
Setelah sedikit berdebat dengan Adam akhirnya mereka semua mengalah dan pada akhirnya, kakek Virendra pun ikut ke rumah sakit untuk melihat hasil pemeriksaan kehamilan Naira.
Naira yang tidak pernah mengalami tekanan seperti ini pun tak dapat menyembunyikan kepanikan yang dia rasakan. Wajahnya menjadi pucat dan kalau ada yang memegang telapak tangannya mereka akan tahu kalau Naira benar-benar panik.
Sementara itu Stella terus meyakinkan pada Samuel kalau semua akan baik-baik saja. Karena Stella sudah mengirim pesan pada dokter Arini agar menyiapkan segalanya. Stella juga sudah menceritakan pada dokter Arini, kenapa dia bisa bersikap seperti itu pada mertuanya sendiri.
Itu semua dia lakukan untuk membuat ayah mertuanya itu sadar dari koma. Karena saat ayah mertua nya koma, suaminya sangat sedih dan hal itu membuat Stella juga sangat sedih.
Samuel tetap mendampingi Naira, dia mengemudi mengikuti mobil yang di kemudikan oleh pak Urip yang membawa Stella dan juga kakek Virendra.
"Stella, kenapa dari tadi main handphone terus. Sebaiknya kamu juga banyak istirahat. Kamu pasti akan sangat lelah kalau sudah ada cucu kecil mu nanti!" ucap kakek Virendra dengan senyuman bahagianya.
Stella terenyuh dalam hatinya, dia juga tidak bermaksud untuk melakukan semua ini, semua yang dia katakan sewaktu di rumah sakit ketika ayah mertuanya itu koma adalah spontanitas saja. Maksudnya adalah agar membuat kakek Virendra kembali mempunyai semangat kembali untuk bangun dan terus hidup untuk melihat penerusnya dari Samuel, generasi penerus keluarga Virendra selanjutnya.
Dan benar saja satu kalimat itu membuat ayah mertuanya menunjukkan reaksi yang sangat baik. Dan tak lama ayah mertuanya itu sadar. Dan suaminya sangat senang melihat ayahnya, satu-satunya orang tuanya telah kembali sadar.
Stella hanya bisa menghela nafas nya panjang mendengar semua yang di katakan oleh ayah mertua yang sudah dia anggap ayahnya sendiri itu.
"Iya ayah, ayah tenang saja. Aku pasti akan memberikan yang terbaik untuk cucu pertama ku dan cicit pertama ayah!" jawab Stella sambil tersenyum.
Keduanya tampak begitu bahagia, namun dalam hatinya Stella juga sangat merasa bersalah.
'Ayah, maaf. Selama puluhan tahun aku menjadi menantu ayah. Baru kali ini aku tidak jujur pada ayah. Aku harap ayah memaafkan aku!' batin Stella dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Kakek Virendra juga menyadari ekspresi menantu satu-satunya itu, tapi dia pikir kalau Stella sedang terharu dan sangat merasa bahagia seperti dirinya.
__ADS_1
Sementara itu di mobil belakang yang sedang mengikuti mobil yang di tumpangi oleh Stella dan kakek Virendra. Naira terus saja melirik Samuel yang sedang menyetir dengan sesekali memeriksa ponselnya.
"Mas, apa semua akan baik-baik saja? kalau sampai kakek tahu yang sebenarnya, kita semua hanya bersandiwara. Kakek pasti akan sangat kecewa, dan aku sangat takut kalau itu akan membuat kondisi kesehatan kakek nanti...!"
Tapi sebelum Naira selesai mengatakan apa yang ingin dia sampaikan tentang kecemasan dan kekhawatiran nya, Samuel langsung memegang tangan kanan Naira yang berada di pangkuan Naira dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanan Samuel juga sedang memegang setir kemudi.
"Sayang, tenang saja. Ibu sudah mengatur segalanya. Dia sudah meminta dokter Arini untuk mengatur laporan medis mu. Kakek hanya akan mendengar laporan itu saja, karena di saat pemeriksaan hanya suami yang boleh menemani mu di dalam ruang periksa!" jelas Samuel panjang lebar.
"Tapi mas...!"
Samuel yang merasakan betapa dinginnya telapak tangan istrinya menggenggam tangan Naira semakin erat.
"Sayang, sudahlah. Kita hanya perlu berdoa agar semua rencana ibu ini berjalan lancar, ya!" ucap Samuel mencoba meyakinkan Naira kalau semua pasti akan baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian, kedua mobil yang berasal dari kediaman Virendra memasuki area parkir sebuah rumah sakit swasta yang biasa di kunjungi keluarga Virendra jika ada anggota keluarga atau karyawan perusahaan nya ada yang sakit.
Siapa yang tidak mengenal kakek Virendra, bahkan ketika dia baru saja turun dari dalam mobil yang pintunya baru saja di buka oleh pak Urip. Beberapa orang dokter dan perawat yang mengenalnya dan kebetulan sedang berada di tempat itu langsung bergegas menghampiri kakek Virendra. Mereka menyapa dan memberi salam pada kakek Virendra. Samuel dengan sigap langsung berjalan bergegas menghampiri sang kakek sambil terus menggandeng tangan Naira.
Samuel meminta agar mereka semua yang menyapa memberi jalan pada kakek Virendra karena mereka sedang terburu-buru. Para dokter dan perawat itu pun mengerti dan langsung menepi, memberi keluarga Virendra jalan untuk melewati pintu masuk utama rumah sakit.
Mereka berempat, masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai 2, dimana poli kandungan berada. Karena sudah membuat janji, Stella pun segera mengajak Naira masuk ke dalam ruang periksa sementara dia meminta agar Samuel dan juga kakek Virendra untuk menunggu di ruang tunggu khusus untuk tamu VIP. Tapi Samuel sedikit heran bukankah, dirinya seharusnya juga di periksa.
Tapi setelah Naira dan ibunya masuk ke dalam ruang khusus periksa. Ponsel Samuel berbunyi dan ketika Samuel memeriksanya, terdapat pesan dari ibunya.
*Jika kamu masuk ke dalam juga sekarang, maka kakek akan curiga. Biar Naira dulu uang di periksa. Setelah itu ibu akan mencari alasan agar kamu juga bisa masuk, dan ibu yang akan menjaga kakek mu. Sekarang bersikap biasa lah!*
__ADS_1
Seperti itulah pesan yang di kirimkan oleh Stella pada Samuel.
"Ada apa? apa dari kantor?" tanya kakek Virendra yang terlihat perduli sekali pada Samuel dan pekerjaan nya.
Samuel langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak, tidak kek. Hanya dari seseorang. Aku juga tidak perlu membalasnya!" jawab Samuel singkat.
Kakek Virendra lalu menepuk bahu Samuel dengan pelan.
"Seseorang itu siapa? ingat Samuel. Istrimu sedang hamil, wanita yang hamil itu sangat sensitif. Satu luka kecil yang kamu berikan padanya akan terasa seperti goresan luka yang besar. Kakek tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari. Jangan pernah bermain api!" seru kakek Virendra dengan wajah yang serius.
Samuel tercengang dengan apa yang kakeknya itu barusan katakan.
"Apa maksud kakek, aku berselingkuh?" tanya Samuel yang menangkap apa yang di katakan oleh kakeknya seperti itu.
Kakeknya pun masih menunjukkan raut muka yang serius.
Samuel terkekeh pelan.
"Tidak kek, sungguh pesan tadi tidak terlalu penting. Karena itu aku tidak membalasnya. Dan soal selingkuh, itu tidak mungkin. Naira adalah istri terbaik di seluruh dunia. Dia itu istri yang luar biasa sabar dan pengertian, aku tidak mungkin mengkhianati nya kek!" seru Samuel membuat sang kakek tersenyum puas.
***
Bersambung...
__ADS_1