
Dua pasang mata saling bertemu, keduanya menyiratkan kalau dua insan yang sedang beradu pandang itu memang mempunyai perasaan yang sama.
Riksa segera berjalan mendekati Puspa yang baru saja keluar dari ruangannya. Dengan setangkai mawar merah di tangan, Riksa berlutut dengan satu kaki di hadapan Puspa.
Puspa sampai membulatkan mulutnya membentuk sebuah huruf O dan memegang dadanya karena terkejut dengan apa yang di lakukan oleh pria tampan dengan pakaian formal, setelah jas berwarna hitam, dengan dasi berwarna merah seolah tahu kalau dress yang di pakai Puspa juga memiliki warna senada.
"Riksa, apa yang...!"
Belum selesai Puspa mengatakan apa yang ingin dia katakan karena keterkejutannya. Riksa menyodorkan setangkai bunga itu ke depan Puspa dan berkata.
"A rose for a woman as beautiful as a rose" ucap Riksa yang sudah menyusun kata-kata itu di dalam mobil selama beberapa menit tadi.
Puspa tersenyum, dia begitu tersentuh. Dia meraih bunga itu dan menghirup aroma yang begitu harum dari bunga mawar yang sudah mekar sempurna itu. Puspa benar-benar tersentuh, karena baru kali ini seumur hidup nya Riksa memberinya setangkai mawar merah. Semua orang tahu, apa makna di balik setangkai mawar merah yang di berikan oleh seorang pria single kepada wanita single bukan.
'Apa dia akan berubah pikiran, sikap yang dia tunjukan dan mawar ini?' Puspa terus bertanya-tanya dalam hatinya sambil memperhatikan setangkai mawar di tangannya.
Riksa berdiri kemudian mengarahkan sikunya pada Puspa seolah meminta agar wanita cantik itu menggandeng nya. Karena mengerti maksud Riksa, Puspa pun menautkan lengannya juga ke siku bagian dalam lengan Riksa dan mereka pun berjalan berdampingan menuju ke arah mobil Riksa.
Riksa membukakan pintu mobil untuk Puspa, dan wanita cantik itu mengangguk sekali sambil tersenyum.
"Thank you!" ucap Puspa ramah.
"Anything for you the most beautiful woman in the world" sahut Riksa dan langsung menutup pintu mobil saat Puspa sudah masuk dan duduk di dalam mobil.
Sambil memasang sabuk pengaman, Puspa terus memperhatikan Riksa yang berjalan memutar ke depan mobil untuk duduk di kursi pengemudi.
'Ada apa dengannya, apa dia akan memberikan kejutan untukku, atau malah akan meninggalkan aku?' batin Puspa sungguh berkecamuk.
Riksa yang sudah duduk di kursinya dan memasang sabuk pengaman juga langsung menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraannya itu menuju ke restoran yang sudah dia reservasi sebelumnya.
__ADS_1
Sementara Puspa sesekali mencuri pandang ke arah Riksa, ada perasaan takut di dalam hatinya. Jika selama ini Riksa selalu bersikap biasa saja tapi tetap berada di sampingnya, dia sudah berpikir apakah sikap berbeda Riksa ini justru akan membuat mereka jauh.
"Riksa boleh aku bertanya padamu?" tanya Puspa.
Riksa yang sedang fokus mengemudi akhirnya menoleh sekilas dan tersenyum pada Puspa.
"Iya, ada apa?" tanya Riksa dengan ekspresi wajah yang biasa.
"Apa kamu akan dinas keluar kota? atau ke luar negeri?" tanya Puspa uang penasaran dengan apa yang tengah dilakukan oleh Riksa.
Cara bicara dan sikapnya yang tidak biasa malah membuat Puspa merasa cemas. Kalau-kalau Riksa melakukan semua itu sebagai kenangan manis sebelum dia pergi. Karena Puspa pernah mendengar kalau Samuel pernah marah padanya dan akan memutasinya ke luar pulau. Dan hal itu pasti membuat mereka semakin jauh, karena tinggal di satu kota saja mereka jarang bicara atau bertemu jika tidak ada hal penting.
Riksa langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Puspa.
"Tidak, kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya balik Riksa setelah menjawab pertanyaan dari Puspa tadi.
"Aku merasa sikap mu padaku sedikit berbeda, atau jangan-jangan...!" Puspa menjeda kalimatnya dan menyerong ke arah Riksa.
Riksa terdiam ketika Puspa menanyakan hal itu padanya.
'Apa yang dia pikirkan, apa selama ini aku terlihat dekat dengan wanita lain selain dia. Kenapa dia bahkan mengira seperti itu?' tanya Riksa dalam hati.
Tapi kemudian pandangan Riksa mengarah ke arah mata Puspa yang terlihat berkaca-kaca.
'Wanita bodoh, kenapa bertanya hal itu kalau kamu tahu pertanyaan itu akan menyakiti mu!' batin Riksa lagi.
Riksa merasa tersentuh melihat betapa Puspa sangat perduli padanya dan mencintai nya.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan jika aku menikah dengan wanita lain?" tanya Riksa yang sengaja ingin tahu bagaimana reaksi Puspa jika Riksa bertanya seperti itu.
__ADS_1
Puspa memejamkan matanya dan memalingkan wajah ke arah kaca jendela mobil. Saat matanya terpejam, air mata yang menggenang pun jatuh mengalir ke pipi merona Puspa.
Dengan cepat Puspa menyekanya dengan punggung tangannya.
"Jika tidak ingin mendengarnya kenapa masih bertanya?" tanya Riksa lagi.
"Diam kamu, mengemudi saja dengan benar!" ketua Puspa tanpa menoleh ke arah Riksa.
Sebenarnya Riksa sedikit cemas karena setelah mengatakan hal itu, Puspa benar-benar tidak menunjukkan wajahnya ke arah Riksa. Benar-benar terus memunggungi Riksa sampai tiba di area depan Restoran.
"Kita sudah sampai!" seru Riksa.
Kemudian satu orang petugas restoran dan juga satu orang petugas parkir menghampiri mobil Riksa. Satu orang membantu membukakan pintu mobil untuk Puspa dan satu lagi untuk Riksa. Lalu petugas itu membawa mobil Riksa untuk diparkirkan di tempat parkir VIP.
Riksa mendekati Puspa dan menarik tangannya lalu menyematkannya di siku bagian dalamnya. Seperti saat mereka keluar dari butik Puspa tadi, saat Puspa berusaha menarik tangannya. Riksa tidak mau melepaskannya dan mengapitnya semakin kencang.
Sampai mereka di sapa oleh pelayan restoran dan di ajak ke ruangan yang sudah di pesan olah Riksa tadi siang.
"Silahkan!" ucap pelayan itu dengan sopan sambil membuka pintu ruangan itu.
Puspa di buat terpana dengan semua yang ada disana. Riksa bahkan meminta manager restoran menyiapkan sebuah layar LED yang cukup besar yang berisi rekaman beberapa foto Puspa dan juga foto kebersamaan Puspa dan juga Riksa.
Dengan lilin yang dibentuk tulisan Happy brithday di atas meja di hadapan nya. Puspa maju dan melihat semua itu, dia sampai menutup mulutnya tak percaya, matanya berkaca-kaca lagi, dan dia tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya saat ini. Puspa merasa sangat bahagia tapi masih ada yang mengganjal di hatinya.
Sampai Riksa mendekati nya dan dan berkata
"Aku tahu jika setiap kamu ulang tahun, maka ibu mu lah orang pertama yang akan mengucapkan selamat padamu. Kamu akan menolak semua panggilan telepon dan tidak akan membaca satu pesan pun sebelum menjawab panggilan telepon dari ibu mu dan juga membaca pesan darinya, tapi kali ini bolehkah jika aku orang yang pertama mengucapkan selamat ulang tahun padamu, Puspa?" tanya Riksa yang membuat Puspa benar-benar ingin menangis ketika mendengarnya.
***
__ADS_1
Bersambung...