
Samuel langsung melepaskan kerah baju Teddy, namun dia masih menatap tajam pria di hadapannya itu.
"Aku akan ke kantormu, sama seperti perintah tuan Thomas, dua asisten ku juga bersama ku, saat itu aku melihat beberapa orang berpakaian preman dan suara seorang wanita yang berteriak minta tolong, aku tidak menyangka kalau itu adalah Naira. Sayang sekali saat kami datang, kami juga sedikit terlambat, Naira sudah jatuh di aspal dengan luka di tangannya, lalu sekarang pria yang katanya supir mu juga sudah pingsan dan tidak sadarkan diri...!"
Teddy masih berusaha menjelaskan pada Samuel, tapi Samuel malah mundur kebelakang dengan langkah yang seolah penuh dengan beban dan penyesalan yang begitu dalam.
Dia merasa sangat bersalah pada Naira, seandainya saja dia tidak datang terlambat, seandainya saja dia tidak melakukan kesalahan seharusnya saat itu Naira sedang makan siang bersama dengannya di kantor, bukan menghadapi situasi yang sangat sulit seperti itu.
Samuel mengusap wajahnya kasar dan menyandarkan punggungnya di dinding yang di balik dinding itu adalah ruangan UGD tempat Naira sedang berjuang bersama calon anak mereka.
Mata Samuel sudah berair sejak tadi, air mata pria yang dingin dan arogan itu tak terbendung lagi karena hatinya sangat pilu saat ini.
'Naira, maafkan aku. Seharusnya aku tidak membuatmu kesal, seharusnya kamu akan baik-baik saja kalau aku tidak membuat mu kesal...!' batin Samuel terus menerus dalam hatinya.
Bibi Merry yang melihat Samuel begitu terpuruk dan sedih berusaha untuk mendekatinya. Bibi Merry juga adalah orang yang telah ikut menjaga dan membesarkan Samuel, dia juga sangat sedih melihat Samuel dalam keadaan seperti sekarang ini. Apalagi bibi Merry juga salah orang yang melihat sendiri saat Naira merintih kesakitan sambil terus memegang perutnya dan terus menangis, sampai dia pingsan sebelum mobil Teddy sampai di rumah sakit.
Bibi Merry menepuk bahu Samuel.
"Tuan, nyonya muda pasti kuat, semua akan baik-baik saja!" ujar bibi Merry yang tidak di tanggapi oleh Samuel karena dia memang sangat sedih saat ini.
Bibi Merry mengatakan hal itu bukan hanya untuk memberi semangat pada Samuel tapi juga pada dirinya sendiri. Sesungguhnya dia sangat takut, karena Naira tadi memang terlihat sangat kesakitan.
Teddy pun tidak beranjak dari tempat itu, dia ikut duduk dan menunggu di kursi yang ada di depan ruang UGD, Teddy tak kalah cemas dari Samuel. Masalahnya dia juga melihat Naira yang terus menangis dan berteriak kesakitan, setiap rintihan sakit dari Naira juga membuat hati Teddy merasa sakit. Teddy menyatukan dua tangannya dan meletakkannya di depan dahinya.
__ADS_1
'Naira, kamu harus selamat Naira. Kamu harus Selamat!' gumam Teddy dalam hatinya.
Beberapa menit kemudian, seorang dokter keluar dari dalam rumah UGD. Di susul beberapa orang perawat yang mendorong ranjang pasien yang ada Naira di atas ranjang pasien yang di dorong itu. Samuel langsung berlari menghampiri Naira yang masih memejamkan matanya, dengan selang infus di tangan kirinya dan juga alat bantu pernapasan yang terpasang menutupi hidung dan mulutnya. Samuel langsung menggenggam erat tangan Naira, menyatukan jemarinya dan jemari tangan Naira.
"Sayang ini aku, sayang aku minta maaf karena aku datang terlambat. Tapi kamu harus kuat, demi aku dan anak kita. Kamu tahu kan aku tidak akan bisa hidup tanpamu..!" Samuel terus bicara pada Naira.
Para perawat juga berhenti mendorong ranjang pasien karena begitu terharu melihat sikap Samuel pada Naira.
Sementara itu Teddy dan bibi Merry lah yang menghampiri dokter yang tadi menangani Naira.
"Dokter, Naira bagaimana?" tanya Teddy begitu cepat.
"Pasien sudah melewati masa kritis, dan bayi yang ada di dalam kandungan juga selamat, ibu dan anak ini begitu saling menguatkan. Semua baik-baik saja, pasien hanya mengalami syok saja, mungkin akan butuh 5 sampai 7 jam pasien baru akan sadar!" jelas dokter itu panjang lebar.
Teddy menghembuskan nafas lega, dan langsung melihat ke arah Samuel dan juga Naira. Hatinya terasa sakit, tapi ketika dia melihat Samuel yang begitu mencemaskan Naira dan begitu mencintai Naira, mata Teddy berkaca-kaca.
Sementara Samuel, pria itu bahkan sangat menyesal ketika tidak bisa melindungi Naira. Teddy mengusap wajahnya dengan kasar. Dia perlahan melangkahkan kakinya menjauh dari Samuel dan juga semua orang disana. Ada rasa bersalah yang amat besar dalam hatinya. Sekali lagi dia menoleh dan melihat Naira yang masih memejamkan matanya dengan semua alat medis yang ada padanya.
'Maafkan aku Naira!' lirihnya dalam hati sebelum melangkah pergi.
Samuel yang sudah merasa lega karena kata dokter Naira sudah baik-baik saja terus berada di sisi Naira. Di ruang rawat Samuel bahkan tidak mau beranjak sama sekali, dia bersikeras menunggu Naira sadar.
"Naira!" panggil Stella yang datang ke ruang rawat Naira dengan setengah berlari.
__ADS_1
Di ikuti kedatangan kakek Virendra dan juga Damar yang mendampingi kakek Virendra yang terlihat sangat cemas.
"Apa yang terjadi pada Naira?" tanya kakek Virendra yang sudah berdiri di sebelah Naira dan mengusap kepalanya dengan lembut.
Samuel yang sudah berdiri saat Stella datang pun menjawab pertanyaan kakek Virendra.
"Beberapa preman mengganggu Naira dan bibi Merry saat perjalanan pulang setelah mengantar makanan ke kantor ku, kek!" jawab Samuel.
"Bagaimana bisa mereka menggangu Naira?" tanya kakek Virendra yang terlihat kesal.
"Mobil yang kami tumpangi mogok tuan, Budi juga sudah babak belur, dan beberapa orang itu tiba-tiba mendekati kami dan bilang akan menculik nyonya muda...!"
"Bagaimana mobil bisa mogok, apa pernah ada ceritanya mobil keluarga Virendra mogok. Damar buang saja mobil itu, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya kakek Virendra yang merasa kalau ada yang tidak beres dalam hal ini.
"Kata Budi, bensinnya habis. Padahal tadi pagi katanya dia sudah mengisinya full!" tambah bibi Merry lagi.
Sementara Stella masih terus mengusap lengan menantunya itu dengan lembut sambil menyeka air matanya yang terus menetes.
"Sayangku, kamu pasti sangat ketakutan ya?" gumam Stella pelan sambil melihat kondisi Naira. Dia sangat sedih melihat semua alat medis yang menempel pada tubuh menantunya itu.
"Tidak mungkin, pasti ada yang tidak beres. Sam, sebaiknya kamu selidiki semua ini. Ayah rasa tidak mungkin mobil itu bisa kehabisan bensin dengan kebetulan seperti itu!" seru Damar yang membuat Samuel mengepalkan tangannya dengan kuat.
Awalnya Samuel tidak berpikir sampai kesitu karena sangat panik pada kondisi Naira. Tapi setelah apa yang dikatakan bibi Merry, dia yakin kalau semua ini pasti ada seseorang yang menjadi dalangnya.
__ADS_1
***
Bersambung...