dalam lima menit kamu harus ada di depan lobi. Naira kecelakaan, cepat!" teriak Samuel lalu memutuskan panggilan telepon nya.
Samuel bertambah kesal, ketika menekan tombol lift. Pintunya tak juga kunjung terbuka, dan masih menunjukkan kalau berada di lantai 15.
"Astaga! kenapa aku tidak kepikiran buat lift pribadi ku sendiri!" omel Samuel tak karuan.
Saat Samuel sedang menunggu dengan kesal, Dina baru keluar dari dalam ruangannya. Melihat ke arah Samuel. Dina khawatir kalau bos nya akan pergi, padahal sebentar lagi mereka harus menghadiri meeting yang cukup penting.
Dina berlari menghampiri Samuel.
"Bos, kamu mau kemana?" tanya Dina serius.
"Dina, cancel semua meeting penting. Aku mau pergi!" perintah Samuel.
"Bos, tapi lima belas menit lagi...!"
"Naira kecelakaan, cancel semua meeting. Mengerti!" teriak Samuel.
Pintu lift telah terbuka, dan Samuel langsung memasuki lift dan menuju lantai paling bawah. Beberapa lama kemudian, Samuel sudah keluar dari lift dan dengan cepat melangkah keluar lobi.
Mobil Riksa juga telah tiba, karena kebetulan dia sedang makan siang tak jauh dari perusahaan, dan secepat kilat Riksa langsung meninggalkan makan siangnya dan kembali ke perusahaan.
Tanpa menunggu Riksa keluar dari mobil, Samuel langsung masuk ke dalam mobil Riksa lalu menyuruhnya segera melajukan mobilnya menuju ke arah klinik terdekat.
***
Sementara itu, Kenzo sudah membawa Naira ke sebuah klinik yang berada tak jauh dari perusahaan Virendra grup. Setelah dokter mengobati luka-luka Naira, dokter itu menuliskan sebuah resep dan memberikan nya pada Kenzo.
"Ini tuan, luka istri anda tidak parah...!"
__ADS_1
"Aku bukan istrinya!" seru Naira menyela ucapan dokter yang sedang bicara dengan Kenzo.
Dokter itu dan Kenzo langsung menoleh ke arah Naira yang terlihat masih memperhatikan luka-lukanya.
Dokter itu menjadi salah tingkah, dia sudah salah bicara. Dia takut kalau kedua orang di ruangannya itu tersinggung.
"Maaf, maaf aku kira kalian suami istri. Sekali lagi aku minta maaf!" ucap dokter itu merasa sangat bersalah.
"Tidak apa dokter, istriku itu memang sedang kesal...!"
"Siapa yang istri mu, jangan mengada-ada tuan muda Hasigawa!" seru Naira lagi bertambah kesal.
"Sudah dokter jangan dengarkan dia, dia memang sedang datang bulan, sekarang jelaskan saja!" seru Kenzo memegang bahu kiri si dokter agar fokus padanya saja dan tidak pada Naira.
Sementara Naira makin bertambah kesal saja pada Kenzo.
'Dari mana dia tahu aku sedang datang bulan, dasar pembual!' batin Naira kesal.
Tapi kemudian Naira terdiam lagi, dia ingat kalau seharusnya seminggu yang lalu adalah tanggal datang bulannya. Dan sebelumnya selalu teratur, tapi bukan ini kenapa dia belum datang bulan juga. Dia diam memikirkan hal itu.
"Lukanya memang tidak parah, tapi tetap saja luka kulit tergesek aspal itu akan menimbulkan rasa yang tidak nyaman juga, bahkan rasa kebas dan akan terasa pegal, ngilu dan perih akan berkelanjutan selama beberapa saat. Ini adalah salep dan juga obat pereda rasa sakit yang bisa di konsumsi untuk meringankan rasa sakitnya! silahkan di rebus di apotek. Saya permisi dulu, untuk melihat pasien yang lain!" jelas dokter itu panjang lebar.
"Aku akan tebus dulu obat untuk mu!" ucap Kenzo.
"Tidak perlu tuan Hasigawa, suami ku yang akan menebus nya!" ucap Naira kemudian.
Kenzo sedikit memiringkan kepalanya, benarkah Samuel akan melakukan hal itu. Kenzo jadi penasaran, apakah yang dikatakan oleh Naira ini benar atau tidak, jika benar maka dia akan sangat yakin kalau Samuel memang sangat mencintai istrinya itu. Dan semua yang dikatakan oleh Naira di kantor tadi memang benar, kalau tidak maka Kenzo bisa pastikan kalau pernikahan mereka ini pasti ada apa-apa nya.
"Kamu seyakin itu Naira? setahuku Samuel bukan orang perduli seperti itu!" ucap Kenzo lalu kembali duduk di tepi ranjang pasien di sebelah Naira.
"Tentu saja, dia kan suami ku. Kenapa dia tidak mau melakukan itu untuk ku!" ucap Naira dengan nada yang di buat sepercaya diri mungkin.
Padahal dia sendiri hanya mengucapkan itu karena tidak mau kalau dia terlalu banyak berhutang budi pada Kenzo. Mengingat seperti apa hubungan pria itu dengan suaminya.
'Semoga saja saat Samuel kemari, pria ini ada yang menelpon lalu segera pergi dari sini. Aku tahu Samuel tidak mungkin melakukan itu untukku. Dia pasti akan menyuruh seseorang untuk melakukan nya!' gumam Naira dalam hati.
Dan apa yang di katakan oleh dokter tadi memang benar, rasa ngilu dan nyeri memang secara tiba-tiba Naira rasakan. Membuat wanita itu mendesis menahan perih padahal lukanya sudah di perban. Dan kedua telapak tangannya juga sudah di beri antibiotik dan juga di perban.
__ADS_1
"Ada apa? terasa sakit bukan? sudahlah biar aku saja yang membeli obat pereda nyeri untuk mu!" seru Kenzo.
Naira yang masih menahan perih dan ngilu di saat yang bersamaan lagi-lagi matanya berkaca-kaca. Dia bahkan sudah berpikir akan menerima saja bantuan dari Kenzo. Tapi saat Naira baru akan bersuara...
"Naira!" seru Samuel yang langsung masuk dan berjalan dengan cepat ke arah Naira. Dia sengaja membelakangi Kenzo.
"Sayang, apa yang terjadi. Bagaimana keadaan mu?" tanya Samuel bertubi-tubi.
Samuel melihat mata Naira berkaca-kaca, dia melihat ke luka yang ada di tangan dan kakinya.
"Sayang, apa kata dokter?" tanya Samuel lagi.
Kenzo lalu bangkit berdiri, dia lalu berjalan ke depan Samuel.
"Lukanya tidak parah tapi akan terasa sangat perih dan nyeri, ini resep obat pereda nyeri yang harus dia minum untuk meredakan sakit yang dia rasakan!" ucap Kenzo sambil menyodorkan secarik kertas berusia resep pada Samuel.
"Aku sudah menawarkan diri untuk membelinya tapi istrimu...!"
Grep
"Aku akan membelinya!" ucap Samuel setelah merebut kertas itu dari tangan Kenzo.
Samuel lalu berbalik melihat ke arah Naira.
"Sabar sebentar ya, aku akan beli obatnya. Riksa juga pasti akan datang sebentar lagi, dia sedang mencari tempat parkir. Sebentar ya sayang!" ucap Samuel.
Cup
Samuel bahkan mengecup kening Naira sebelum dirinya berlari keluar untuk menebus obat pereda nyeri untuk Naira. Sementara itu Naira masih terbengong, dia tertegun karena Samuel melakukan tindakan di luar ekspektasi nya. Dia bahkan tak menyangka hal itu.
Sementara itu Kenzo yang melihat kepanikan serta perhatian Samuel pada Naira, menghela nafasnya panjang.
'Aku benar-benar takjub pada wanita ini. Apa yang istimewa darinya sehingga Samuel bahkan melupakan Caren dengan begitu mudah?' tanya Kenzo dalam hati.
Author POV end
***
__ADS_1
Bersambung...