
Samuel tersenyum senang, tapi aku malah ingin menangis. Bisa-bisa nya aku menciptakan masalah untuk diriku sendiri. Harus memujinya di setiap pagi ku, entah itu pertanda baik atau malah sebaliknya untuk hari-hari ku ke depannya.
Tak lama setelah itu, pak Urip datang dan mengetuk pintu yang memang sudah terbuka sangat lebar.
Tok tok tok
"Selamat sore tuan, nona!" sapa nya kemudian masuk ke dalam dan memberikan beberapa kertas undangan pada Samuel.
"Maaf tuan, ini ada titipan dari tuan Riksa!" ucap nya lagi.
Samuel menerima nya namun dia lantas berdiri dari duduknya.
"Akhirnya kamu datang pak Urip, darimana saja?" tanya Samuel yang terlihat kesal.
"Maaf tuan, saya mengantar nyonya ke Mansion, lalu nyonya meminta saya ke kantor untuk memberikan sesuatu pada tuan Riksa, setelah itu saya mengambil beberapa undangan di apartemen tuan Riksa, dan baru saya kemari!" jelas pak Urip.
Aku jadi kasihan sekali pada pak Urip. Usianya benar-benar sudah tidak muda lagi. Dan dia harus melaksanakan pekerjaan yang baru mendengarnya saja aku sudah lelah dan pusing. Tapi sepertinya pak Urip baik-baik saja dan masih sangat siap untuk melanjutkan pekerjaan nya. Aku jadi ingat ayah ku, dan ketika aku mengingat semua itu, rasanya aku ingin menangis.
Sebentar lagi aku akan meninggalkan rumah ini dan juga ayah, tidak tinggal disini lagi, aku akan sangat rindu pada ayah, ibu dan juga Ibras.
Brakk
Suara beberapa kertas undangan yang jatuh di atas meja, Samuel melemparkan nya. Dan suara itu berhasil menyadarkan aku dari lamunan ku.
'Ih, apa tidak bisa ya kalau di kasih saja, kenapa harus selalu di lempar sih!' keluh ku dalam hati.
Saat aku akan protes dengan apa yang dia lakukan, baru akan membuka mulut ku. Si lidah tajam itu lebih dulu menyela.
"Itu untuk mengundang teman kerjamu, pastikan tidak mengundang mantan mu ya. Karena aku tidak ingin ada keributan di acara ku!" ucap nya sambil berbalik dan hendak berjalan keluar.
Tapi baru satu langkah dia kembali berbalik.
"Tapi tidak mungkin juga kan itu kamu lakukan, kamu kan tidak punya pacar ya! kasihan!" ucap nya dengan nada mengejek bahkan dengan ekspresi wajah yang begitu meremehkan aku.
Aku tidak menanggapi nya, aku memilih bersikap biasa saja, sewajarnya saja. Meski dalam hati ku, aku ingin melemparkan pit bunga kesukaan ibu ku ke kepalanya.
Dia sudah pergi, aku menutup pintu dan menumpahkan semua amarah ku. Aku memangku bantal sofa dan memukul-mukul bantal itu dan menganggap bantal itu adalah Samuel, aku sungguh sangat kesal semua ucapannya bahkan tingkah nya tidak ada yang benar menurut ku.
"Huh, rasakan ini si lidah tajam! rasakan!" maki ku pada bantal yang ada di pangkuan ku.
"Hah, bagaimana ini. Satu hari saja aku sudah sangat kesal begini. Bagaimana hidup dengannya selama satu tahun!" keluh ku sambil mengusap wajah ku dengan kasar.
***
Sore harinya, aku sudah sangat rapi. Sudah mandi dan sudah wangi. Aku mau mengantarkan undangan ku pada teman-teman kerja ku dan juga ingin pamit pada ko Acong. Bagaimana pun, ko Acong adalah orang yang sangat baik padaku, di saat lamaran kerja ku di tolak disana sini, ko Acong malah mau memperkerjakan aku yang hanya lulusan SMA dan tidak punya keahlian khusus seperti Haris dan Mini.
Haris itu pintar sekali dalam tekhnologi, aku juga tidak tahu lulusan apa dia. Karena dia tidak pernah mengatakan tentang kehidupan nya padaku dan Mini. Kalau Mini dia itu lulusan D3 Bahasa Inggris, bahasa Inggris nya sangat bagus.
Aku mengendarai sepeda ku seperti biasanya, aku suka sekali bersepeda. Dari kecil aku memang sangat menyukai kegiatan ini, dan aku selalu membeli sepeda dari hasil tabungan ku sendiri.
__ADS_1
Sudah dekat dengan toko buku ko Acong, aku memperlambat laju sepedaku. Dan memarkirkannya agak jauh, karena toko terlihat ramai. Banyak sepeda motor yang terparkir di depan toko.
"Selamat sore!" sapa ku ketika membuka pintu toko.
"Naira!" teriak Mini yang sedang ada di meja kasir dan melayani beberapa pelanggan.
Aku langsung berlari ke arah meja kasir dan masuk ke dalam sana lewat pintu masuk yang biasa aku dan Mini masuki.
"Aku bantu ya!" seru ku pada Mini yang langsung mengangguk dan tersenyum.
Rasanya sangat menyenangkan seperti ini, aku akan merindukan masa-masa seperti ini. Melayani pelanggan yang datang ke toko buku, menyusun buku sesuai abjad, menyapu dan mengepel lantai bersama Mini. Juga makan siang dan makan malam bersama dengan Haris dan Mini.
Tanpa terasa hari makin petang, para pengunjung sudah mulai berkurang. Haris yang juga telah selesai dengan pelanggan foto copy ikut menghampiri ku.
"Nai, kamu dari mana aja?" tanya nya dengan wajah yang terlihat cemas.
Mini bahkan merangkul dan memelukku.
"Nai, kangen tahu! biasanya kan kita bareng terus, ini udah dua hari kamu gak masuk kerja. Di telpon juga gak bisa, kemarin siang kita ke rumah kamu. Tapi gak ada orang di rumah!" jelas Mini yang juga menunjukkan ekspresi yang sama dengan Haris.
"Maaf ya, bikin kalian cemas. Aku mau kasih ini ke kalian!" ucap ku sambil meraih dua undangan untuk Haris dan Mini.
"Undangan, siapa yang nikah?" tanya Haris sambil membolak-balik kan undangan itu.
"Iya Nai, mana bagus bener ini undangan. Baru kali ini loh, aku dapet undangan sebagus ini!" ucap Mini yang langsung membuka amplop undangan nya dan mengeluarkan isinya.
Aku bahkan tidak tahu, kalau di dalam undangannya ada voucher semacam itu. Aku melihat ke arah Haris dan Mini bergantian.
"Yang mau nikah besok itu... aku!" jawab ku dan jawaban ku itu ternyata membuat Mini dan Haris sama-sama terkejut hingga menjatuhkan undangan itu dari tangan mereka berdua.
"Apa Nai, kamu yang mau nikah? kamu gak lagi bercanda kan Nai?" tanya Mini tak percaya.
Aku menggelengkan kepala ku dengan cepat berkali-kali. Haris mengambil undangan yang tadi terjatuh dari tangannya dan membaca nya.
"Jadi kamu akan menikah besok Nai?" tanya Haris dengan mata yang berkaca-kaca.
Kenapa aku merasa Haris sangat sedih ya, matanya berkaca-kaca dan nada bicaranya sangat sedih. Aku jadi ikutan sedih juga.
"Tapi selama ini kamu gak pernah cerita kan kalau kamu punya pacar? Nai, kak Kaktus pasti bakalan patah hati!" ucap Mini yang matanya juga berkaca-kaca.
Tapi aku tidak bisa juga kalau harus mengatakan alasan sebenarnya aku bisa menikah dengan Samuel pada Mini dan Kaktus. Semua itu hanya di ketahui kami bertiga, Samuel, aku dan juga Riksa. Dan seperti itulah perjanjian nya.
"Maaf ya, karena aku gak pernah cerita sama kalian! tapi aku harap kalian bisa datang ya, ikut merayakan kebahagian bersama ku!" ucap ku lembut pada Haris dan Mini.
Haris masih terlihat sedih, tapi Mini memelukku dengan erat.
"Selamat ya Nai, semoga kamu dan suami mu bahagia selamanya!" ucap Mini ikut mendoakan.
Setelah bicara pada Haris dan Mini dan kelihatan nya mereka sudah tidak apa-apa lagi. Aku mengetuk pintu kantor ko Acong.
__ADS_1
Tok tok tok
"Masuk!" sahut ko Acong dari dalam ruangan kantor nya.
Aku membuka pintu dan menyapa ko Acong.
"Selamat malam ko!" ucap ku sopan.
Ko Acong berdiri dari kursinya ketika aku masuk,
"Naira, kamu baik-baik saja kan. Kenap tidak bisa di hubungi?" tanya ko Acong yang langsung menghampiri ku.
"Maaf ko, ponsel saya hilang. Tapi saya baik-baik saja ko!" jawab ku.
"Sukur kalau begitu, kedua teman mu sangat cemas dan aku meminta mereka ke rumah mu tapi kata mereka tidak ada orang!" jelas ko Acong.
"Sekali lagi saya minta maaf ko, beberapa hari ini saya memang sibuk. Dan saya mau memberikan ini pada ko Acong!" ucap ku sopan sambil menyerahkan satu undangan pada ko Acong.
Ko Acong menerima nya dan langsung membukanya.
"Kamu akan menikah Nai, selamat ya. Dengan Samuel Virendra MM. Ini putra sulung keluarga Virendra itu kan Nai?" tanya ko Acong terkejut.
Aku hanya mengangguk kan kepala ku pelan.
"Artinya selama ini kamu bekerja disini...!" ko Acong terlihat bingung dan entah apa yang dia pikirkan tapi dua terlihat sedih.
"Kamu akan berhenti?" tanya nya kemudian.
Aku yang malah terkesiap, aku tidak tahu ko Acong bisa tahu maksud ke datangan ku kemari.
"Tidak mungkin kan menantu keluarga Virendra akan bekerja di toko buku kecil di pinggir jalan seperti ini!" ucap ko Acong dengan suara yang pelan.
Tes tes
Tanpa kusadari aku sudah meneteskan air mata ku, mendengar ko Acong bicara seperti itu aku sangat sedih.
"Toko ini toko terbaik di seluruh dunia Ko, dan ko Acong adalah bos terbaik di seluruh dunia!" ucap ku ikut terbawa, aku sungguh jadi sangat emosional saat ini.
Ko Acong menepuk bahu ku pelan.
"Terimakasih Nai, kamu juga adalah karyawan terbaik disini, kamu sudah saya anggap keluarga. Semoga kamu bahagia ya dimana pun dan dengan siapapun kamu berada! Saya pasti datang, bersama ci Mei dan Alung!" ucap nya sambil tersenyum.
Sudah ku duga, ko Acong adalah orang yang baik sangat baik malah. Aku juga sebenarnya sangat sedih harus meninggalkan pekerjaan di sini. Tapi mau bagaimana lagi, si lidah tajam itu tidak mengijinkan aku bekerja setelah menikah.
Setelah berpamitan pada ko Acong, Haris dan Mini. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah, kata Ibu Stella aku harus tidur cepat, agar mataku tidak berkantung besok. Meski acaranya malam, tapi kami juga harus datang ke hotel itu pada pagi hari nya.
***
Bersambung...
__ADS_1