Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
49


__ADS_3

Sementara itu Stella sedang menjemput suaminya Damar di bandara. Stella berangkat dari rumah langsung ke bandara. Rencananya mereka akan langsung ke hotel tempat pernikahan Samuel dan Naira setelah dari bandara.


Beberapa menit Stella menunggu kedatangan Damar, dan setelah beberapa saat akhirnya damar keluar dari pintu kedatangan luar negeri. Stella menghela nafasnya lega, dan menghampiri suaminya.


"Selamat pagi Stella, lama menunggu ku?" tanya Damar yang langsung merangkul dan memeluk istrinya.


Asisten Stella membantu Damar membawakan tas nya, Damar hanya membawa sebuah tas ukuran sedang. Karena tentu saja pakaian nya sudah ada Mansion miliknya.


"Bagaimana perjalanan mu?" tanya Stella


"Semuanya lancar!" jawab Damar sambil mengajak Stella berjalan menuju ke luar bandara ke arah dimana mobil mereka sudah menunggu di depan pintu keluar bandara.


"Putri sudah disana menunggu ayah?" tanya Stella lagi.


Damar langsung menganggukan kepalanya.


"Iya, dia sudah disana karena itu aku tenang!" jawab Damar. Dan mereka pun masuk ke dalam mobil menuju ke hotel tempat pernikahan akan di langsungkan.


Putri adalah sepupu Damar, tapi dia juga sudah lama tinggal dengan Kakek Virendra, Dia juga adalah seorang Dokter. Spesialis penyakit dalam, dan dia juga sangat dekat dengan keluarga Virendra. Karena kebanyakan waktu dia memang habiskan dengan keluarga Virendra daripada dengan keluarganya sendiri.


Usianya sekitar 30 tahun, tapi dia belum menikah. Karena dia punya trauma yang tidak mudah dia lupakan. Kekasihnya, calon suaminya meninggal karena mengalami kecelakaan di hari pernikahan mereka akan di langsungkan. Karena hal itulah Putri, atau lengkapnya adalah Dokter Putri Ghassani masih memilih untuk sendiri sampai saat ini.


"Dia hanya mengucapkan selamat pada Samuel dan juga Naira, dia menitipkan hadiah di dalam tas ku! aku juga tidak tahu apa isinya tapi aku rasa kalau bukan Samuel, dia tidak akan melakukan itu!" jelas Damar di dalam mobil di dalam perjalanan.


"Aku tahu, sangat berat baginya. Aku harap suatu saat ada yang bisa membuatnya percaya, kalau semua itu adalah takdir dan bukan kesalahan nya! Dia wanita yang sangat baik, dia mengurus ayah tanpa pamrih, dia bahkan pernah merawat Adam, dan dia juga menganggap Samuel seperti adiknya sendiri. Aku benar-benar berharap suatu saat dia akan bahagia!" ucap Stella dengan lembut.


"Aku juga berharap begitu. Lalu bagaimana persiapan nya. Sudah selesai semua?" tanya Damar.

__ADS_1


Stella mengangguk kan kepalanya dengan cepat.


"Sudah, tinggal acaranya saja. Aku bahkan sudah menghias kamar pengantin Samuel dengan sangat romantis, aku juga meletakkan lilin aromaterapi khusus supaya kita cepat punya cucu!" ucap Stella sambil terkekeh.


"Apa? bukankah kamu bilang kalau kamu merasa ada yang aneh dengan hubungan mereka? kenapa malah bertindak seperti itu? kasihan Naira kalau apa yang kamu sangka itu benar, dia hanya di jadikan alasan agar Samuel tidak harus menikah dengan Natasha!" jelas Damar yang kurang setuju dengan ide jahil dari Stella.


"Tapi kan Mas, aku merasa kalau sebenarnya Samuel itu juga tertarik pada Naira, hanya saja dia belum menyadarinya! aku jadi penasaran kenapa mereka bisa pacaran selama empat bulan, tapi aku tidak tahu. Tapi bagaimana pun juga aku sangat menyukai Naira, dia mirip seperti ku dulu!" seru Stella panjang lebar.


"Baiklah, tapi jangan ikut campur lebih dari itu pada malam pernikahan mereka ya!" peringatan Damar pada Stella.


Damar itu tahu benar kalau istrinya itu penuh dengan ribuan akal, tapi Damar juga tidak ingin memaksakan hubungan Samuel dan Naira. Masalah punya cucu cepat atau lambat, Damar percaya kalau semua itu sudah ada yang mengaturnya. Dan yang pasti bukan Stella, istrinya.


***


Sementara itu di hotel, semua sedang sibuk mempersiapkan diri. Ayah Rama, ibu dan juga Ibras mereka ada di kamar mereka masing-masing. Ayah tentu saja satu kamar dengan ibu Anisa. Dan Naira, dia juga berada dalam ruangan VIP tempat dimana Samuel juga akan berada di sana untuk di make up dan berganti pakaian.


Saat ini Naira sedang di make up untuk acara foto keluarga, Puspa bahkan ikut datang khusus untuk mempersiapkan pakaian yang akan di pakai oleh Naira.


"Wah, pakaian apapun. memang bisa melekat sempurna di tubuh mu Nai!" ucap Puspa memuji Naira dari arah pintu.


Naira pun langsung menoleh, dia tersenyum senang melihat kedatangan Puspa. Naira bahkan berdiri dan hendak menghampiri Puspa namun makeup artist nya menghalanginya.


"Nona, jangan bangun. Tatanan rambut anda belum selesai!" ucap sang makeup artist itu.


Puspa tersenyum dan menghampiri Naira.


"Jangan seperti itu Nai, kamu bukan sedang memakai kaos dan celana jeans seperti biasa nya, kamu memakai gaun dan hiasan kepala yang lumayan ribet. Jadi jangan asal berlari atau bangun dengan tiba-tiba seperti itu. Tidak boleh ya!" ucap Puspa memberitahu Naira agar dirinya bisa lebih berhati-hati.

__ADS_1


Naira tersenyum dan mengangguk kan kepalanya. Menurut nya apa yang dikatakan Puspa itu benar, dia tadi hanya melakukan gerakan refleks karena begitu senang melihat Puspa.


"Aku juga bawakan sepatu dengan hak yang rata, bukan High heels, kurasa akan mempermudah pergerakan mu! warna nya juga netral, akan sangat cocok dengan gaun mu. Juga tidak akan terlihat karena gaun mu akan menutupinya!" jelas Puspa panjang lebar sambil menunjukkan sepatu desain terbarunya.


Puspa melakukan itu karena saat latihan memakai high heels pada feeting gaun pengantin yang lalu, Naira kesulitan berjalan dengan baik. Jadi Puspa sengaja membuatkan sepatu yang sesuai dan yang akan membuat Naira merasa nyaman.


"Terimakasih banyak Puspa, kamu baik sekali!" ucap Naira dengan mata yang berbinar. Dia sangat senang, orang yang begitu terkenal dan status sosial tinggi seperti Puspa begitu perduli padanya dan mau membantunya bahkan tanpa dia memintanya.


Puspa menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Itulah gunanya teman Naira! Oh ya calon suami mu belum datang?" tanya Puspa sambil melihat ke sekeliling ruangan. Belum tampak batang hidung pria arogan itu dan barang-barangnya juga belum terbongkar dari koper yang di bawa oleh anak buah Puspa dari butik.


"Aku belum melihatnya!" jawab Naira.


"Mungkin tidak kalau dia berubah pikiran dan kabur dari pernikahan?" tanya Puspa dengan niat hanya bercanda dengan Naira.


"Mungkin kah itu?" tanya Naira balik membuat Puspa malah mengerutkan keningnya.


Sepertinya maksudnya menggoda Naira malah balik menyerangnya sendiri. Karena Naira tidak terlihat panik saat Puspa mengatakan itu. Sebaliknya, Naira malah terlihat senang.


'Wah, semoga saja dia benar-benar kabur! kalau dia yang kabut kan berarti dia yang menyalahi kontrak, yes... aku akan bebas!' batin Naira senang.


Author POV end


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2