Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
45


__ADS_3

Author POV


Seperti nya Riksa sangat terkejut dengan apa yang baru saja di katakan oleh Naira di telepon. Setelah Naira mematikan panggilan teleponnya, Riksa yang masih sibuk dengan persiapan di ballroom hotel segera menemui asistennya dan memintanya untuk menggantikan tugas nya mengawasi setiap penyelesaian persiapan.


"Dika!" panggil Riksa pada asistennya.


Dika datang menghampiri Riksa, pria yang berusia dua tahun lebih muda dari Riksa itu berdiri tegap du hadapan Riksa.


"Aku ada urusan, kamu tolong awasi disini ya. Dan ingat untuk menyelesaikan semuanya sebelum pagi! kalau memang harus kerja lembur, kamu atur saja minta sekertaris mu untuk mencatat nya, jangan lupa konsumsi untuk mereka, dan yang terlihat memang sudah lelah, sebaiknya gantikan dengan orang lain. Jangan sampai ada kekurangan apalagi kesalahan! Mengerti!" tegas Riksa pada Dika asistennya.


Dika yang mendengarkan dengan seksama segera menganggukkan kepalanya.


"Mengerti mas!" jawab nya dengan yakin.


Riksa lalu memutuskan untuk pergi dari tempat itu, ada hal yang penting yang harus dia sampaikan pada Samuel. Ternyata apa yang dia cemaskan benar-benar terjadi. Sebenarnya Riksa sudah meminta anak buahnya mengawasi Natasha dan juga Melinda, tapi sepertinya mereka berhasil lolos dari pengawasan anak buah Riksa.


Memang bukan hal yang mudah juga mengerjakan tugas itu, anak buah keluarga Morgan juga tidak bisa di anggap remeh.


Riksa sudah berada di dalam mobilnya, dia menghubungi Pak Ranu, kepala asisten rumah tangga yang ada di rumah Samuel untuk memastikan apakah Samuel ada disana atau tidak.


Tut Tut


"Selamat malam tuan Riksa!" sapa Pak Ranu.


"Selamat malam pak Ranu, apakah tuan Samuel ada di rumah?" tanya Riksa cepat.


"Ada tuan, bahkan nyonya besar juga ada!" jawabnya.


Jawaban dari pak Ranu itu membuat Riksa terkekeh, karena dia sudah bisa menebak apa yang di lakukan oleh Stella di rumah Samuel.


"Apa tuan Samuel mu sekarang sedang mengamuk?" tanya Riksa yang sebenarnya sudah tahu apa jawaban pak Ranu.


"Bagaimana ya tuan, dia sangat kesal sepertinya tapi dia tidak berani protes pada nyonya besar!" jelas pak Ranu berhati-hati.


"Baiklah, terimakasih pak Ranu!" ucap Riksa lalu memutuskan panggilan telepon nya. Dan Riksa bergegas ke rumah Samuel.


***


Sementara itu di rumah Samuel, pria yang seharusnya sudah ingin istirahat satu jam yang lalu itu malah harus menahan kesal akibat kamarnya yang sedang di rombak oleh seseorang.


Dan seseorang itu tidak lain tidak bukan adalah ibunya sendiri Stella. Ketika Samuel sudah akan berbaring di tempat tidurnya, setelah datang dengan membawa semua asisten nya yang jumlahnya ada empat orang. Mereka bahkan sudah membawa berbagai macam barang yang akan di gunakan untuk menghias kamar Samuel menjadi sebuah kamar pengantin.


"Ibu, lakukan saja besok pagi. Aku mau tidur!" keluh Samuel.

__ADS_1


"Heh, siapa yang melarang mu tidur? kamu bisa tidur di kamar yang lain, ibu mau mengawasi pekerjaan mereka, kalau besok pagi ibu kan mau menjemput ayah mu di bandara, sudah diam. Kamu pergi saja sana ke kamar lain!" ucap Stella dengan entengnya.


Samuel mendengus kesal.


"Ibu, kamar lain tidak senyaman disini!" bantah Samuel.


"Kalau begitu buat kamar yang lain senyaman sama seperti kamar ini, jangan pelit!" balas Stella tak mau kalah.


Samuel kembali mengacak rambutnya, dan memilih untuk keluar saja dari kamarnya yang sedang di rombak oleh ibunya dan juga asisten ibunya. Dia sungguh tidak ingin berdebat, pasti akan percuma saja. Dia tidak akan menang berdebat dengan sang ibu.


Dengan langkah malas, Samuel menghampiri Pak Ranu yang sejak tadi juga berdiri di luar kamar. Pak Ranu sedang berjaga saja, kalau-kalau nyonya besarnya, Stella membutuhkan bantuannya.


"Pak Ranu!" panggil Samuel dengan suara pelan karena memang pak Ranu berada tak jauh dengannya saat ini.


Pak Ranu segera mendekat dan sedikit membungkukkan badannya.


"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Ranu dengan sopan.


"Bereskan kamar tamu, aku mau tidur disana saja malam ini. Sudah ngantuk sekali ini!" seru Samuel.


Pak Ranu mengangguk kan kepalanya paham, tapi kemudian dia ingat kalau tadi Riksa menghubungi nya.


Samuel sudah berjalan beberapa langkah ketika Pak Ranu menghentikan nya dengan memanggilnya.


"Maaf tuan Samuel!" panggil pak Ranu sopan.


"Kenapa pak Ranu?" tanya nya santai.


"Tadi tuan Riksa menghubungi saya, dan menanyakan apakah tuan Samuel ada di rumah atau tidak!" jelas pak Ranu.


Samuel mengangguk beberapa kali


"Ya sudah, pak Ranu bereskan kamar tamu saja! beritahu pelayan, kalau dia datang aku ada di area kolam renang!" jelas Samuel lalu pergi meninggalkan Pak Ranu menuju ke bagian belakang rumahnya.


Rumah Samuel ini memang besar, tapi hanya terdiri dari satu lantai saja. Meski begitu ruangan yang ada disini sangat luas, ada kamar tiga buah kamar tamu dan satu kamar tidur utama yaitu milik Samuel. Satu dapur yang sangat besar, dan juga ruang makan yang besar, ruang tamu yang luas dan masih ada rumah keluarga juga. Rumah kerja Samuel, area biliar, dan mini bar yang sengaja dibuat khusus oleh Samuel. Juga masih ada area kolam renang yang cukup luas, dan taman di belakang rumah yang belum di pakai.


Rumah ini adalah rumah pribadi Samuel, dia memilih untuk tidak tinggal di Mansion Virendra karena ingin mandiri saja. Lagipula rumah ini lebih dekat dengan kantor nya. Dan dia bisa menata apapun di rumah ini sesuai keinginan nya.


Karena jujur saja, selera Samuel sangat jauh berbeda dengan Ibunya. Samuel juga ingin mempunyai tempat dimana dia bisa mendapatkan privasi bagi dirinya. Dia berjalan perlahan membuka pintu kaca yang menjadi pembatas kolam renang dengan sebuah ruangan kecil yang terlihat seperti perpustakaan. Banyak rak buku dan buku-buku tebal yang sudah tersusun rapi. Ada dua buah sofa single yang sangat besar dan di lengkapi juga dengan bantalan sofa nya.


Semua benda dan perabotan di rumah ini memang di dominasi dengan warna putih, Samuel itu sangat mencintai kebersihan.


Samuel duduk di sebuah kursi santai panjang yang memang di letakkan di pinggir kolam. Dia merebahkan tubuhnya dan menatap ke arah langit malam yang malam ini tampak cerah, karena ribuan bintang dapat di lihat oleh Samuel dari tempatnya berbaring.

__ADS_1


Samuel sedang memikirkan acara besok, sebenarnya kalau ada cara lain untuk menghindari perjodohan dengan keluarga Morgan, tentu saja dia tidak akan memilih cara yang seperti ini. Bagaimana pun juga sebenarnya dalam hati kecilnya, Samuel juga ingin menikah itu hanya satu kali dengan wanita yang benar-benar dia cintai. Tapi terkadang kenyataan memang tidak bisa berjalan sesuai dengan harapan.


Dan keinginan Samuel hanyalah agar rencana pernikahan nya besok itu berjalan dengan baik dan sesuai dengan rencana.


Samuel memejamkan matanya sekilas, tapi dia kembali membuka matanya dengan cepat dan bangkit dari posisi berbaring. Dia duduk dengan cepat dan mengusap wajahnya kasar.


"Sial, kenapa bayangan perempuan itu selalu muncul ketika aku memejamkan kan mata sih?" tanya Samuel mengeluh dan mengacak rambut nya kesal.


Samuel jadi kesal, karena saat dia memejamkan mata tadi bayangan Naira yang memakai gaun pengantin itu kembali muncul dan itu membuat Samuel kesal.


"Ini semua gara-gara ibu, kalau saja ibu tidak mengirimkan gambar itu, aku tidak akan terus mengingat nya seperti ini!" keluh Samuel lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana kerjanya.


Samuel menghidupkan ponselnya dan mencari gambar Naira, niatnya adalah untuk menghapus gambar itu dari galeri di ponselnya. Tapi sebelum bisa menemukan gambar Naira yang dikirim kan oleh Stella, Samuel lebih dulu menemukan video saat Naira menarik sepedanya yang terjepit antara dua buah motor di gerai ayam geprek tempat pertama kali mereka bertemu.


Samuel memutar video itu, dan memperhatikan betapa cerobohnya Naira saat itu sampai membuat kerusakan di mobil miliknya. Sebenarnya biaya perbaikan waktu itu tidak sampai tiga puluh juta, tapi tentu saja Samuel tidak akan mengatakan kebenaran nya itu pada Naira.


Samuel melihat video nya sampai selesai dan terkekeh melihat tingkah konyol Naira di dalam video. Dia bisa saja kabur saat itu juga karena memang tidak ada yang melihat kejadian itu sama sekali selain dirinya seperti nya. Tapi dia malah mematung dan mendekati mobil itu seperti menunggu pemilik nya datang dan memarahi nya.


"Dasar ceroboh!" gumam Samuel.


"Siapa yang ceroboh bos?" tanya Riksa yang beru saja datang.


Samuel terlihat salah tingkah, dia dengan cepat mematikan ponselnya dan memasukkan nya ke dalam sakunya.


"Tidak ada! ada apa?" tanya Samuel mengalihkan perhatian Riksa.


Riksa terlihat menghela nafas berat sebelum mengatakan maksud kedatangan nya pada Samuel.


"Bos, Melinda dan Natasha Morgan mendatangi rumah Naira dan mengancamnya!" seru Riksa.


Samuel yang tadinya duduk di kursi santai lantas berdiri dan mendekat Riksa, wajahnya serius.


"Ck... bukankah kita sudah meminta banyak orang menghalangi akses mereka menemukan rumah Naira, kenapa bisa seperti itu? bagaimana dengan Naira dan keluarga nya?" tanya Samuel yang terlihat sangat kesal.


"Maaf bos, tapi kurasa mereka memang harus di waspadai. Untung saja para tetangga Naira kompak membela Naira dan adiknya, mereka sangat percaya pada Om Rama dan tidak mendengarkan hasutan Natasha dan Melinda yang menjelek-jelekkan Naira!" jelas Riksa.


"Apa yang mereka katakan tentang Naira?" tanya Samuel dengan wajah serius.


"Mereka bilang Naira adalah wanita perebut tunangan orang, tapi karena tetangganya sudah mengenalnya dengan baik. Mereka membela Naira dan mengusir Natasha dari sana!" jelas Riksa dan Samuel menghela nafas lega.


"Tapi itu disana bos, di tempat dimana pasti ada yang menolong Naira, kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika Natasha menemui Naira saat Naira sendirian dan di tempat yang tidak ada satu orang pun bisa membantu nya!" ucap Riksa menjelaskan apa yang dia cemaskan.


"Jadi, kita harus bagaimana?" tanya Samuel pada Riksa.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2