
Aku benar-benar cemas ketika mas Samuel benar-benar langsung berdiri dari duduknya kemudian meminum kopi yang ada di atas meja hanya sekali minum dan dia meletakkan kembali cangkir kopi yang sudah habis setengahnya itu di atas meja.
"Mas mau kemana?" tanya ku pada mas Samuel.
Aku khawatir dia benar-benar akan menjalankan apa yang tadi dia katakan. Mengikat Riksa di apartemen nya dan tidak membiarkan Riksa menghadiri pesta ulang tahun Puspa.
"Kemana lagi, saat ini Riksa pasti ada di kantor. Aku akan ke sana, mengajaknya pulang dan mengurungnya di gudang!" ucap mas Samuel yang membuatku langsung menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.
Aku tidak habis pikir ke mana perginya IQ luar biasa dari suami tercintaku ini.
"Mas, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ada Riksa akan kesal pada kita karena mengira kita telah menutupi segala hal yang terjadi nanti di acara pesta ulang tahun Puspa!" jelas ku pada mas Samuel.
"Sayang, kamu tenang saja dia tidak akan berani marah padaku!" ucap mas Samuel masih terus berusaha menyanggah apa yang aku katakan.
"Mas, sudahlah. Kita ikuti saja apa yang tadi di saran kan oleh Puspa!" ucap ku pada mas Samuel, karena aku merasa cara itulah yang paling tepat.
Seandainya aku dan mas Samuel melarang periksa untuk pergi ke pesta ulang tahun Puspa, di pasti akan sangat kecewa pada kami berdua, karena pesta pertunangan itu pasti akan menyebar.
Jadi lebih baik kami bertiga datang, menyaksikan apa yang terjadi dan meminta Riksa menahan diri apapun yang dia lihat disana nanti. Setidaknya Puspa bisa bertemu dengan Riksa.
"Sayang, kenapa aku selalu merasa kalau kamu lebih peduli kepada dua pasangan itu?" tanya mas Samuel yang tentu saja langsung membuat aku bingung.
"Maksudnya mas?" tanya ku bingung.
"Kamu begitu perduli pada mereka, kamu sangat cemas karena mereka tidak mengungkapkan perasaan mereka masing-masing! kamu sendiri bahkan belum pernah mengatakan kalau kamu mencintai ku!" ucap mas Samuel dan langsung membuat ku terdiam.
Suami ku ini berkata benar, aku memang belum pernah mengatakan kalau aku mencintainya. Mas Samuel menyentuh dagu ku, dan mengangkatnya sedikit agar menatap matanya yang begitu menghanyutkan itu.
"Katakan kamu mencintai ku sayang...!" kata itu keluar dari mulut mas Sam dengan sangat lembut, membuat ku seperti terhipnotis.
Apalagi saat deru nafasnya menghembus ke wajahku, hangat dan membuat ku makin tak kuasa untuk berpaling dari tatapan mata mas Samuel. Kamu begitu dekat, aku bahkan nyaris memejamkan mata ketika bubur itu hampir menempel...
"Naira!" suara ibu memanggilku.
Aku langsung mendorong mas Samuel menjauh, aku melihat mas Sam mengepalkan tangannya dan memukulkannya ke udara.
"Naira!" panggil ibu lagi.
"Iya Bu, Naira di teras belakang!" jawab ku dengan suara yang sedikit keras.
__ADS_1
"Mas, aku temui ibu dulu ya!" ucap ku pada mas Samuel.
Tapi baru aku melewatinya dan berjalan dua langkah meninggalkan nya, tangan ku di tahan oleh tangan kekar mas Samuel.
Dia mendekat dan berbisik di telingaku.
"Setelah urusan mu selesai dengan ibu mu, temui aku di kamar ya!" bisik mas Samuel membuat buku kudukku meremang.
Aku tidak menjawab, rasanya seperti ada sengatan listrik ketika bibirnya mengenai daun telinga ku. Aku langsung menjauh dan mencoba melepaskan tangan ku.
"Tidak akan aku lepas sebelum kamu menjawab iya!" seru mas Sam.
"I... iya mas!" jawab ku dan mas Sam pun melepaskan tangan ku.
Aku langsung berjalan cepat masuk ke dalam rumah, dan mencari ibuku. Aku masih berusaha menetralkan nafasku dan debaran jantungku yang tidak beraturan. Sudah sering mas Sam menyentuh ku, tapi tetap saja setiap kali selalu menimbulkan efek yang luar biasa. Dan aku seperti merasa sangat haus, tenggorokan ku tiba-tiba terasa sangat kering.
"Astaga Nai, ibu dari tadi nyariin kamu tahu!" ucap ibu yang datang dari arah ruang tengah.
Aku menghela nafas panjang, dan menghampiri ibuku.
"Ada apa Bu?" tanya ku pada ibu.
"Ayah mana Bu?" tanya ku yang tak melihat ayah.
"Itu di depan lagi manasin motor, udah ya. Assalamualaikum!" ucap ibu lalu keluar dari dalam rumah.
"Waalaikumsalam!" sahut ku ikut keluar melihat ayah dan ibu sudah berboncengan dan meninggalkan rumah menjauh.
Aku duduk sebentar di teras depan, kenapa kau rasanya seperti mau berperang saja ya. Padahal kan sudah biasa aku dan mas Sam melakukan hal itu, hampir tiap malam bahkan. Karena setelah menikah, aku bahkan belum pernah mengalami datang bulan.
Setelah cukup mengumpulkan keberanian aku memutuskan untuk masuk ke dalam, tapi baru saja akan masuk ke dalam. Ibras datang dengan terburu-buru.
"Assalamualaikum kak, aduh Ibras kebelet nih!" ucapnya langsung masuk ke dalam rumah.
"Kamu gak papa?" tanya ku yang melihat Ibras langsung melempar tas sekolahnya sembarangan dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
"Kayaknya diare kak, minta tolong beliin obat diare dong!" serunya dari dalam kamar mandi.
"Oh oke, sebentar kakak beli dulu!" sahut ku langsung pergi dari rumah menuju warung yang berada tak jauh dari rumah.
__ADS_1
Dan entah kebetulan atau bagaimana, ternyata di warung yang aku datangi tidak ada obat diare yang biasa Ibras konsumsi. Aku pun beralih ke warung yang lain yang letaknya lumayan jauh, bahkan dekat dengan warung sayur yang biasa aku datangi.
Untung saja kali ini obatnya ada, setelah membelinya aku kembali berjalan pulang ke rumah.
Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat mas Sam sedang berdiri bersandar di pintu, dengan tatapan tajam dan tangan yang terlipat di depan dadanya.
"Mas!" sapa ku dan dia malah berbalik dan masuk ke dalam rumah.
Aku langsung menepuk jidat ku sendiri.
"Astaga, sampai lupa bilang mau ke warung beli obat gara-gara buru-buru!" gumam ku lalu masuk ke dalam rumah.
Aku langsung mengetuk pintu kamar Ibras.
"Ibras, ini obatnya!" ucap ku.
Ibras membukakan pintu lalu tersenyum nyengir.
"Makasih ya kak, tadi kakak di cariin tuh sama kak Samuel!" kata Ibras
"Terus kamu bilang apa?" tanya ku.
"Ibras bilang kakak ke warung beli obat diare!" jawab Ibras.
Aku menghela nafas lega, setidaknya Samuel tidak akan begitu marah karena sudah tahu aku pergi kemana.
Setelah memastikan Ibras meminum obat diarenya, aku segera masuk ke dalam kamar. Mas Samuel sedang berdiri di dekat jendela kecil yang mengarah ke arah kebun milik tetangga ku.
"Mas, maaf tadi itu aku...!"
"Aku masih menunggu!" ucapnya dan aku tahu apa yang dia tunggu. Dia masih menunggu aku mengatakan kalau aku mencintainya.
Dengan langkah pelan, sambil aku mengumpulkan keberanian ku. Aku mendekati mas Samuel.
Setelah berdiri di depannya, aku langsung memeluknya dan mengatakan.
"Aku mencintai mu mas, aku mencintai mu!" ucapku sambil memeluk erat suami ku.
***
__ADS_1
Bersambung...