
Acara selanjutnya adalah acara makan makan, semuanya mengambil tempat masing-masing dan mengobrol. Puspa sejak tadi memintaku agar meminta asisten rumah tangga untuk menyimpan kado yang mereka semua berikan padaku di dalam kamar.
Lalu setelah makan siang, Puspa mengajak ku untuk mengobrol berdua saja di tepi kolam renang.
"Sudah kamu simpan kan kadonya?" tanya Puspa padaku.
Aku menganggukan kepalaku beberapa kali pertanda kalau apa yang dia katakan sejak tadi itu sudah aku lakukan. Dan setelah mendengar jawabanku aku melihat Puspa menghela nafasnya lega.
"Fuih, kau tidak daerah isi kado yang diberikan oleh Riksa tadi itu sebenarnya sama dengan yang aku berikan padamu!" jelas Puspa.
Aku langsung mengernyitkan keningku tapi beberapa detik kemudian setelah saling pandang bersama dengan Puspa kami pun tertawa bersama-sama.
"Ha ha ha, yang benar saja. Aku tidak tahu seperti apa mas Sam kalau dia melihat isi kado yang diberikan oleh Riksa!" ucap ku sambil terpingkal.
"Ha ha, awalnya aku berpikir untuk mengerjai pria kaku itu, tapi ketika melihat reaksi Samuel yang tiba-tiba menghadangnya kemudian mengambil hadiah itu dengan paksa. Aku jadi tidak tega padanya!" jelas Puspa.
"Kenapa kamu ingin mengerjai Riksa?" tanya ku.
Sebenarnya aku merasa ada berasa yang tidak senang mendengarkan apa yang dikatakan oleh Puspa barusan kalau dia sebenarnya ingin mengerjai Riksa. Aku seperti sangat tidak senang saja meski Puspa juga adalah sahabat ku.
Puspa tidak langsung menjawab pertanyaanku dan menggandeng tanganku lalu mengajakku duduk di kursi yang ada di tepi kolam renang.
"Kamu tahu, dia itu sangat kaku!" ucapnya dengan wajah yang sepertinya bisa aku arti kan kalau dia sepertinya habis dibuat kecewa oleh Riksa.
Aku sebenarnya tidak membantah apa yang dikatakan oleh Puspa apa yang diucapkan itu memang benar. Kalau Riksa itu orangnya memang sangat kaku, tapi meskipun begitu dia itu sangat baik.
Jadi aku hanya mengangguk sekali pertanda bahwa aku setuju dengan apa yang dikatakan oleh Puspa.
__ADS_1
"Kamu benar, tapi...!"
Aku bahkan belum selesai mengatakan kalimat yang ingin aku sampaikan, Puspa langsung berbalik dan memposisikan dirinya berhadapan denganku, lalu memegang tangan yang ada di atas pangkuan ku.
"Benar kan? kamu setuju dengan ku kan?" tanya nya menyela kalimat yang sebenarnya ingin aku sampaikan dan maksudku bukan itu.
Belum juga aku bisa merawat apa yang ingin aku ucapkan, aku lihat Puspa kembali menghela nafasnya berat.
"Huh, kamu tahu tidak Naira. Dia baru saja menolak ku yang ke sembilan kalinya!" ucap Puspa lirih.
Tentu sejaman dengan pernyataan dari Puspa barusan membuat mataku melebar dan mulutku ternganga saking terkejutnya.
"A.. apa maksud mu?" tanya ku bingung.
Kalau yang ada di pikiranku ya, apa yang dikatakan oleh Puspa barusan itu seperti dia telah menyatakan cintanya kepada Riksa dan ditolak untuk yang ke sembilan kalinya. Ke sembilan kalinya? seseorang yang cantiknya seperti Puspa yang sangat mandiri dan kaya raya, yang bisa membuat semua laki bertekuk lutut di hadapannya ditolak 9 kali oleh Riksa. Aku sampai menggelengkan kepalaku beberapa kali sangking apa yang dikatakan oleh Puspa barusan ini membuatku benar-benar takjub dan tidak percaya.
"Seperti dugaanmu, aku menyatakan perasaan ku padanya. Dan dia menolak ku!" ucap Puspa yang terkesan biasa-biasa saja.
Tapi aku tahu kalau wanita hebat di depanku ini sedang tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Bibirnya memang tersenyum wajahnya datar dan dia mengatakan semua itu seolah dengan sangat santai. Tapi matanya yang berkaca-kaca membuatku yakin kalau dia benar-benar sedih dan kecewa atas penolakan Riksa.
Tapi yang tak kalah membuatku heran adalah kenapa Riksa menolak Puspa.
Aku menepuk bahu Puspa dengan lembut dan mengusapnya beberapa kali.
"Batu sembilan kali kan? pasti lain kali dia akan menerimanya!" ucap ku dengan suara yang tak kalah lembut dari sentuhan tangan ku.
Aku mengatakan itu agar Puspa tidak terlalu sedih, aku ingin memberikan semangat padanya. Karena sebenarnya kalau Puspa dan Riksa bisa bersama, aku juga merasa itu hal yang baik dan aku sangat senang untuk mereka. Keduanya ada pria dan wanita yang sama-sama cantik dan tampan mereka juga sama-sama baik, bukankah mereka akan terlihat seperti pasangan yang sangat serasi bahkan mungkin sangat saling mencintai nantinya.
__ADS_1
Puspa terkekeh, dan apa yang dia lakukan itu membuat air matanya tumpah. Dengan masih tetap terkekeh dia menyeka air matanya yang membasahi pipinya.
"Kamu benar Naira, baru sembilan kali. Aku masih punya kesempatan lagi kan?" tanya Puspa padaku, dan dengan cepat dan mantap aku menganggukkan kepalaku.
"Tapi apa kamu tidak penasaran kenapa aku menyukai Riksa?" tanya Puspa padaku.
Aku bahkan tidak memikirkan hal itu, aku merasa biasa saja dan aku merasa hal yang wajar kalau ada seorang wanita yang mencintai Riksa, karena akupun mengaguminya.
"Sebenarnya siapa saja yang mengenalnya dan menjadi temannya akan mudah selanjutnya untuk jatuh cinta dan mengagumi pria seperti Riksa, iya kan?" aku bertanya balik pada Puspa setelah mengemukakan apa pendapat ku tentang Riksa.
Dan Puspa kembali mengangguk setuju.
"Iya, kami benar. Aku bahkan sudah menyukainya sejak kami kuliah dulu. Dan saat itu sikapnya padaku sangat baik, dan dia adalah laki-laki yang sangat dekat dengan ku selain Samuel. Tapi saat itu aku tidak berani untuk mengungkapkan perasaanku dan isi hatiku padanya, aku merasa kalau diriku kurang pantas. Karena seperti apa yang kamu katakan tadi dia sangat baik, dan saingan ku saay itu bahkan adalah putri dari walikota. Entah kenapa meskipun dia tidak pernah menanggapi wanita-wanita itu dan hanya mau berjalan bersama denganku aku, aku tidak merasa tidak percaya diri. Baru setelah kami sama-sama mapan dan punya karir yang bagus aku berani mengutarakan perasaan ku. Pertama kali itu, dia tidak langsung menjawab, tapi dia menyiratkan kalau dia juga memiliki perasaan yang sama denganku. Sampai keesokan harinya dia bilang kalau lebih baik kami menjadi teman saja." terang Puspa yang wajahnya semakin lama semakin menampilkan ekspresi sedih.
Aku yang juga dapat merasakan perasaan itu mencoba untuk kembali mengusap lengan Puspa berusaha memberinya dukungan dan semangat.
"Kali ini pun sama, dan apa kamu tahu alasannya dia menolak ku lagi?" tanya Puspa.
Aku hanya menatap Puspa, aku tahu sebenarnya itu bukan pertanyaan tapi lebih pada pernyataan. Jadi aku hanya diam dan memperhatikan.
"Dia bilang dia tidak pantas untukku, ada lelaki lain yang lebih pantas untukku dan lebih mencintai ku. Ck... entahlah. Tapi aku merasa dia mencintai ku hiks.. hiks..!" Puspa memelukku dan dia menangis. Aku bisa mengerti kesedihan yang dia rasakan.
Aku mengusap punggung nya, aku mendengar suara tangisan Puspa yang begitu dalam. Aku juga merasa kalau sebenarnya Riksa itu menyukai Puspa, saat mereka berdansa di pesta pernikahan ku dengan Samuel, aku bisa melihat itu dari pandangan mata mereka ketika saling tatap. Tapi aku tidak mengerti kenapa Riksa malah menolak Puspa.
***
Bersambung...
__ADS_1