
Sekarang aku dan mas Samuel kembali melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah ayah Rama. Sepertinya jalanan sudah mulai lancar. Aku penasaran apa yang terbakar tadi sampai jalanan macet dan juga banyak sekali mobil pemadam kebakaran yang di kerahkan untuk memadamkan api.
"Mas, sudah tahu belum sebenarnya apa yang terjadi. Gedung atau bangunan apa yang terbakar tadi?" tanya ku pada mas Samuel.
Aku bertanya karena biasanya dia mang tahu segala macam berita dari ponselnya, tadi itu sewaktu di cafe dia juga sering melihat ke ponselnya. Kupikir mungkin saja dia tahu kan.
"Ada sebuah pabrik kecil yang terbakar, begitulah kalau membangun pabrik di dekat area pemukiman. Jalan masuk yang kecil dan ramai akan membuat mobil pemadam kebakaran sulit menjangkau tempat itu, lagi pula biasanya warga malah akan berduyun-duyun mendatangi tempat itu dan menciptakan kericuhan, jalan makin sempit saja. Sampai para pemadam akan semakin kesulitan menangani kebakaran, dan memadamkan kebakaran yang terjadi!" jelas mas Samuel.
Aku benar kan, dia pasti tahu. Karena suami ku ini memang sangat up to date. Apapun beritanya dia pasti akan tahu lebih dulu daripada aku.
Dan apa yang mas Samuel katakan ini memang benar, kalau ada hal-hal semacam itu biasanya para warga akan sibuk berdatangan karena penasaran dan ingin menonton. Sebagian mungkin akan ada yang berinisiatif membantu, tapi tentu saja tidak akan ada yang punya pikiran seperti itu semua. Pasti ada beberapa orang yang hanya akan diam saja dan menjadi penonton, bahkan mungkin ada yang lebih suka menjadi wartawan dadakan dan merekam kejadian yang tidak seharusnya dia melakukan itu. Bahkan terkadang malah ada yang punya niat tidak baik saat orang lain tertimpa bencana, saat orang lain dengan tulus dan suka rela membantu menyelamatkan barang-barang yang masih bisa di selamat kan dalam kebakaran. Segelintir orang bahkan mencari kesempatan dalam kesulitan orang lain, mereka menyelamatkan barang-barang itu tapi mereka menyelamatkan nya ke toko barang bekas. Yah, mereka menjual nya dan menikmati hasilnya untuk kebutuhan mereka sendiri.
Tapi orang-orang seperti itu hanya beberapa saja, aku yakin kalau masih banyak orang yang baik dan tulus ketimbang orang-orang semacam itu.
"Dan apa kamu tahu, kerugiannya di taksir belasan milyar. Aku rasa dari pengusaha kaya raya yang sukses, dia akan menjadi seorang yang punya banyak hutang dan...!"
"Mas, apa benar bisa separah itu?" tanya ku menyela ucapan mas Samuel.
Masalahnya aku sungguh tidak tahu hal yang seperti itu, apa iya orang yang hidupnya bergelimang harta bisa dalam sekejap menjadi orang yang seperti mas Samuel katakan tadi. Rasanya tidak mungkin kan.
"Tentu saja, pengusaha seperti kami ini biasa bermain dengan uang yang sangat besar, kalau beruntung kami akan dapat untung besar, tapi kalau kami sedang tidak beruntung ya...!" mas Samuel menjeda kalimatnya sambil mengangkat bahunya.
Aku makin cemas saja, apa hal itu juga akan berlaku pada mas Sam.
__ADS_1
'Ya Tuhan, tolong jauhkan segala hal buruk dari suami ku. Tolong bantulah setiap masalah suami ku ya Tuhan. Amin' aku berdo'a dalam hati.
"Apa kamu pernah dengar berita beberapa bulan lalu, tentang seorang pengusaha kaya raya yang meninggal karena gantung diri?" tanya mas Samuel membuat ku mengernyitkan kening.
"Bunuh diri?" tanya ku sambil menelan saliva ku dengan susah payah.
Mas Samuel mengangguk kan kepalanya.
"Benar, awalnya dia adalah pengusaha yang sukses dan berjaya, begitu kaya istri dan anaknya sangat mencintainya. Bisa di bilang mereka adalah keluarga yang sangat bahagia, dia juga adalah salah satu rekan kerjaku. Namanya Harun, dia sangat baik. Tapi karena dia menginvestasikan semua kekayaan pada salah satu perusahaan yang saat itu sangat maju, tapi sayang management nya bermasalah, semua hartanya habis. Perusahaan nya bangkrut, untuk menggaji karyawan dan membayar pesangon dia harus menjual seluruh aset yang dia punya, anak dan istrinya meninggalkannya, dan saat itu dia datang ke perusahaan untuk mengajukan pinjaman...!"
"Kamu memberikan nya kan?" tanya ku begitu penasaran.
"Sayangnya kamu tahu kan, meskipun aku adalah CEO perusahaan itu, saham ku disana hanya 47 % saja. Ada saham ayah dan beberapa pemegang saham lain, sayang nya ayah saat itu sedang di luar negeri, dan para pemegang saham yang lain tidak setuju karena perusahaan itu sudah nyaris hancur, dan tidak bisa di selamat kan lagi. Para pemegang saham yang lain mengatakan kalau akan sama saja bunuh diri kalau memberikan pinjaman pada Harun!" mas Samuel menjeda lagi kalimatnya.
"Dan dia hari selanjutnya, kami mendengar kabar itu. Harun bahkan meninggalkan surat wasiat, kalau asuransi jiwanya bisa di pakai untuk membayar semua gaji art di rumahnya beserta pesangon nya!" mas Samuel menghela nafas berat.
Aku bahkan tidak bisa membayangkan betapa parahnya itu. Ternyata kehidupan orang kaya bisa seperti itu. Dalam sekejap mereka bahkan bisa kehilangan segalanya. Benar-benar memang tidak akan ada yang abadi di dunia ini. Tidak akan ada.
"Sayang, tapi kamu jangan cemas. Ayah ku selalu mengajar kan agar tidak terlalu ambisius jadi pengusaha. Kami selalu menerapkan hal itu, hingga kami tidak akan berani mengambil resiko mempertaruhkan 100% apa yang kami punya. Kamu tenang saja!" ucap mas Samuel yang sepertinya mengerti kekhawatiran ku.
Kami pun tiba di depan gang rumah ayah, tapi anehnya mas Samuel tidak langsung masuk ke dalam gang. Tapi malah menepikan mobilnya di samping toko buku ko Acong.
"Mas, mau beli buku?" tanya ku penasaran.
__ADS_1
Mas Samuel tidak langsung menjawab, dia hanya tersenyum lalu membuka sabuk pengaman nya.
"Sebentar ya sayang, aku punya kejutan untuk mu!" jawab mas Samuel yang langsung keluar dari dalam mobil.
Dia lalu berjalan melewati depan mobil ke arah ku dan membuka pintu mobil untuk ku.
"Silahkan sayang, hati-hati!" ucap nya sambil mengulurkan tangannya padaku untuk membantu ku turun dari mobil.
Mas Samuel kembali menutup pintu dan mengunci secara otomatis pintu mobil.
"Ini toko buku tepat mu bekerja dulu kan?" tanya mas Samuel dan aku langsung mengangguk kan kepala ku.
"Aku sudah menghubungi pemilik toko ini, hari ini istri tersayang ku ini akan bekerja seperti dulu disini. Dan aku akan menemani mu!" ucap mas Samuel membuat ku sangat senang.
Sanking senangnya aku bahkan tidak sadar telah memeluk mas Samuel dengan sangat erat.
"Terimakasih mas!" ucap ku dengan wajah memerah kurasa.
"Kalau tahu akan di peluk begini, sudah sejak lama aku melakukan ini!" gumam mas Samuel yang menggandeng tangan ku masuk ke dalam toko buku ko Acong.
***
Bersambung...
__ADS_1