Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
51


__ADS_3

"Ka... kamu siapa?" tanya ku gugup sambil menutup wajahku dengan kedua telapak tangan ku tapi aku masih bisa mengintip pria itu dari sela-sela jariku yang sengaja aku renggang kan.


"Ck... perempuan aneh!" serunya lalu berjalan melewati ku menuju ke dekat tempat tidur nya.


Aku menghela nafas panjang, aku mengangkat sedikit gaun panjang ku agar bisa berjalan dengan cepat meninggalkan kamar ini, aku rasa aku salah kamar. Dan masalah dia bilang kalau aku perempuan aneh, itu benar. Kalau ini adalah kamar nya dan aku bertanya dia siapa? bukan kah memang terdengar aneh. Akan lebih baik jika aku segera keluar dari kamar ini dan kembali mencari kamar Ibras.


Tapi ketika aku akan membuka pintu kamar ini, aku ingat jas Ibras yang aku letakkan di atas tempat tidur.


"Hah, jas nya Ibras!" gumam ku lalu kembali berbalik.


"Hei, kamu tidak sedang tel****** kan?" tanya ku ragu.


"Ck... lihat sendiri!" serunya.


'Hah, apa katanya? lihat sendiri! apa dia sudah tidak waras?' tanya ku dalam hati.


Aku melangkah dengan ragu, tapi aku rasa dia itu pria yang normal kan, dia pasti akan malu kalau terlihat oleh seseorang sebelum mengenakan pakaian.


Aku masih berdiri di tempatku, dan batas antara aku yang di dekat pintu itu dengan tempat tidur di kamar ini adalah dinding kamar mandi. Sehingga kami tidak bisa melihat satu sama lain selama di antara kami tidak ada yang melangkah maju.


"Maaf, aku salah kamar. Aku kira tadi ini adalah kamar adikku. Dan aku meletakkan jas adikku di atas tempat tidur, bisakah aku mengambilnya kembali, atau kamu lemparkan saja kemari?" tanya ku dengan suara yang sedikit keras agar apapun yang pria itu lakukan dia bisa mendengarnya.


"Ambil sendiri!" jawab nya.


Aku sedikit ragu untuk melangkah, masalahnya aku tidak tahu apa pria itu sudah berpakaian atau belum. Tapi aku harus mengambil jas milik Ibras itu kan. Aku maju selangkah demi selangkah, dengan mencondongkan tubuh ku sedikit ke depan aku mengintip apakah yang sedang pria itu lakukan.


"Astaga!" pekik ku karena pria itu masih berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada dan masih dengan lilitan handuk di pinggangnya.


"Kenapa belum berpakaian?" tanya ku.


"Mana mungkin aku memakai pakaian ku kalau di dalam kamar ku masih ada wanita aneh!" ucap nya terlihat kesal.


Aku hanya diam, karena aku memang yang salah masuk kamar. Jadi secara otomatis aku yang salah.


"Yang mana jas milik adik mu?" tanya nya melihat ke arah tempat tidur dimana tadi aku meletakkan jas milik Ibras.


Aku melihat ke arah yang sama dengan arah dia menatap.


'Hah, sejak kapan di tempat itu ada dua jas? tarikan hanya ada kemeja dan celana saja, kenapa bisa ada dua jas?' tanya ku keheranan dalam hati.


Masalahnya ketika aku meletakkan jas milik Ibras tadi, aku yakin tidak ada jas lain disana. Mana warnanya dan bentuknya sama lagi. Mana aku tahu mana yang punya Ibras.


"Tadi itu cuma ada satu! kenapa sekarang ada dua?" tanya ku heran.


Kalau dia suruh aku memilih yang mana punya Ibras, aku tak akan bisa membedakan nya. Dua jas itu nyaris bagai pinang di belah dua.


"Mana ku tahu, cepat ambil yang mana milik adik mu, kalau salah. Kamu tidak akan bisa keluar dari kamar ini!" tegas nya menatap ku dengan tajam.


Tentu saja apa yang pria itu katakan membuat ku sangat terkejut. Aku membulatkan mataku, bagaimana ini. Aku terjebak masalah apalagi ini?


"Hei jangan bercanda, aku hanya salah masuk kamar. Aku juga sudah minta maaf. Jangan macam-macam ya, kamu tahu tidak siapa aku?" tanya ku padanya dengan sedikit menyombongkan diri dan mengangkat dagu ku.

__ADS_1


Dia malah mengernyitkan dahi nya.


"Tidak perduli, yang jelas kamu sudah mengganggu privasi ku!" serunya tak perduli.


"Hei, aku kan sudah minta maaf. Kamu tahu tidak aku ini adalah calon nyonya Samuel Virendra, kamu tahu kan siapa dia. Jadi jangan berdebat dengan ku atau calon suami ku yang sangat menyayangiku itu akan membuat perhitungan padamu, kamu tidak akan tahu kemarahan nya itu seperti..!


Awalnya aku ingin menggertak pria ini menggunakan nama Samuel, tapi semakin aku bercerita tentang Samuel. Pria ini malah makin melangkahkan kakinya maju dan mendekati ku.


"Sangat menyayangi mu, Samuel Virendra sangat menyayangi mu?" tanya nya.


Dia terus maju, dan aku juga harus mundur karena dia terlalu dekat. Aku mundur satu langkah, dia malah maju dua langkah.


Duk


'Habis sudah!' batin ku merasa aku sudah tidak bisa mundur lagi.


Punggung ku sudah menabrak dinding kamar ini, aku tidak bisa mundur lagi.


"Hei, mundur lah. Tidak kah kamu merasa risih, aku ini wanita loh dan kamu belum berpakaian, kamu tidak malu?" tanya ku tergagap karena aku sangat gugup.


"Jadi kamu calon istri Samuel, dan dia sangat menyayangi mu?" tanya nya lagi.


Aku segera menganggukkan kepala ku dengan cepat.


"Benar, dia sangat menyayangi, dia itu cinta mati padaku. Dan jika dia tahu wanita yang paling dia cintai di perlakukan seperti ini maka...!"


Aku sungguh tidak tahu aku harus mengatakan apalagi, karena aku juga tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh si lidah tajam itu jika melihat ku di perlakukan seperti ini. Kurasa dia akan tertawa dengan sangat puas dan menghina ku lagi dengan lidahnya yang tajam itu.


Aku masih bingung harus menggertaknya bagaimana lagi. Dan pria itu malah menaikkan tangannya dan mencoba untuk menyentuh wajah ku.


"Hei, jauhkan tangan mu dari wajah ku, aku tidak bercanda ya. Samuel ku, dia akan memotong tangan mu jika kamu sampai menyentuh wajah ku!" peringatan ku pada pria itu.


"Ha ha ha! Samuel Virendra berani memotong tangan ku? aku meragukan itu?" tanya nya.


Aku mengernyitkan dahi ku. Sebenarnya siapa dia, kenapa dia bisa setenang ini mendengar tentang Samuel Virendra yang menyeramkan itu. Apa yang harus aku lakukan? Mungkin aku harus lebih menakut-nakuti nya lagi. Menceritakan sesuatu yang seram tentang Samuel.


"Kenapa ragu, dia itu bukan pria biasa. Dia itu sangat kejam, kamu tahu saat ada yang memanggil ku tidak sopan di jalan dengan bersiul, dia akan memukul wajah orang itu hingga babak belur, dan jika ada yang tidak sengaja menyentuh ku, dia akan memotong kedua tangan orang itu dan memberikan tangan orang itu pada buldog peliharaan nya!" ucap ku mengarang bebas saja. Aku harap pria itu percaya dan melepaskan aku dari kungkungan kedua tangannya.


"Lalu?" tanya nya lagi.


Mataku kembali melebar,


'Apa dia bilang? lalu? maksudnya dia tidak takut dengan apa yang aku katakan! dia ingin mendengar yang lebih seram? baiklah! aku akan menceritakan kisah tentang mafia kejam yang pernah aku baca di novel milik Mini!' batin ku lagi.


"Lalu dia akan melemparkan tubuh orang yang menganggu ku itu ke dalam kolam buaya, kamu tahu di rumah nya ada buaya, dan ada juga serigala, jika buaya itu sudah kenyang maka dia akan melemparkan tubuh orang itu di kandang serigala!" ucapku lagi menakut-nakuti pria yang sejak awal aku cerita hal mengerikan tentang Samuel ini masih memasang ekspresi datar dan tidak perduli.


"Calon suami mu itu punya kebun binatang di rumah nya?" tanya nya dengan kekehan kecil.


"Heh, kamu ini orang macam apa! kamu tidak takut pada calon suami ku itu?" tanya ku kesal sambil berusaha mendorong dada pria ini.


"Jangan sembarang menyentuh ku, atau aku akan potong kedua tangan mu, dan aku berikan pada ikan piranha peliharaan ku di aquarium di situ!" ucapnya balik menggertak ku sambil melihat ke arah balkon kamar hotel ini.

__ADS_1


Aku pun meneguk saliva ku dengan susah payah.


'Ikan piranha, hih!' batin ku sambil menarik tangan ku yang akan mendorong nya menjauh.


Dia malah terkekeh, aku merasa aku tidak akan menang berdebat dengan orang ini. Pakai nama Samuel saja sudah tidak mempan, aku tidak mungkin pakai nama Riksa kan. Dia pasti lebih tidak takut lagi. Sudahlah, pakai cara halus saja.


"Em, begini tuan. Aku mohon maafkan aku dan biarkan aku pergi. Sebentar lagi acara pernikahan ku, aku tidak mau membuat yang lain cemas karena mencari ku, ayah, ibu... tolong berikan jas adik ku!" ucap ku memohon pada pria yang memasang ekspresi yang aku tidak mengerti sama sekali.


Dia terlihat diam dan berfikir.


"Baiklah, kamu bisa pergi dan membawa jas adikmu tapi dengan satu syarat!" ucap nya terlihat serius.


Aku mengangkat alisku tapi tidak terlalu tinggi.


"Syarat? syarat apa?" tanya ku heran.


Aku diam sejenak, tapi kemudian aku berfikir dia ini tahu namaku saja tidak, dan aku juga tidak mengenalnya kan. Aku setuju saja dulu, dia tidak akan bisa menemukan aku kan. Yang penting dapat jas Ibras dan kabur dari sini.


Dia tidak langsung bicara, dan mendekati ku. Aku makin mundur dan memalingkan wajahku. Ternyata dia malah berbisik.


"Kenalkan aku dengan calon suami mu!" bisiknya membuat ku merinding.


'Hah, mengenalkan nya pada si lidah tajam itu, wah ini sih namanya gali lubang tutup lubang, eh salah keluar dari sarang buaya masuk ke sarang macan. Bagaimana ini!' batin ku bingung


"Kenapa? tidak berani?" tanya nya.


'Tentu saja aku tidak berani!' jawab ku dalam hati.


"Kalau begitu jangan harap dapatkan jas adik mu!" serunya.


Aih, setidaknya bebaskan dulu aku dari kungkungan nya ini kalau bicara. Aku merasa jadi tahanan kalau begini.


"Baiklah, berikan jas nya padaku. Nanti setelah berpakaian. Temui aku di roof top hotel ini. Aku dan calon suami ku akan melakukan pemotretan disana!" seru ku padanya.


Dia tersenyum aneh, dan melepaskan kungkungan nya dari ku. Dia berjalan ke arah tempat tidur lalu mengambil salah satu jas dan kembali menghampiri ku dan memberikan jas itu padaku.


"Ingat apa yang kamu janjikan padaku, kenalkan aku dengan calon suami mu yang sepertinya sangat kejam itu!" ucapnya.


"Iya!" jawab ku singkat lalu keluar dari kamar itu.


Sambil berjalan ke arah kamar yang benar, aku bicara dalam hati.


'Huh, biarkan saja pria itu bertemu dengan Samuel. Bagus kalau dia tidak takut pada Samuel, tapi mendengar ucapan nya tentang piranha tadi, hih serem!'


Setelah tiba di depan kamar Ibras, aku tidak mengetuk pintu lagi dan langsung membuka pintu.


"Kakak, ada apa?" tanya Ibras karena melihat ku berjalan dengan cepat dan raut wajah kesal.


"Ini jas mu! aku baru saja bertemu dengan orang yang lebih menyeramkan dari Samuel!"


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2