Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
233


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju ke butik milik Puspa, Jonathan dan Puspa hanya saling diam dan tidak saling bicara. Puspa lebih memilih untuk fokus mengemudi, dan Jonathan juga hanya diam, tapi sesekali pria blasteran yang tampan dengan rambut coklat alami itu masih mencuri pandang ke arah Puspa dan saat dia melakukan itu, Jonathan selalu mengulas senyumnya. Membuat Puspa yang sejak tadi ingin jujur tentang perasaan nya jadi semakin tidak tega untuk mengatakan nya.


"Tidak mau tahu kenapa aku memilih melihat butik mu dari pada tempat lain di kota ini?" tanya Jonathan yang akhirnya membuka suara.


Puspa langsung menoleh sekilas lalu berkata.


"Oh iya, apa yang membuat mu lebih memilih kita pergi ke butik?" tanya balik Puspa sedikit canggung.


"Aku ingin melihat betapa hebatnya wanita yang akan mendampingiku seumur hidup ku!" jawab Jonathan.


Cittt


Puspa langsung menekan pedal rem dengan cepat karena merasa terkejut akan jawaban yang di berikan Jonathan. Dia merasa semakin buruk saja jika membuatkan Jonathan terus berharap dan salah paham padanya. Tapi di satu sisi Puspa juga masih mengingat dengan jelas apa yang tadi ibunya katakan tentang jangan menyakiti Jonathan karena hal itu akan membuat ayahnya serta nama baik keluarga menjadi taruhan.


Puspa langsung menelan salivanya dengan susah payah. Sementara Jonathan tidak menunjukkan sikap yang berlebihan dia hanya diam dan sesekali menoleh ke arah Puspa yang saat ini benar-benar merasa sangat canggung.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Jonathan dengan raut wajah sedikit khawatir.


Puspa langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Iya, maaf Jo. Aku tadi...!"


"Bagaimana kalau aku saja yang mengemudi?" tanya Jonathan menyela Puspa yang terlihat gugup.


Puspa lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak perlu, aku baik-baik saja!" ucap Puspa lalu kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ke butik.


Beberapa lama kemudian mereka pun tiba di depan butik, satpam memberi hormat pada Puspa yang lewat sambil membuka kaca jendela mobil dan membunyikan klakson. Hari ini memang sangat sepi, karena Puspa memang meliburkan semua nak buahnya dan juga menutup butik untuk satu hari.


Mungkin yang ada di dalam hanya penjaga butik dan juga official boy saja. Puspa memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus yang biasa dia gunakan.

__ADS_1


Jonathan keluar dari dalam mobil terlebih dahulu dan segera berlari ke arah pintu mobil bagian Puspa dan membukakan pintu mobil untuk Puspa.


"Terimakasih" ucap Puspa.


Dengan tersenyum Jonathan menjawab.


"Anytime Miss!" jawab Jonathan sangat ramah dan begitu lembut.


Puspa membuka pintu butik dan Jonathan mulai melihat-lihat ruangan demi ruangan sampai ke ruang kerja Puspa. Jonathan memperhatikan meja kerja Puspa dan bertanya.


"Tidak ada foto kekasih mu disini?" tanya Jonathan membuat mata Puspa terbelalak terkejut.


"Apa katamu?" tanya Puspa cepat.


Puspa merasa sangat bingung kenapa Jonathan menanyakan hal itu padanya. Sejauh yang dia tahu, Jonathan bukan tipe orang yang suka bercanda. Jadi Puspa yakin apa yang Jonatan tanyakan barusan itu juga bukan merupakan sebuah candaan.


Jonatan lalu berjalan ke arah Puspa yang makin gugup saja setelah apa yang barusan pria itu tanyakan padanya.


"Kamu ke butik? kapan?" tanya Puspa panik.


Puspa panik karena dia tidak melihat Jonathan malam itu. Bahkan anak buahnya tidak ada yang bilang kalau ada tamu untuknya selain Riksa.


Jonathan tersenyum lirih.


"Saat pria itu keluar dengan menggandeng lengan mu di sikunya!" jawab Jonathan yang membuat mata Puspa lagi-lagi terbelalak karena terkejut.


"Kamu.. melihat aku dan Riksa?" tanya Puspa dengan nada bicara yang sedikit terbata-bata.


"Jadi namanya Riksa!" ucap Jonathan lalu berbalik dan tidak mengeluarkan suara lagi.


Tangan dan kaki Puspa sudah gemetaran, dia sangat takut kalau Jonathan marah dan itu akan berpengaruh pada apa yang akan menimpa keluarga nanti. Puspa benar-benar tidak bisa berkata-kata. Dia berusaha meraih pinggiran meja kerjanya untuk meletakkan tangannya. Agar dia bisa bertumpu untuk tetap berdiri dengan tegap.

__ADS_1


Setelah beberapa lama diam, Jonathan menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskan nya. Puspa yang melihat sikap Jonathan itu makin di buat panik. Jonathan lalu berbalik dan melihat ke arah Puspa lagi.


Sementara Puspa tidak berani menatap mata pria itu, dia memang selalu tidak berani menatap Jonathan. Karena mata pria itu begitu tajam tapi menghanyutkan.


"Aku tidak hanya melihatmu keluar dari butik bersama dengan Riksa, aku bahkan mengikuti kalian. Kalian pergi ke restoran kan, dan aku lihat semua yang terjadi, bagaimana pria itu mencium mu...!" Jonathan tidak dapat melanjutkan perkataannya. Matanya sudah merah dan berkaca-kaca.


Puspa kali ini memejamkan matanya. Dia berpikir Jonathan pasti sudah tahu segalanya. Dan dia pasti tidak akan terima semua hal ini, Puspa benar-benar sudah pasrah apapun yang akan terjadi padanya dan keluarga nya. Tapi dia benar-benar mencemaskan penyakit jantung ayahnya. Puspa mengepalkan tangan berusaha untuk tidak menjatuhkan air mata yang sudah menggenang di matanya.


Sekarang Puspa berpikir lebih baik dia jujur, toh Jonathan juga sudah tahu hubungan nya dengan Riksa. Akan lebih baik kalau dia berterus-terang pada Jonathan.


"Aku minta maaf Jo, aku tidak bisa membohongi perasaanku. Dan aku juga tidak mau membohongi mu. Aku dan Riksa saling mencintai, kami...!"


Jonathan langsung meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Puspa. Hingga membuat wanita dengan mata yang sudah berkaca-kaca itu terdiam.


"Aku memang mencintai mu, tapi aku juga tidak akan memaksa mu!" ucap Jonathan membuat Puspa bertambah bingung.


"Aku mencintai mu sepenuh hatiku, setulus hatiku, dan satu-satunya keinginan ku hanya membuat mu bahagia, apa gunanya kamu bersama ku tapi kamu tidak bahagia! kamu berhak mencintai orang itu Puspa, kamu berhak!" ucap Jonathan.


"Jo!" lirih Puspa.


"Aku akan tetap mencintaimu, akan aku pendam perasaan ini sampai dia bosan sendiri. Meski aku pun tidak yakin akan hal itu." ucap Jonathan lagi membuat air mata Puspa benar-benar terjatuh karena merasa sangat terharu dan tidak enak hati dalam waktu yang bersamaan.


Cukup lama mereka terdiam, hanyut dalam perasaan masing-masing.


"Tapi kita tetap harus bertunangan, karena acaranya itu nanti malam. Aku tidak bisa mempertaruhkan nama baik dua keluarga!" seru Jonathan membuat Puspa kembali merasa bingung.


"Tapi...!"


"Tenang saja Puspa, hanya bertunangan. Aku akan cari waktu dan alasan yang tepat untuk membatalkan pernikahan yang sudah di tetapkan keluarga kita nanti. Kamu percaya padaku kan?" tanya Jonathan dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari Puspa karena dia juga tidak punya pilihan dan solusi lain.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2