
"Kami tidak akan banyak bicara dengan mu, kami sudah dengar tentang amnesia yang kamu alami. Kami juga tidak mengharapkan banyak hal darimu. Tapi kami hanya minta agar kamu jangan pernah membuat putri menangis karena selama hidupnya kami tidak pernah membiarkan putri kami mengalirkan air mata kesedihan, hanya itu. Masalah ekonomi dan lainnya, kami juga tidak akan pernah berharap padamu. Sampai kamu sembuh dan ingat apa yang telah terjadi, saat itu kita baru bicara lagi! kami pulang dulu!" ucap Kevin dengan tatapan dingin pada Adam.
Lisa yang juga ada disana bahkan tidak mau sama sekali melihat ke arah Adam, dia masih kesal karena Adam menyebabkan semua ini terjadi pada Vina, putri tunggal nya.
Setelah bicara, tanpa mendengar apapun reaksi dan jawaban Adam. Kevin langsung berjalan menuju kembali ke dalam rumah di ikuti langsung oleh Lisa.
Adam juga tidak bereaksi berlebihan, dia hanya diam duduk di kursi rodanya dan hanya memandangi punggung Kevin dan Lisa yang berjalan meninggalkan nya.
'Huh, kenapa semua orang selalu berpikir aku ini tidak bisa melakukan apapun, apa di pikiran mereka aku terlihat sangat menyedihkan?' tanya Adam dalam hatinya.
Adam membuang muka dan melihat ke arah taman bunga yang di rawat oleh sang ibu. Dia merasa sangat kesal dalam hatinya karena ucapan ayah mertuanya itu menurutnya sama saja dengan menganggapnya tidak bisa memberikan apapun pada Vina. Adam sendiri memang tidak bekerja di perusahaan Virendra, tapi dia bukan pengangguran. Dia punya usaha ekspedisi sendiri yang sedang di upayakan untuk bisa berkembang. Tapi semua orang memang belum tahu tentang hal itu, Adam mau memberitahukan usahanya itu pada semua orang disaat dia sudah benar-benar sukses. Tapi sepertinya karena hal itu justru membuat semua orang berpikir kalau dia tidak punya pekerjaan dan hanya merepotkan kedua orang tuanya untuk semua kebutuhannya.
Saat masuk ke dalam ruang keluarga, Stella kembali mengajak Naira dan Puspa untuk menyapa Kevin dan Lisa.
"Hei, kemari temani ibu mengantar ayah dan ibu Vina ke depan!" ajak Stella pada Naira dan Puspa.
Wanita paruh baya yang masih terlihat muda dan modis itu langsung menarik lengan Naira dan Puspa membuat keduanya terkejut karena sedang ikut memperhatikan surat perjanjian yang sedang di baca oleh Vina.
"Mari kami antar ke depan!" sapa Stella.
"Vina!" panggil Puspa pada Vina yang masih serius.
"Ah, iya...!" sahut Vina yang juga ikut berdiri dan mengantar kedua orang tuanya yang akan pulang dan meninggalkan kediaman Virendra.
Lisa memeluk Vina dengan sangat erat saat akan masuk ke dalam mobilnya.
"Ingat untuk selalu menghubungi ibu apapun yang terjadi, ya!" ucap Lisa yang matanya kembali berkaca-kaca.
Vina hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Stella yang melihat Lisa begitu khawatir lalu menghampiri Vina dan merangkul menantu bungsunya itu.
"Besan, tenang saja. Vina akan aman bersamaku di sini. Aku janji!" ucap Stella meyakinkan Lisa kalau dia juga pasti akan menjaga Vina dengan baik.
__ADS_1
Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Stella, Lisa menghela nafas lega. Dia pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman Virendra.
Stella mengajak semua menantunya masuk dan meminta agar Naira, Vina dan juga Puspa beristirahat. Dia juga sudah lelah, dan dia juga pamit istirahat pada ketiga menantunya. Sedangkan Damar, setelah makan siang tadi. Ada pekerjaan penting yang harus dia kerjakan hingga dia harus segera kembali ke kantor. Kakek Virendra juga sudah istirahat di dalam kamarnya setelah makan siang dan minum obatnya.
Saat Naira dan Puspa akan ke kamar Naira untuk istirahat. Vina memanggil mereka, hingga mereka berdua berbalik dan menunggu Vina menghampiri mereka berdua.
"Iya, ada yang bisa kami bantu?" tanya Naira dengan ramah.
Sementara Puspa malah melihat ke arah taman dan dia melihat Adam masih disana, sendirian duduk di kursi rodanya.
Vina juga langsung melayangkan pandangan nya ke arah pandangan Puspa.
"Suami mu kenapa? apa mungkin orang tua mu tadi habis mengomelinya?" tanya Puspa yang terbiasa bicara terus terang dan blak-blakan.
Naira yang merasa tidak enak pada Vina, langsung menyikut lengan Puspa pelan.
"Puspa!" protes Naira.
Vina hanya tersenyum.
"Aku tidak tahu tentang hal itu, mungkin saja iya. Tapi aku ingin bertanya sesuatu pada kalian?" tanya Vina.
"Tentang apa? tanyakan saja, kalau kami tahu pasti kami beritahu!" jawab Naira dengan mantap.
Vina terdiam sejenak, dia merasa kalau semua yang dikatakan Caren padanya tentang Naira itu memang tidak ada yang benar. Dia sudah bersama Naira beberapa saat dan bertemu dengannya dan Samuel beberapa kali. Dari pandangan Vina, Naira itu perempuan yang baik. Tidak sombong ataupun arogan sama sekali seperti yang di katakan oleh Caren padanya.
"Hei, katanya mau tanya? mau tanya apa? kenapa malah bengong?" tanya Puspa tidak sabaran.
"Em, iya. Apa kalian tahu apa pekerjaan Adam?" tanya Vina yang langsung membuat Puspa dan juga Naira saling pandang.
Naira baru menyadari hal itu, selama ini dia berada di kediaman ini dan juga menjadi istri Samuel. Dia bahkan tidak tahu Adam itu bekerja atau tidak. Dia pun melihat ke arah Puspa.
__ADS_1
"Kamu tahu apa pekerjaan Adam?" tanya Naira.
Puspa sendiri pernah dengar kalau Adam membangun bisnis sendiri tapi karena selama ini dia juga sibuk dengan butiknya, dia tidak pernah bertanya tentang hal itu pada Adam. Merasa tidak enak kalau menjawab tidak tahu, dan itu akan terkesan mereka tidak perduli pada Adam. Naira memilih untuk tersenyum sambil berkata.
"Kenapa tidak kamu tanyakan saja pada Adam, Vina. Itu akan membuat kalian punya topik untuk di bicarakan bukan?" tanya Naira.
Puspa juga setuju, dia mengangguk kan kepalanya dan menambahkan kalimat yang tadi di katakan oleh Naira.
"Benar Vina, kalian bisa semakin dekat kan kalau kalian sering ngobrol. Sudah sana, kamu samperin itu Adam. Ajak dia ngobrol supaya kalian semakin dekat!" sambung Puspa.
Vina malah mengernyitkan keningnya mendengar apa yang dikatakan oleh Puspa dan Naira.
'Perasaanku saja atau memang seperti nya semua orang di rumah ini kurang perhatian pada Adam? atau memang Adam yang menutup diri dari mereka?' tanya Vina dalam hati.
"Baiklah, terimakasih sarannya. Aku akan menemui Adam sekarang!" ucap Vina. Tapi baru dia akan melangkah maju, Puspa lagi-lagi berseru.
"Hati-hati ya, good luck!" seru Puspa begitu saja.
Naira yang mendengar apa yang dikatakan oleh Puspa segera menyikut lengan Puspa lagi.
"Kenapa bilang begitu?" gumam Naira bertanya pada Puspa.
"Astaga!" ucap Puspa menutup mulutnya dengan tangan.
"Tidak apa-apa Vina, kami pergi dulu ya!" ucap Puspa sambil menarik lengan Naira perlahan menuju ke kamar Naira.
Vina menghela nafas berat sebelum melangkah lagi. Melihat tingkah dua wanita yang adalah kakak ipar dan calon kakak iparnya itu, Vina tahu kalau tidak akan mudah baginya menghadapi Adam.
***
Bersambung...
__ADS_1