
Aku masuk ke dalam kamar sambil memegang dadaku, ada perasaan yang tidak bisa aku ungkapkan ketika mendengarkan Samuel mengatakan sesuatu padaku tadi sebelum dia mengetuk pintu kamar Ibras.
Kalimat itu tidak terlalu panjang tapi tidak terlalu pendek juga, dan yang jelas kalimat itu mampu membuat hatiku merasa tersentuh. Aku bahkan tidak bisa menyembunyikan senyum yang sedari tadi terus terlukis di wajahku.
Panggilan nya padaku juga sudah berubah, bukan hei lagi, tapi dia memanggil namaku. Tapi ketika aku berjalan masuk ke dalam kamar menuju lemari, aku terselandung lalu jatuh ke lantai.
"Aduh!" pekik ku sambil mengusap siku ku yang membentur lantai meski tidak terlalu kencang.
Dan saat aku terjatuh itu, rasa sakit di lutut dan siku membuatku teringat pada rasa sakit saat Samuel kembali bersikap dingin setelah sebelumnya bersikap begitu lembut.
Lama-lama aku menyadari kalau pria itu memang seperti itu, dan hal itu membuatku terbangun dari khayalan semu ku tadi.
"Sadar Naira, kamu siapa dan si lidah tajam itu siapa? kalian tuh ibarat nya orang terkaya dan orang yang belum kaya!" gumam ku lalu bangun dan mulai mengambil pakaian ku.
Aku mengunci pintu kamar ku, karena akan segera ganti pakaian. Baru juga aku pakai pakaian dalam, suara ketukan pintu membuat aku menghentikan aktivitas ku sejenak dan segera menoleh ke arah pintu.
Tok tok tok
"Naira buka pintunya, kamu tidak sadar atau sengaja membiarkan aku hanya memakai handuk ke sana kemari?" teriak Samuel dari luar kamar.
"Sebentar mas!" sahut ku dari dalam lalu segera memakai mini dress yang tadi di belikan oleh Samuel di mall.
Belum juga resleting mini dress aku tarik ke atas, tapi Samuel yang terus menggedor pintu kamar membuat ku segera berlari ke arah pintu.
Ceklek
"Maaf mas, aku sedang berpakaian!" ucap ku pelan pada Samuel.
Samuel masuk lalu menutup kembali pintu kamar.
"Mana ponsel ku, rumah mu ini panas sekali. Aku mau pesan AC!" ucap nya yang langsung mencari ponselnya di meja rias tapi masih dengan lilitan handuk di pinggangnya.
Aku hanya diam, aku berusaha untuk meraih resleting di belakang mini dress ku tapi sepertinya agak sulit, seharusnya aku tidak perlu menurunkannya sampai sejauh itu hanya untuk memakai nya.
Melihat ku kesulitan, Samuel lalu menghampiri ku dan berdiri di belakang ku, dia mengajakku untuk berdiri di depan cermin, lalu perlahan membantu ku menarik resleting mini dress itu ke atas. Namun rasanya gerakan nya sangat lambat, aku bisa melihat ke arah pantulan kaca kalau dia terus memandang ke arah tangannya bergerak. Dan itu membuat ku sangat gugup.
"Mas... bisakah lebih cepat!" ucap ku karena gerakan Samuel lambat sekali sementara aku haus segera menyiapkan makan malam untuk kami semua.
__ADS_1
"Diam lah Naira, kenapa kamu suka sekali mengganggu kesenangan orang lain?" tanya Samuel yang terdengar seperti sebuah komplain.
"Mas... aku harus mema... sak sshh!" aku memejamkan mataku, ketika kulit tangan yang kekar namun lembut itu menyentuh pinggang dan punggung ku perlahan.
"Aku rasa, selain meminta Riksa memesan AC aku juga akan meminta agar Riksa memesan makan malam!" ucap Samuel yang tersenyum menyeringai di belakang ku.
Aku langsung menelan saliva ku dengan sangat susah payah.
"Mas, tapi kita baru saja... di kamar mandi... tadi!" aku benar-benar gugup.
Sebenarnya pria ini habis makan apa sih, kenapa juga dia seperti tidak ada lelahnya, semalam, tadi sore, dan sekarang dia masih mau melakukan itu lagi, aku saja yang hanya diam dan... astaga! apa yang aku pikirkan.
Samuel mulai menghadapkan aku ke arahnya dan mulai menurun kan salah satu lengan mini dress yang aku pakai. Lutut ku rasanya benar-benar sangat lemas, aku sangat lapar.
Tok tok tok
"Naira, kamu di dalam nak?" sebuah suara membuat ku merasa sangat lega.
"Mas, itu ibu. Tolong naikkan resleting nya sekarang, tolong!" pintaku pada Samuel.
Pria itu mendengus kesal, tapi dia juga menuruti permintaan ku. Setelah itu aku langsung membuka pintu tapi tidak membuka seluruhnya, aku langsung keluar dengan celah pintu sempit yang aku buka itu dan menutup nya kembali.
"Naira kangen banget sama ibu!" ucapku kemudian.
"Jadi bener nak Samuel juga ikut tinggal di sini. Wah Nai, itu kenapa leher kamu merah merah dia gitu?" tanya ibuku yang langsung memperhatikan hasil karya Samuel di dalam kamar mandi tadi.
Aku langsung mengajak ibu ku pergi ke arah dapur.
"Ibu, jangan keras-keras. Nanti kedengaran sama Ibras, dia nanya kita mau jawab apa?" tanya ku pada ibu ku dengan suara pelan.
Saat aku bertanya seperti itu, ibu malah terkekeh pelan.
"Ih, ganas juga nak Samuel ya. Katanya sih bule tuh emang gitu kak, sehari tiga kali!" ucap ibuku.
Mataku langsung melotot, darimana ibu tahu hal semacam itu.
"Ibu denger darimana, gosip di tukang sayur? emang ada yang nikah sama bule di kampung sini?" tanya ku penasaran.
__ADS_1
"Bukan kak, ibu mah denger dari Bu Saodah. Katanya ibu di suruh supaya ngasih tahu kamu buat banyak-banyak minum vitamin, karena bule itu bisa sehari tiga kali!" ucap ibu lagi sambil terkekeh lagi.
Aku ikut terkekeh mendengar perkataan ibu barusan.
"Kayak minum obat aja ya Bu, sehari tiga kali!" sahut ku.
"Emang berapa kali?" tanya ibuku terkesan begitu kepo.
Aku langsung mengernyitkan kening ku.
"Ibu apaan sih? kok nanya kayak gituan?" protes ku pada ibu.
"Ha ha ha, kasihan kamu kak. Bisa encok kami!" ucap ibu.
Dia masih terus menggodaku, dan mengatakan hal hal yang kurasa tak pernah terpikirkan oleh kami akan kami bicarakan setelah aku menikah. Dan Bu Saodah itu, dari mana dia tahu hal-hal semacam itu, memangnya di punya saudara yang menikah dengan bule, sepertinya tidak ada tapi dari mana dia tahu semua itu.
"Si ayah mana sih?" tanya ibu yang mulai menjelaskan keberadaan Ayah yang sedang tadi tidak kunjung masuk ke dalam rumah.
"Loh, bukannya tadi Ayah jemput ibu?" tanya ku mulai cemas.
"Iya tadi ayah emang jemput ibu terus dia ngantar Ibu pulang, tapi abis itu Ayah pergi lagi katanya mau nolongin anak pak RT yang lagi bangun rumah itu loh!" jawab ibu santai tapi wajahnya terlihat cemas seperti ku.
"Malem-malem gini Bu?" tanya ku heran.
"Kan musim hujan kak, tadi tuh tinggal masang asbes doang, terus pas ketemu di jalan tadi Pak RT lagi nyari orang buat bantuin pasang asbes supaya cepat kelar, dan kamu tahu kan watak Ayah kamu, dia malah nawarin diri gitu buat bantuin padahal dia kan sama kayak kamu tuh rabun ayam!" jelas ibu.
Aku juga semakin cemas, dan saat kami sedang memikirkan ayah. Ada seseorang yang mengetuk pintu rumah.
Tok tok tok
"Assalamualaikum Bu Anisa!" panggil seseorang yang terdengar seperti suara seorang pria.
"Waalaikumsalam!" jawab ku dan juga ibu secara bersamaan.
Kami langsung bergegas meninggalkan dapur menuju ke ruang tamu, setelah aku membukakan pintu, aku terkejut dan ibuku bahkan sudah berteriak.
"Astagfirullah ayah, kenapa ini?" tanya ibu histeris.
__ADS_1
***
Bersambung...