
Aku berusaha untuk melepaskan tangan ku dari mas Samuel.
"Mas, kenapa mengajak ku masuk juga?" tanya ku yang sangat tidak nyaman berada di dalam kamar mandi bersama Samuel.
Bukan hanya karena kamar mandi di rumah ku ini ukurannya kecil, hanya 2×2 meter saja. Tapi juga karena aku merasa tidak enak dengan ayah kalau kami mandi bersama seperti ini.
"Buka pakaian ku!" seru Samuel. Dia seperti nya tidak menghiraukan apa yang aku katakan barusan.
"Mas, tapi kamar mandi ini kecil. Kamu akan sulit bergerak dengan leluasa!" ucap ku pada Samuel.
Badan Samuel yang tinggi dan gagah ini pasti sulit bergerak bebas karena ada aku di dalam juga.
"Siapa yang mau bergerak leluasa, aku tidak akan bergerak! kamu yang akan membersihkan semuanya!" ucapnya sambil mengangkat sedikit alisnya.
Aku mengerti, jadi dia ingin dimandikan. Ck... kenapa juga dia harus ikut sih. Aku jadi tidak bisa mengistirahatkan tubuh dan pikiran ku untuk sejenak kan.
Meski aku terus mengomel dan protes di dalam hati, aku tetap mengerjakan apa yang Samuel perintah kan.
Pertama aku membuka pakaian nya dan menyisakan pakaian dalam. Aku segera mengambil gayung lalu naik ke lantai toilet yang memang lebih tinggi dari lantai kamar mandi agar bisa mengguyurkan air dari kepala Samuel.
"Hei, kenapa ini tidak di lepas juga?" tanya Samuel sambil menunjuk ke pakaian dalamnya segitiga berwarna silver yang dia pakai.
Aku menelan saliva ku dengan susah payah, meski sudah pernah melihatnya tapi itu hanya sekilas sebelum Samuel menyatukannya dengan milikku. Tapi kalau melihatnya dalam waktu lama, aku yakin tangan ku akan sangat gemetar dan kalau sampai itu terjadi, bisa-bisa mengangkat gayung berisi air pun aku tidak akan sanggup.
"Mas, tapi... !"
"Buka!" perintahnya menyela apa yang ingin aku katakan.
Rasanya aku ingin memukul kepala pria yang otaknya tidak dapat ku prediksi sama sekali itu dengan gayung yang masih ada di tangan kananku. Aku langsung meletakkan gayung di pinggiran bak mandi. Lalu turun lagi ke lantai yang sama dengan yang Samuel pijak. Tubuh ku saja saat berdiri di depannya seperti ini saja, hanya sebatas dadanya.
Sebelum aku membuka segitiga berwarna silver itu, aku menghela nafasku panjang. Tangan ku perlahan menyentuh pinggang Samuel dan memegang pinggiran kain berwarna silver itu dan perlahan menurunkannya ke bawah sambil memejamkan kedua mataku.
Setelah sampai di bawah, Samuel mengangkat kakinya dan berhasil. Aku segera menoleh ke belakang dan meletakkan kain itu ember yang memang untuk meletakkan pakaian kotor jika ada yang mandi.
"Cepatlah! pengap sekali disini!" ucapnya kesal.
__ADS_1
Dan aku juga merasakan hal yang sama, kamar mandi ini memang kecil jadi akan pengap kalau lama-lama berada di dalam sini. Aku langsung naik lagi ke lantai toilet, lalu dengan cepat mengguyur kan se gayung penuh air ke kepala Samuel.
"Naira!" pekik Samuel membuat gayung yang berada di tangan ku terjatuh dengan sendiri nya.
Aku terkejut, kali ini apalagi yang salah. Kenapa dia malah tiba-tiba berteriak seperti itu.
"Maaf mas, kenapa?" tanya ku bingung.
Dia berbalik dan benda di bawahnya itu ikut berdiri, aku langsung memalingkan wajah ku ke arah lain.
"Kamu mau membuatku terkena hipotermia atau membeku disini, ini air atau es dingin sekali!" protesnya.
'Ini kan memang bukan kamar mandi mu, yang bisa secara otomatis bisa pakai air hangat' gumam ku dalam hati.
"Mas, aku rebusckan air dulu ya. Tunggu sebentar!" ucap ku lalu langsung memegang handel pintu kamar mandi.
Tapi bukannya membiarkan aku keluar dari kamar mandi untuk merebus air untuknya mandi, dia malah menarik tangan ku.
"Tidak perlu, aku tahu bagaimana supaya saat mandi tidak begitu dingin!" serunya sambil menarik kaos yang aku pakai.
***
Kami berdua sudah bercucuran keringat di dalam kamar mandi. Bukan karena pengap, tapi karena aktivitas yang kami lakukan. Aku kesal sekali, pakaian ku sobek lagi. Apa dia tidak bisa kalau melepaskan nya secara normal. Dan aku tidak membawa handuk ke kamar mandi, bagaimana aku keluar nanti.
Tadinya Samuel menyuruh ku memandikannya, tapi sekarang malah dia yang memandikan aku karena aku benar benar sudah lemas tak berdaya.
Setelah selesai, Samuel melilitkan handuk di pinggangnya.
"Dimana handuk mu, aku akan ambilkan. Kamu tunggu disini!" tanya nya.
Aku tidak menyangka dia akan mengatakan itu, ku kira dia akan tidak perduli.
"Di dalam lemari, di bagian bawah yang berwarna merah!" ucap ku menjelaskan di mana letak handuk itu di dalam lemari.
Samuel segera keluar dari kamar mandi, dan aku kembali mengunci pintu kamar mandi. Tapi baru sebentar Samuel keluar aku mendengar suara Ibras.
__ADS_1
"Loh, ada kak Samuel?" Yahya Ibras pada Samuel.
"Kapan datang kak?" tanya Ibras lagi.
"Baru saja, eh kamu mau kemana?" aku mendengar suara Samuel bertanya dengan cepat.
"Mau ke kamar mandilah, Ibras baru pulang sekolah mau mandi!" jawab Ibras
"Jangan masuk!" perintah Samuel melarang Ibras masuk ke dalam kamar mandi.
"Kenapa? kak Samuel sudah selesai kan?" tanya Ibras lagi.
"Ada kakak mu di dalam, kamu pergi dulu ke kamar mu. Aku akan memberitahu mu kalau kakak mu sudah selesai mandi!" jelas Samuel.
Aku tidak tahu apa ekspresi Ibras dan apa yang dia pikirkan. Di dalam kamar mandi aku hanya bisa menepuk jidat ku sendiri. Kalau Samuel masih suka berbuat semaunya di rumah ini, aku tidak tahu apa yang akan di pikirkan oleh ayah, ibu dan Ibras. Mereka pasti tidak nyaman.
Apalagi tiap dia pelepasan biasanya dia akan mengerang kuat, kalau itu sampai terjadi maka akan terdengar sampai di tetangga juga mungkin. Karena rumah ini tidak seperti rumah Samuel, luas satu rumah ini bahkan sama seperti luas satu kamar Samuel beserta kamar mandi dan ruangan ganti pakaian di dalam kamarnya itu.
"Naira, buka!" ucap Samuel menyadarkan aku dari pemikiran ku.
Aku membuka pintu dan meraih handuk dari Samuel, aku keluar dari kamar mandi tapi ketika aku akan memanggil Ibras, dan memberitahu nya kalau aku sudah selesai. Samuel melarang ku,
"Mas, tapi aku kasih tahu Ibras...!"
"Kamu masuk kamar, aku yang akan kasih tahu Ibras!" ucapnya dan aku segera berjalan ke arah kamar.
"Naira!" panggil Samuel dan membuat langkahku terhenti lalu menoleh ke arahnya.
"Tidak ada yang boleh melihat tubuh mu selain aku!" ucapnya lalu berjalan ke arah pintu kamar Ibras.
Deg
***
Bersambung...
__ADS_1