Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
99


__ADS_3

Ketika iringan Samuel dan seorang pria paruh baya yang terlihat begitu karismatik dan wajah yang sangat ramah meskipun dia tidak tersenyum mendekat ke arah pintu masuk ruang meeting. Aku segera menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan.


Jangan tanya betapa gugupnya aku saat ini, tapi aku mencoba untuk tersenyum setulus mungkin. Mereka sudah mendekat, Dina menundukkan sedikit badannya, aku hampir saja mengikuti gerakannya itu. Tapi kemudian aku ingat ucapan bibi Merry, kalau aku adalah istri seorang Samuel Virendra, jadi aku hanya tersenyum ramah sambil menyapanya.


"Selamat siang tuan Rizaldi, selamat datang di Perusahaan kami!" sapa ku persis seperti apa yang telah di ajarkan Dina padaku.


Aku tidak tahu apa ekspresi yang di tunjuk kan oleh Samuel, karena aku benar-benar fokus pada tuan Rizaldi yang aku yakini adalah pria paruh baya yang berdiri di samping Samuel.


Pria itu tersenyum dan menoleh ke arah Samuel.


"Siapa gadis cantik ini? apakah dia sekertaris baru mu Sam?" tanya pria itu terdengar cukup akrab pada Samuel.


Tapi sebelum Samuel menjawab pertanyaan dari tuan Rizaldi, seseorang dari arah belakang tuan Rizaldi maju ke depan dan menyapaku.


"Naira? kaku Naira kan?" tanya seorang pria seusia ku kurasa dan tersenyum menyapa ku.


Aku sepertinya juga mengenal pria itu, tapi aku tidak yakin.


Tuan Rizaldi akhirnya malah beralih dari Samuel pada pemuda itu.


"Kamu mengenalnya nak?" tanya nya.


Dan setelah aku perhatikan, wajah keduanya memang lumayan mirip. Sama-sama tampan, tapi bedanya di pemuda mempunyai lesung pipi di sebelah kiri wajahnya.


"Iya ayah, dia teman ku saat SMP dulu!" jawab nya.


Dan jawaban pemuda itu meyakinkan aku kalau dugaan awal ku tadi memang benar, dia adalah teman ku yang bernama Teddy.


"Ah iya, kamu Teddy kan?" tanya ku takjub.

__ADS_1


Jujur saja aku sangat senang bertemu dengannya, karena dia adalah salah satu teman terbaik ku, kami tidak dekat tapi dia sangat perduli padaku dulu. Dia sering membantuku, dan dia juga selalu menemaniku saat aku menunggu ayah menjemput ku.


Tapi dia yang sekarang dengan dia yang dahulu begitu berbeda, dulu badannya kurus tapi sekarang dia terlihat atletis. Dulu rambutnya klimis dan sekarang, model rambutnya hampir sama dengan Samuel, dan itu membuatnya terlihat keren.


Teddy terlihat membisikkan sesuatu di telinga ayahnya, kami sama sekali tidak bisa mendengarnya. Tapi Samuel yang berdiri di samping tuan Rizaldi, seperti nya bisa mendengarnya dan wajahnya berubah suram.


"Wah Samuel, kurasa aku tidak perlu memikirkan nya lagi, aku akan setuju dengan proyek kerja sama ini. Karena yang menangani proyek ini adalah Teddy, awalnya dia tidak mau, bahkan dia tidak mau tinggal di kota ini. Tapi setelah bertemu dengan sekertaris mu...!"


Ucapan panjang lebar dari tuan Rizaldi itu di sela oleh Samuel.


"Maaf kalau aku harus mengecewakan anda dan putra anda tuan Rizaldi, tapi Naira bukan hanya sekertaris ku, dia adalah istriku!" tegas Samuel.


Wajah tuan Rizaldi dan Teddy sekarang yang menjadi suram, mereka sempat saling pandang kemudian tuan Rizaldi menepuk bahu Teddy.


"Baiklah, kurasa saat ini situasinya tidak kondusif untuk membicarakan proyek penting, kami akan kembali ke hotel dan menjadwalkan meeting lain waktu!" ucap tuan Rizaldi lalu bersalaman Samuel.


"Benar tuan Rizaldi, kurasa aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada istriku. Jadi karena aku tak ingin orang lain memiliki nya, maka aku dengan cepat menjadikannya milik ku!" jawab Samuel yang kurasa seperti sedang menyindir seseorang.


Tuan Rizaldi hanya mengangguk lalu mereka berbalik dan pergi lagi. Aku bingung, apalagi setelah melihat Teddy yang terus menoleh ke arah belakang. Aku mencoba bersikap ramah dan tersenyum padanya, tapi dia malah terlihat sedih. Sedangkan Samuel yang juga menoleh ke belakang malah terlihat sangat marah.


"Ini kenapa sih Dina? memang bisa begini ya, sudah di depan ruang meeting tapi gak jadi meeting?" tanya ku heran.


Dina yang juga seperti sedang berfikir lalu menjawab pertanyaan ku.


"Sebenarnya ini sudah di jadwalkan jauh-jauh hari nyonya, aku juga tidak mengerti. Tapi sepertinya anak tuan Rizaldi itu menyukai nyonya!" ucap Dina begitu blak-blakkan.


Aku terkesiap kaget.


"Heh Dina, kamu ngomong apa sih, gak mungkinlah. Ketemu juga baru hari ini!" ucapku segera menyela Dina.

__ADS_1


Kalau sampai ucapan Dina ini terdengar oleh telinga Samuel, aku tidak tahu hukuman apa yang akan Samuel berikan padaku. Bisa-bisa hutang ku yang sudah setengah milyar itu akan benar-benar menjadi satu milyar. Aku langsung sesak nafas memikirkan itu semua.


"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya ku pada Dina.


"Sebelum ada instruksi dari bos, sebaiknya kita kembali ke ruangan kita nyonya!" jawab Dina.


Aku terdiam, masalahnya aku kan tidak punya ruangan. Tapi aku rasa menunggu di ruangan Samuel, tidak akan membuatnya marah kan. Aku kembali ke dalam ruangan Samuel, begitu aku kembali sudah ada satu buah meja kerja di sisi sebelah kiri Samuel.


"Sejak kapan meja itu ada disini? tadi sewaktu aku pergi bersama dengan Dina ke ruang meeting, meja itu belum ada!" gumam ku pelan.


"Selamat siang nyonya bos!" sapa Riksa dari arah belakang.


Aku berbalik dan melihat Riksa.


"Ini meja siapa?" tanya ku. Aku sebenarnya sudah berpikir kalau ini adalah meja kerja untuk ku. Tapi aku takut salah, makanya aku bertanya pada Riksa.


"Ini adalah meja kerja mu Nai, aku juga bingung. Tadinya meja mu itu ada dalam satu ruangan dengan ku di ruangan sebelah, tapi barusan bos menelpon dan meminta ku memindahkan meja ini kesini! apa yang terjadi? kenapa tidak jadi meeting?" tanya Riksa setelah menjelaskan kenapa meja kerja ku ada di ruangan Samuel.


Aku langsung menghela nafas panjang, aku malah memikirkan apa yang dikatakan oleh Dina tadi, tentang Teddy.


"Tadi itu bahkan tuan Rizaldi sudah berada di depan ruang meeting, tapi tiba-tiba saja saat tuan Rizaldi bicara tentang dia tidak perlu memikirkan lagi dan akan setuju dengan kerja samanya, mas Sam malah menyela dan tuan Rizaldi terlihat muram, lalu bilang kalau akan mengatur ulang jadwal meeting, mereka bilang akan kembali ke hotel!" jelas ku pada Riksa sesuai dengan apa yang aku dengar dan aku lihat tadi.


Riksa terlihat diam dan berfikir.


"Begitu ya, tapi kenapa dari nada bicaranya bos terlihat kesal ya?" tanya Riksa yang membuatku menelan saliva ku dengan susah payah.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2