
Riksa mengajak ku ke meja makan, di sana Riksa meminta para pelayan untuk mengeluarkan satu set peralatan makan lengkap dan meminta pak Ranu untuk menyusun sesuai dengan tempat yang seharusnya.
Tentu saja aku menunjukkan ekspresi yang sangat takjub saat melihat berbagai peralatan makan yang sudah tersusun rapi di depannya. Piring dan mangkuk terlihat tersusun rapi di atas meja. Bahkan ada 3 pisau dan 3 garpu di sana, tak lupa juga ada 3 sendok dan 3 gelas.
Dan tentu saja aku juga menunjukkan ekspresi tidak mengerti pada Riksa, tapi kemudian Riksa meminta ku untuk duduk di kursi yang sudah dia tarik sebelumnya.
"Duduk lah, aku akan jelaskan!" seru Riksa.
Dengan tanpa ketahuan sedikit pun, aku duduk dan melihat berbagai ukuran sendok dan garpu di hadapan ku. Tidak sampai disitu saja, pak Ranu bahkan masih mengeluarkan satu pisau dengan ukuran yang lebih kecil dari ketiga pisau yang tersusun rapi di sebelah kanan piring yang ada di hadapan ku.
Aku heran, untuk apa ada sendok dan garpu sebanyak ini. Apakah semua peralatan ini akan terpakai.
"Semua ini akan ada pada saat makan malam di hotel atau restoran bintang lima, ini garpu yang dipakai untuk salad, dan ini pisaunya!" jelas Riksa padaku sambil menunjuk ke arah garpu dan pisau yang ada di urutan pertama.
"Makan salad harus pakai pisau? bukannya salad itu hanya berisi sayuran?" tanya ku pada Riksa.
Riksa terkekeh pelan, aku bahkan melihat pak Ranu dan salah satu asistennya juga menahan tawa mereka pelan.
"Memang benar, tapi terkadang mereka menyajikannya dengan potongan yang sangat besar, dan saat makan malam seperti ini kamu tidak boleh terlihat berantakan saat makan, maka gunanya pisau ini adalah untuk memotong lebih kecil ukuran sayuran supaya saat makan lebih mudah dan lebih rapi!" jelas Riksa lagi.
Aku langsung mengangguk paham.
"Dan ini adalah mangkuk sup, saat pelayan menyajikan sup, maka kamu bisa menggunakan sendok yang ini!" ucapnya sambil menunjuk ke sendok yang berada di tengah sendok besar dan juga sebuah pisau yang bentuknya berbeda dari kedua pisau lainnya.
Aku lagi-lagi mengangguk, aku rasa aku akan bisa mengingatnya. Karena sendok nya lebih kecil dari sendok yang berada di sebelah nya.
"Ini adalah pisau untuk memotong ikan, yang seperti ini untuk daging, dan ini adalah garpu untuk makan seafood!" jelas Riksa lagi sambil menunjuk satu persatu benda yang dia maksud.
"Bagaimana, ini cukup mudah bukan. Atau kamu bisa melirik sekilas nanti ke arah bos, agar tidak salah!" ucap Riksa yang aku tanggapi dengan anggukan kepala lagi.
"Setelah selesai makan susun garpu dan juga pisau nya seperti ini!" jelas Riksa sambil menyusun garpu dan juga pisau secara horizontal.
__ADS_1
"Kenapa begitu?" tanya ku yang tidak paham sama sekali kenapa harus seperti itu.
"Ini adalah sebuah apresiasi bagi koki dan juru masak, tandanya kamu menyukai makanan yang mereka sajikan. Mereka akan tersenyum saat kamu mengapresiasi apa yang mereka lakukan, jangan menyilangkan seperti ini mereka akan sedih!" jelas Riksa sambil menunjukkan susunan garpu dan pisau yang tidak boleh aku buat nanti.
Aku mengangguk perlahan, dan asisten pak Ranu datang membawa semangkuk sup untuk ku.
"Wah, baunya enak sekali!" ujar ku terus terang.
Tapi ketika aku akan menyendok sup itu ternyata aku salah mengambil sendok yang seharusnya.
"Naira...!" sela Riksa.
Aku hanya bisa nyengir dan meletakkan sendok yang salah itu kembali ke tempatnya dan mengambil sendok yang benar. Aku segera menyendok kan sup itu dan memakannya.
"Em, ini enak sekali!" ucap ku jujur.
Author POV
Tapi Riksa terlihat menghela nafasnya dan mendekati Naira. Riksa berada di belakang Naira dan memegang tangannya.
"Tapi seperti ini, di sendokkan dari arah luar ke dalam, bukan dari dalam keluar!" jelas Riksa juga sambil mempraktekkan nya dengan Naira.
"Ekhem!" terdengar suara deheman berat dari arah belakang Riksa.
Riksa menoleh dengan cepat karena dia sudah mengetahui siapa yang sedang berdehem kasar itu. Riksa langsung melepaskan tangan Naira dan memberi salam pada Samuel.
"Selamat malam bos!" sapa Riksa sedikit canggung.
Sebenarnya Samuel sudah sejak tadi memperhatikan apa yang di lakukan Naira dan juga Riksa, tapi dia mencoba untuk tenang dan hanya memperhatikan. Tapi saat Riksa memegang tangan Naira, tangan Samuel terlihat mengepal dan dia keluar dari tempatnya sejak tadi memperhatikan Naira dan juga Riksa.
"Sudah selesai belum?" tanya Samuel mengacuhkan Riksa dan berjalan melewatinya lalu menarik lengan Naira.
__ADS_1
"Su..sudah tu..!" Naira baru saja akan memanggilnya tuan. Tapi Samuel memelototi nya dan membuat Naira langsung menutup rapat mulutnya.
"Ayo, ganti pakaian!" ucap Samuel mengajak Naira pergi dari tempat itu dan berjalan masuk ke kamar mereka.
Riksa dan pak Ranu hanya saling pandang melihat semua itu.
"Yang sabar ya tuan Riksa, seperti nya tuan Samuel mulai posesif pada nyonya!" seru oak Ranu yabg mendekati Riksa dan menepuk pelan bahunya.
Riksa segera menoleh ke arah pak Ranu.
"Nyonya?" tanya Riksa heran.
"Iya tuan, apa tuan Riksa tidak melihat tanda itu di leher nyonya muda?" tanya pak Ranu uang membuat Riksa mematung dan terdiam.
Seharusnya dia ikut senang seperti yang lainnya, tapi ada rasa cemas dihatinya. Dia lah satu-satunya orang yang mengetahui kalau pernikahan Samuel dan Naira itu hanya pernikahan kontrak, dan status Naira di mata Samuel hanya istri kontrak. Lalu kenapa Samuel yang begitu bersikeras tidak akan tertarik dan tidak akan pernah menyentuh Naira malah mengingkari apa yang dia ucapkan sendiri.
Riksa terlihat gelisah, tapi karena sikap Samuel tadi padanya. Dia merasa kalau sekarang bukanlah waktunya dia untuk bertanya pada Samuel.
"Baiklah pak Ranu, aku akan pergi ke ruang kerja bos. Ada yang harus aku kerjakan!" ucap Riksa lalu pergi ke ruang kerja Samuel.
Sementara di dalam kamarnya, Samuel memberikan tiga buah paper bag pada Naira.
"Coba satu persatu, aku mau lihat mana yang cocok untuk mu!" seru Samuel dan langsung duduk di tepi tempat tidur.
Naira perlahan meraih paper bag itu dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi tanpa menjawab Samuel.
Setelah masuk ke dalam kamar mandi, Naira mengambil salah satu paper bag dan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya, sebuah gaun berwarna merah dengan lengan panjang tapi dengan kerah yang sangat pendek. Naira sempat bergidik saat mengepaskan gaun itu di tubuhnya.
Lalu dia beralih ke paper bag yang kedua, masih dengan warna merah tapi berpadu dengan warna hitam, kerahnya lumayan tinggi, tanpa lengan, tapi belahan di sebelah kanannya nyaris sampai ke pahanya saat dia mengepaskan dengan tubuhnya.
Dia tidak berkomentar tapi langsung meletakkan pakaian itu, dia mengambil paper bag yang terakhir. Dan mengeluarkan isinya dari dalam nya, bahkan yang terakhir lebih parah, hanya satu tali dan Naira langsung meletakkan gaun itu tanpa mengepaskan nya di tubuhnya.
__ADS_1
***
Bersambung...