
Keesokan harinya, semua orang sudah berkumpul di meja makan. Kakek Virendra juga sudah menasehati Adam atas apa yang terjadi kemarin. Dan keputusan akhirnya adalah warna cat di kamar akan di rubah seperti semula, karena Vina juga tidak keberatan sama sekali akan hal itu.
Semua anggota keluarga sangat menyukai sikap Vina yang tenang dan selalu mengalah pada Adam. Damar dan Stella juga semakin respect pada Vina. Tapi Puspa masih belum yakin seratus persen kalau semua ini memang kebetulan. Dia masih merasa kalau sebenarnya Vina punya tujuan tertentu saat memutuskan untuk menikah dengan Adam.
"Selamat pagi!" sapa dokter Ayu yang memang datang untuk memeriksa keadaan Vina.
"Selamat pagi!" sapa semuanya.
Semua orang tersenyum melihat kedatangan dokter Ayu yang memang selain salah satu dokter keluarga Virendra juga adalah keponakan dari Stella. Ayu langsung menghampiri kakek Virendra dan menyalami tangannya dan mencium punggung tangan kakek Virendra, ketika Ayu bersikap sopan seperti itu yang memang biasanya juga begitu, kakek Virendra juga mengelus kepala Ayu perlahan.
"Selamat pagi nak, mari sarapan bersama kami!" ucap kakek Virendra.
Ayu tersenyum lalu beralih kepada Damar dan melakukan hal yang sama seperti pada kakek Virendra tadi, Ayu menyalami dan mencium punggung tangan Damar.
"Aku sudah sarapan sebelum kemari, aku akan memeriksa menantu bungsu om hari ini!" jelas Ayu menyampaikan maksud kedatangan nya lalu beralih pada Stella dan menyalami Stella juga.
Tapi saat Ayu sudah selesai menyalami Stella dia lalu melirik sekilas ke arah Naira yang sedang bicara dengan Samuel.
"Oh ya Tante, apa Tante sudah bertanya pada menantu sulung tante tentang apa hubungannya dengan Teddy Rizaldi?" tanya Ayu dengan suara yang sengaja agak meninggi.
Samuel yang mendengar nama Teddy Rizaldi pun langsung menoleh ke arah Ayu, bukan hanya Samuel tapi semua orang yang ada disitu juga menoleh ke arah Ayu.
"Teddy Rizaldi?" tanya Samuel.
Ayu langsung mengangguk dan mendekati Vina.
"Iya, saat aku selesai memeriksa Vina kemarin aku ingat beberapa hari yang lalu pernah melihat foto istrimu di dalam dompet Teddy Rizaldi!" jelas Ayu uang seperti sengaja ingin memancing amarah Samuel.
Puspa langsung melirik tajam ke arah Ayu, tapi ketika dia ingin bangun, Riksa menahan tangan Puspa dan menggelengkan kepalanya. Puspa tahu itu adalah isyarat kalau Puspa tidak boleh ikut campur dalam masalah ini. Meski kesal Puspa akhirnya menuruti Riksa dan kembali duduk dengan tetap memandang tajam ke arah Ayu.
__ADS_1
Samuel melihat ke arah Naira cukup lama dan semakin lama tatapannya semakin tajam pada istrinya itu. Damar yang tidak ingin ada kesalahpahaman antara anak dan menantunya pun angkat bicara.
"Ayu, bukankah kalau kamu melihat foto Naira di dompet Teddy, seharusnya kamu bertanya pada Teddy kenapa foto itu ada di dompetnya. Bukan malah bertanya pada Naira, ayah yakin Naira juga pasti tidak tahu kalau ada fotonya di dompet Teddy, benarkan Naira?" tanya Damar pada Naira dan Naira langsung mengangguk setuju pada pernyataan ayah mertuanya itu.
Kakek Virendra juga langsung melihat ke arah Samuel.
"Sam, jangan menatap istrimu seperti itu. Tapi informasi ini juga penting, sebagai seorang suami dari Naira sebaiknya kamu datangi pria bernama Teddy itu, dan minta agar dia mengeluarkan foto Naira dari dompetnya dan juga dari hidupnya!" tegas kakek Virendra yang malah terkesan memberikan tatapan mengintimidasi pada Ayu.
Ayu yang merasa kalau semua orang di rumah ini memihak Naira pun tidak mau ambil resiko dan langsung mengajak Vina ke sofa ruang keluarga untuk di periksa.
Sementara itu Samuel mengajak Naira ke kamar mereka untuk bicara. Samuel menutup pintu lumayan kencang hingga menimbulkan suara yang lumayan bisa di dengar dari arah luar yang kebetulan Puspa dan Riksa sedang melintas disana.
Puspa sudah bergegas memutar langkah untuk melihat Naira, tapi lagi-lagi Riksa menahan lengan Puspa.
"Sayang, sebaiknya kita tidak ikut campur!" ucap Riksa memberikan saran pada Puspa.
Puspa tahu kalau Riksa memang sama sekali tidak mau melawan Samuel karena selain sahabatnya, Riksa juga adalah anak buahnya. Tapi dirinya juga tidak mau Naira dalam masalah, dia yakin kalau semua ini adalah rekayasa Ayu saja, entah apa masalah Ayu dengan Naira, tapi Puspa bisa melihat jelas kalau Ayu sangat tidak menyukai Naira, itu semua terlihat jelas dari cara Ayu menatap Naira dan membicarakan nya.
"Bukan begitu sayang, ini masalah rumah tangga mereka. Kita memang sahabat nya, tapi kita juga tidak boleh ikut campur terlalu dalam, kakek dan ayah tadi juga sudah bicara kan? aku yakin kalau Samuel dan Naira bisa menyelesaikan masalah ini tanpa ada siapapun yang ikut campur. Semakin banyak yang ikut campur dalam masalah rumah tangga seseorang maka akan semakin runyam!" jelas Riksa.
Puspa diam sejenak. Apa yang dikatakan oleh Riksa itu memang ada benarnya.
"Sebaiknya sekarang kita berangkat ke butik, kamu dengar apa kata Emi tadi kan. Ibu mu bahkan memaksa tinggal di butik dan tidak mau membuka butik, kita selesaikan masalah ini dulu!" ajak Riksa dan Puspa segera mengikutinya.
Karena saat Puspa menghubungi Emi untuk membuka butik tadi, Emi bilang kalau Mega sedang membuat keributan dan memaksa semua karyawan butik keluar dan tidak boleh membuka butik, padahal mereka harus bekerja dan menyelesaikan banyak pesanan yang sudah mereka konfirmasi.
Sementara itu di dalam kamar Samuel masih diam dan terus menatap tajam Naira yang sedang berdiri di depan suaminya itu.
"Mas, aku sudah pernah bilang kan, kalau Teddy itu...!"
__ADS_1
"Kenapa foto mu ada padanya?" tanya Samuel menyela ucapan Naira. Ternyata sejak tadi Samuel itu terganggu bukan karena hal lain, tapi karena pertanyaan itu, kenapa Teddy bisa mendapatkan foto Naira.
Naira juga bingung, masalahnya dia tidak pernah memberikan foto dirinya pada siapapun, apalagi pada Teddy.
"Aku tidak tahu mas, tapi ... !" Naira menjeda kalimat yang akan dia sampaikan.
Dia ingat saat Samuel mengancamnya dulu untuk tanda tangan kontrak pernikahan dengannya dengan rekaman yang ada di ponsel Samuel. Bukankah Samuel juga merekam video saat dia menarik sepedanya di depan gerai ayam geprek. Mungkin hal itu juga dilakukan Teddy.
"Tapi apa?" tanya Samuel ketus.
"Mas ingat tidak saat mas mengambil video ku diam-diam untuk mengancam ku, mungkin saja Teddy juga mengambil foto ku diam-diam kan?" tanya Naira membuat Samuel terdiam.
'Kenapa hal seperti itu saja bahkan tidak terpikirkan oleh ku, cemburu memang bisa mempersempit pikiran!' keluh Samuel dalam hati.
Kini keraguan dalam hati Samuel sudah hilang, tapi dia tetap masih kesal dan akan membuat perhitungan dengan pria bernama Teddy Rizaldi. Dan sekarang dia sudah memikirkan cara agar foto Naira tidak sampai diambil orang secara diam-diam lagi.
"Sayang, dimana Puspa?" tanya Samuel.
"Tadi dia bilang mau ke butik, kenapa?" tanya Naira.
"Aku akan ke sana, aku akan minta Puspa membuatkan mu pakaian seperti wanita-wanita di Arab sana yang hanya mata dan telapak tangan saja yang bisa terlihat oleh orang lain!" jawab Samuel membuat Naira mengernyitkan keningnya.
"Tapi kenapa mas?" tanya Naira bingung.
"Supaya tidak ada lagi yang bisa mencuri foto mu secara diam-diam!" jawab Samuel yang langsung mengecup kening Naira dengan cepat lalu segera keluar dari kamar mereka.
'Astaga!' batin Naira yang tidak sanggup lagi berkata-kata.
***
__ADS_1
Bersambung...