Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
72


__ADS_3

Tok tok tok


Aku mengetuk pintu ruang kerja Samuel perlahan.


"Tuan, ini aku! boleh kah aku masuk?" tanya ku dengan sangat sopan.


"Masuk!" seru Samuel dari dalam.


Ceklek


Aku langsung membuka pintu dengan perlahan, lalu masuk ke dalam ruangan. Setelah aku tinggalkan cukup lama ternyata Samuel masih dalam posisi yang sama seperti tadi, dia masih duduk dengan tenang di kursinya dan membaca sesuatu.


Aku melangkah semakin dekat ke arahnya, dan aku tahu kalau itu bukan lah dokumen kerja nya. Itu adalah sebuah katalog perhiasan. Aku tak tahu kalau selain perusahaan otomotif Samuel juga punya perusahaan perhiasan.


"Tuan, bau bawang di tangan ku sudah hilang!" ucap ku seperti melapor pada atasan ku bahwa aku sudah menyelesaikan pekerjaan ku.


Setelah aku bicara, barulah Samuel mengangkat wajahnya dan melihat ke arah ku.


"Benar-benar sudah tidak berbau kan? kalau masih bau bawang akan ku potong tangan mu!" serunya dan apa yang dia katakan itu membuat mataku terbelalak kaget.


"Eh, kenapa melotot? mau ku congkel matamu itu?" tanya nya lagi dengan nada suara yang kian meninggi.


Aku segera mengerjap cepat dan menundukkan kepalanya ku.


"Maaf tuan!" ucap ku pelan.


"Kenapa malah berdiri disitu, cepat pijat pundak ku!" teriak nya lagi.


Aku langsung berjalan cepet ke arah belakangnya dan langsung memijit pundaknya. Aku heran, dia selalu berteriak dan bersuara keras apa tenggorokan nya itu tidak sakit. Apa dia tidak takut kalau sampai suaranya nanti habis karena terlalu di porsir begitu. Bisa saja kan suatu saat suaranya ngambek dan tidak mau keluar dari tenggorokannya.


"Heh, sudah sarapan kan? kenapa tidak terasa? bisa pijat atau tidak?" tanya nya lagi dengan nada suara yang masih tinggi.


Aku sampai tersentak sedikit ke belakang saat dia berteriak tadi.


"Maaf tuan!" jawab ku tak mau memperpanjang perdebatan.

__ADS_1


Aku menambahkan tenaga ketika memijat pundak Samuel, aku takut kalau terlalu kencang dia akan protes lagi. Tapi baru beberapa kali pijatan,


"Ck... lebih keras lagi, usia mu sudah dua puluh tahun kan? Tapi kenapa tenaga mu seperti anak TK!" keluhnya lagi.


'Anak TK, yang benar saja. Baiklah, bersiaplah rasakan tenaga ku yang sebenarnya!' gumam ku dama hati sambil bersiap-siap memijat nya dengan kuat.


Kretek


"Aduh!" pekiknya.


'Astaga, seperti nya terlalu kencang. Haduh, bagaimana ini?' tanya ku ketakutan dalam hati.


"Kamu dengan ya padaku, mau patahkan tulang ku?" tanya nya dengan wajah yang benar-benar serius.


"Maaf tuan, akan aku perbaiki, maaf!" ucap ku meminta maaf padanya beberapa kali.


Aku mencoba untuk mengurangi tenaga ku, dan seperti nya sudah pas. Aku memijit pundak dan juga lehernya, sedikit tebal. Kurasa dia memang sedang sangat lelah atau sedang memikirkan sesuatu yang berat. Aku mempelajari semua ini dari ayah, dia mengajari ku memijat dengan benar. Agar kalau ayah atau ibu pegal dan lelah kami tidak perlu memanggil tukang urut ke rumah. Bisa sekalian berhemat juga bukan.


Sambil terus memijat pundak Samuel, aku terus memperhatikan apa yang pria ini lihat sejak tadi. Dia terus membolak-balik kan katalog perhiasan dan terlihat kebingungan.


"Ck... aku sedang memilih perhiasan!" jawab nya lalu menoleh sekilas padaku.


"Jangan berpikir aku akan membelikan nya untuk mu, ini untuk Caren. Besok dia ulang tahun!" jelas nya lagi.


'Siapa yang berharap kamu memberikan aku perhiasan, bukan kah aku sudah punya satu set dari ibu Stella. Wah, kalau nanti aku bercerai dengan mu dan aku jual, aku bisa beli tanah dan juga mobil!' batin ku senang.


"Kemarin kamu yang pilih cincin pernikahan untuk kita kan?" tanya nya pada ku sambil menutup katalog itu.


Aku mengangguk, karena dia menoleh ke arah ku.


"Kalau begitu, pilihkan satu untuk Caren. Aku bingung! dia itu designer perhiasan. Aku mau satu set perhiasan yang akan membuatnya senang dan memuji ku!" seru Samuel sambil menggeser katalog itu ke depan ku.


'Dasar, gila pujian. Mau memberi orang yang dia cintai pun ingin di puji. Dasar aneh!' batin ku tak habis pikir pada ucapan Samuel barusan.


Aku maju ke depan, ke samping Samuel duduk dan melihat-lihat katalog perhiasan itu. Semuanya cantik menurut ku dan begitu aku lihat harganya, aku sampai harus menelan saliva ku dengan susah payah.

__ADS_1


"Cepat lah, lama sekali!" Samuel sudah mulai mengomel, padahal aku baru saja membuka tiga lembar dan melihat nya dengan seksama.


"Tuan, memang nya kekasih mu itu sudah pulang ke negara ini?" tanya ku pada Samuel. Karena seingat ku, kekasihnya Samuel kan sedang ada di luar negeri.


"Belum, dia masih di Singapura!" jawab nya singkat.


Aku terdiam, dan menoleh sekilas ke arah Samuel.


"Lalu bagaimana tuan memberikan nya?" tanya ku penasaran.


"Ck... kuno sekali sih kamu ini. Sekarang kan bisa langsung di kirim ke alamatnya. Heh, ini sudah jaman canggih, tekhnologi sudah modern!" ucapnya panjang lebar.


Padahal bukan itu maksud ku.


"Tuan, tahu tidak. Kalau sebenarnya ada yang lebih berarti bagi seorang wanita daripada barang-barang seperti ini!" ucap ku membuat Samuel melotot ke arah ku.


"Tenang dulu tuan, maksud ku ini juga bagus. Tapi pasti nona Caren akan lebih bahagia kalau surprise nya itu bukan barang, tapi anda sendiri!" jelas ku padanya.


Samuel mulai diam dan memperhatikan perkataan ku dengan baik.


"Maksud mu?" tanya nya lagi.


"Maksud ku adalah nona Caren akan sangat bahagia kalau tuan sendiri yang datang ke Singapura dan memberikan hadiah ini langsung padanya!" jelas ku berhati-hati.


Samuel terlihat diam tapi kemudian dia langsung berdiri dan memegang kedua lengan ku.


"Wah, kenapa tidak terpikir oleh ku. Itu ide bagus gadis ceroboh. Baiklah, aku rasa apa yang kamu katakan benar. Nanti malam aku akan ke Singapura dan memberikan hadiah ini langsung padanya, sekarang cepat pilih!" serunya padaku. Aku tidak menyangka kalau aku bisa membuatnya setuju dengan yang aku katakan.


Aku tersenyum saat dia sudah melepas kan kedua lengan ku. Aku kembali melihat ke arah katalog perhiasan yang ada di atas meja. Dan pandangan ku tertuju pada satu set perhiasan bertahtakan berlian bening yang begitu menyilaukan mata ku meski hanya sebuah gambar saja.


"Yang ini bagus tuan, menurut ku!" ucap ku sambil menunjukkan gambar perhiasan yang aku pilih pada Samuel.


"Bagus, ini memang sejak tadi aku lihat. Baik aku akan pilih yang ini!" ucap nya sangat senang.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2