
Samuel masih terus melihat ke arah pintu ruang ICU dimana adiknya sedang menjalani penanganan medis akibat kecelakaan yang cukup parah dan membuat mobil bagian depannya ringsek.
Sementara Riksa masih sibuk memberikan keterangan pada polisi yang datang ke rumah sakit yang menangani kasus ini. Karena bagaimanapun ini adalah kecelakaan di jalan raya dan itu sudah kewajiban bagi para petugas kepolisian mengusut kasus ini hingga tuntas, termasuk nantinya mencari penyebab kecelakaan. Apakah memang karena faktor jalan, kondisi kendaraan atau murni human eror.
Riksa memberikan keterangan sebagai seseorang yang datang pertama kali dan melihat kedua mobil itu sudah saling tabrakan. Samuel bahkan sama sekali tidak bisa memberikan keterangan karena terlalu cemas pada kondisi Adam.
"Pak, saya akan datang ke kantor polisi dan memberikan keterangan lain. Tapi saat ini saya hanya bisa menyampaikan hal itu, kami datang saat kedua mobil itu sudah sama-sama rusak parah, kamu tidak tahu apa yang terjadi...!"
Riksa berusaha untuk melindungi Adam, karena mereka semua belum tahu kondisi Adam dan juga wanita itu. Tapi belum selesai Riksa bicara seorang petugas muda menyelanya.
"Lalu kenapa bisa tepat sekali kalian berada di sana?" tanya polisi tersebut.
"Kami baru saja ingin ke kantor, kami berangkat dari rumah. Adam terlebih dahulu berangkat dan kami di belakang nya. Bos ku dan aku berangkat berselang sekitar lima atau tujuh menit dari Adam...!"
"Anda yakin tuan Riksa, apakah anda tahu apa akibatnya kalau anda memberikan keterangan palsu pada petugas kepolisian?" tanya petugas kepolisian yang lebih muda itu lagi menyela ucapan Riksa kembali.
Riksa langsung mengangguk paham.
"Saya tahu pak, dan apa yang saya katakan memang benar! Anda bisa periksa saya dengan alat pendeteksi kebohongan atau semacamnya, tapi saya harap beri kami waktu setidaknya sampai Adam sadar dan bisa mengatakan semuanya, atau setidaknya kami juga harus di dampingi seorang pengacara bukan?" tanya Riksa berusaha meyakinkan kedua petugas yang datang meminta keterangan para saksi atas kecelakaan yang terjadi.
Petugas polisi yang lebih tua memperhatikan gerak-gerik Riksa, pembawaan nya yang tenang dan ekspresi wajah yang tenang dan juga teduh membuat semua orang akan sulit menilai kalau Riksa sedang menutupi sesuatu.
"Baiklah, kami tahu kalian sedang dalam kondisi seperti apa saat ini. Tapi kamu menunggu secepatnya keterangan dari saudara, kami permisi dulu!" ucap petugas kepolisian itu yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Riksa.
Kedua petugas itu kemudian berbalik dan berjalan perlahan, namun petugas yang lebih muda itu kembali berbalik dan memanggil Riksa yang sudah berbalik juga bersiap untuk melangkah menuju ke tempat Samuel.
__ADS_1
"Tuan Riksa!" panggil petugas itu membuat langkah Riksa berhenti lalu kembali berbalik menghadap ke arah petugas muda itu.
"Apa kamu menemukan identitas wanita itu saat menolongnya?" tanya petugas itu pada Riksa.
"Maaf pak, tapi saat itu kami tidak memikirkan untuk mencari identitas nya, saat itu kami hanya fokus bagaimana cara mengeluarkan wanita itu dari dalam mobilnya yang terus memercikkan api, dan benar saja saat kami semua berhasil menjauhkan wanita tersebut dari mobilnya, mobil itu langsung meledak dan terbakar. Mobil seperti itu kurasa hanya beberapa orang yang mampir membelinya di kota ini!" ucap Riksa yang berusaha meyakinkan polisi itu kalau apa yang dia katakan benar. Dan kali ini Riksa memang jujur dia memang tidak memikirkan untuk mencari identitas wanita itu, karena dia mencemaskan mobil wanita itu akan terbakar.
Dan ternyata apa yang dia cemaskan.benar terjadi. Mobil itu meledak setelah wanita itu berhasil di jauhkan dari sana.
Petugas yang yang sudah paruh baya menganggukkan kepalanya.
"Benar, mobil itu pun kalau mau membelinya paling tidak harus indent terlebih dahulu. Kami akan segera mencari tahu identitas wanita itu. Tapi kami meminta kerjasama anda tuan Riksa!" seru petugas yang lebih terlihat sabar dan bijaksana itu.
"Baik pak!" jawab Riksa dengan cepat.
Riksa juga sedang bingung, dia bingung apakah harus beritahu keluarga sekarang tentang kecelakaan Adam ini atau setelah Adam keluar dari ruang ICU.
"Apa kamu sudah telepon ibu?" tanya Samuel.
"Belum bos!" jawab Riksa.
"Beritahu saja Riksa, sudah satu jam lebih dan kita tidak tahu bagaimana keadaan Adam, aku tidak tahu apakah Adam...!" Samuel menghentikan kalimat nya dan mengusap wajahnya kasar.
Riksa benar-benar merasa bersalah, semua ini juga terjadi karena dia datang ke kediaman Virendra untuk meminta restu dari keluarga Virendra untuk menikah dengan Puspa.
Riksa langsung menghubungi Puspa dan Puspa juga sangat syok ketika mendengar kabar kecelakaan ini. Cukup lama dia diam dan baru bicara setelah beberapa saat.
__ADS_1
Puspa juga mengatakan akan segera ke rumah sakit bersama dengan yang lain.
Namun ketika Samuel dan Riksa sedang menunggu di depan ruang ICU dimana Adam ada di dalamnya sedang di tangani oleh para dokter. Dari ruang ICU lain keluar seorang perawat membawa sebuah dokumen bersama dengan seorang dokter yang terlihat sangat tergesa-gesa menghampiri Samuel dan juga Riksa.
"Permisi, apa kalian berdua yang bertanggung jawab atas pasien yang mengalami kecelakaan di ruang ICU itu?" tanya dokter itu begitu terburu-buru.
Riksa langsung mengangguk. Sementara samuel hanya memperhatikan saja.
"Iya dokter, ada apa? bagaimana keadaan wanita itu?" tanya Riksa cemas.
"Begini kondisinya sangat parah, pendarahan terus menerus dan ini sangat berbahaya. Dan kami terpaksa mengangkat rahim wanita itu yang terkena benturan sangat kuat dan rusak parah karena kecelakaan tersebut. Seperti hantaman dari arah depan sangat kuat, kami harus meminta tanda tangan seseorang yang mau bertanggung jawab atas tindakan operasi ini. Ini sangat urgent tuan!" jelas sang dokter panjang lebar yang memuat Samuel merasa sangat terpuruk saat ini.
Adiknya bahkan telah membuat seorang wanita kehilangan rahimnya, bagaimana dengan masa depan wanita itu selanjutnya. Bisa saja dia adalah seorang kekasih atau tunangan seseorang yang kemungkinan akan kehilangan tunangan nya karena dia tidak akan bisa memberikan keturunan lagi. Atau bahkan dia adalah istri dari seseorang yang akan membuat suaminya sangat sedih dan kecewa karena mereka tidak akan bisa memiliki anak. Samuel benar-benar merasa sangat bersalah tidak bisa menghentikan Adam saat akan keluar dari dalam rumah hingga harus terjadi masalah yang begitu kompleks seperti ini.
"Tuan, kami mohon cepat. Kami tidak bisa mengambil tindakan medis jika tidak ada satu pun dari kalian yang mau tanda tangan, ini demi keselamatan seseorang tuan!" seru dokter itu yang memang sangat khawatir pada kondisi pasiennya.
Samuel langsung meraih pulpen yang di bawa oleh perawat itu.
"Bos...!" lirih Riksa yang sebenarnya kurang setuju kalau Samuel yang bertanggung jawab.
"Ini demi sebuah nyawa Riksa!" jawab Samuel yang langsung menandatangani dokumen itu dengan cepat.
***
Bersambung...
__ADS_1