
Setelah merasa kalau perutnya tidak enak dan rasanya sangat mual, Naira minta izin kepada suaminya Samuel untuk pergi ke toilet. Awalnya Samuel mau menemani istrinya itu namun seorang perawat keluar dari dalam ruangan dokter Arini dan meminta agar Naira atau keluarganya masuk ke dalam ruangan praktek dokter Arini untuk mengambil obat dan vitamin yang harus dikonsumsi oleh Naira.
Samuel pun akhirnya tidak jadi menemani Naira, dan masuk ke dalam ruangan praktek dokter Arini. Setelah masuk kedalam ruangan praktek dokter Arini, Samuel di persilahkan untuk duduk oleh dokter Arini.
"Selamat ya Samuel, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah!" ucap dokter Arini seraya tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk memberi ucapan selamat kepada Samuel.
Samuel pun menerima uluran tangan dokter Arini tersebut dan menerima ucapan selamat dari sahabat ibunya itu.
"Terimakasih dokter, bagaimana semuanya? hasil pemeriksaan dokter apakah Naira baik-baik saja dan bayi kami juga?" tanda Samuel pada dokter Arini dengan nada suara yang bersemangat dan menggebu-gebu.
Dokter Arini sampai terkekeh kecil melihat reaksi dari Samuel dan mendengar pertanyaannya itu.
"Keduanya sehat, keduanya sangat baik. Namun dalam trimester pertama seperti ini memang kita sebaiknya harus lebih hati-hati. Maka dari itu tadi aku sudah sampaikan apa saja yang boleh dilakukan dan tidak boleh oleh Naira, dan apa saja yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan. Ibu mu juga akan mengawasinya, jadi kamu tenang saja. Kamu tahu kan, kalau ibumu itu adalah satpam terbaik di dunia ini!" ucap dokter Arini sambil terkekeh.
Apa yang dikatakan oleh dokter Arini itu memang benar, selama ini Stella selalu menjaga keluarganya dengan baik. Apalagi kakek Virendra, dia selalu mengurus dan merawat kakek Virendra dengan sangat teliti dan hati-hati. Setelah dia pensiun dari pekerjaan nya menjadi duta lingkungan hidup dan juga kesehatan, Stella benar-benar fokus pada keluarganya.
Semua itu bukanlah tanpa sebab, Stella melakukan semua itu karena apa yang terjadi pada putra bungsunya. Dia mampu merawat dan menjaga orang lain tapi dia tidak mampu menjaga dan merawat putra bungsunya sendiri, dan itu adalah penyesalan terdalam bagi seorang Stella. Sejak masa jabatan nya berakhir dia memutuskan untuk berhenti dari dunia politik dan sosial yang selama ini juga membuatnya bisa menjadi seorang sarjana yang patut di perhitungkan kemudian dia fokus mengurus keluarganya.
Samuel mengangguk setuju. Kemudian dia mengingat lagi apa yang terjadi dengan Naira tadi. Jadi sekalian saja Samuel memutuskan untuk bertanya kepada dokter Arini tentang hal itu.
"Tapi kenapa Naira beberapa hari ini sering mual ya dokter, apa itu bukan masalah?" tanya Samuel.
Dokter Arini mengangguk perlahan.
"Itu merupakan hal yang wajar kalau terjadi sekali saja dalam sehari. Tapi kalau sampai terjadi terlalu sering dalam satu hari misalnya pagi hari di sudah muntah beberapa kali kemudian siang dia muntah beberapa kali dan malam iya bisa muntah beberapa kali itu sudah tidak wajar, sebaiknya di tangani lebih lanjut. Tapi kalau dari apa yang Naira katakan tadi sepertinya memang masih wajar! dan aku juga sudah menuliskan resep untuk mengurangi rasa mual nya itu!" jelas dokter Arini.
Dari penjelasan yang dikemukakan oleh dokter Arini, Samuel mengangguk paham. Dia jadi lebih tenang, karena memang tidak terlalu sering Nayla seperti itu hanya saja sesekali.
"Lalu apakah kami masih boleh melakukan itu?" tanya Samuel yang juga memikirkan hal tersebut.
__ADS_1
Dokter Arini tersenyum.
"Tentu saja, tapi tidak boleh terlalu sering. Dan jangan dengan gaya macam-macam. Kalau istrimu protes dan merasa tidak nyaman maka sebaiknya di hentikan. Ini semua juga demi kesehatan istri dan juga calon anak mu!" perang dokter Arini dengan sangat sabar menjelaskan kepada Samuel.
Samuel juga menganggukkan kepalanya paham. Tapi sebenarnya dia merasa sedikit sedih, karena dia tidak bisa melewatkan satu hari saja tanpa menyentuh istrinya itu.
"Baiklah, ini resep obat dan vitamin yang harus dikonsumsi oleh Naira. Selain obat-obatan dan vitamin ini diduga memerlukan ketenangan, jangan buat dirinya tertekan atau merasa sedih. Kondisi fisik memang sangat penting tapi kondisi mental bagi ibu hamil adalah yang terpenting, karena kondisi kejiwaan sang Ibu sangat berpengaruh kepada janin yang dikandung. Jika sesuatu dirasakan oleh ibunya anak yang ada di dalam kandungan nya juga bisa merasakan, karena itu tolong buat kondisi kondusif mungkin untuk Naira!" jelas dokter Arini lagi.
Dan lagi-lagi Samuel mengangguk paham. Dia juga tidak akan menyakiti Naira, karena dirinya adalah orang yang paling mencintai istrinya itu. Setelah semua penjelasan sudah disampaikan oleh dokter Arini mengenai kesehatan daerah dan juga anak dalam kandungan nya yang merupakan calon anak dari Samuel, Samuel pun keluar dari dalam ruangan praktek dokter Arini. Saat dia keluar istrinya sudah duduk menunggu di tempat tadi mereka duduk.
"Sayang, bagaimana? apa masih mual? apa kamu membutuhkan atau menginginkan sesuatu?" tanya Samuel sambil duduk di samping istrinya dan mengusap punggung istrinya itu dengan lembut.
Naira menggelengkan kepalanya dengan cepat
"Tidak mas, dimana ibu dan kakek?" tanya Naira pada Samuel.
"Sedang pemeriksaan rutin, kita bisa pulang sekarang kalau kamu mau?" tanya Samuel.
"Tidak mas, kita tunggu saja ibu dan juga kakek!" jawab Naira.
Samuel pun menganggukkan kepalanya menuruti keinginan sang istri.
"Bagaimana kalau kita memberi kabar ini pada ayah Rama dan juga ibu Anisa?" tanya Samuel.
Naira langsung menganggukan kepalanya.
"Baiklah, aku akan menghubungi mereka!" seru Samuel lalu mengambil ponsel yang berada di saku jasnya kemudian menghubungi ayah mertuanya. Tak lupa Samuel juga langsung menghidupkan speaker ponselnya agar Naira juga bisa mendengar percakapannya dengan ayah Rama.
Tut Tut
__ADS_1
Suara nada telepon yang tersambung, tapi belum di jawab oleh nomor tujuan. Beberapa detik berlalu, hingga membuat Samuel dan Naira saling pandang karena nomor ayahnya tak kunjung menjawab panggilan telepon dari Samuel.
Beberapa detik kemudian.
"Halo, iya nak Samuel. Maaf ayah lagi di belakang tadi. Ada apa?" tanya ayah Rama dengan suara yang tergesa-gesa sepertinya dia memang dari tempat yang cukup jauh dari posisi teleponnya berada.
"Ayah, aku ingin memberitahukan kabar gembira kepada ayah dan juga ibu!" ucap Samuel yang sudah tidak sabar untuk menyampaikan kabar gembira itu kepada kedua mertuanya.
"Kabar gembira, ini kebetulan ibu juga ada di sini. Ayah dan ibu masih di kantin sekolah!" jawab ayah Rama.
"Kabar apa nak Samuel?" tanya Anisa yang sepertinya merebut ponsel suaminya karena begitu penasaran.
"Naira hamil Bu!" jawab Samuel sambil memandang kearah daerah dan tersenyum sangat bahagia.
Naira juga tersenyum sambil menggenggam tangan Samuel yang menggenggam tangan nya.
"Apa? Naira hamil?" pekik Anisa.
Bukh
Terdengar suara yang begitu keras, dan terdengar suara Rama.
"Bu, ibu bangun Bu!" kata Rama panik.
Samuel dan Naira yang masih bisa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rama menjadi panik.
"Ayah, ibu kenapa?" tanya Naira yang juga langsung berebut ponsel dari tangan Samuel dan menanyakan tentang keadaan ibunya kepada sang ayah.
"Naira, ibu mu pingsan!" jawab ayah Rama.
__ADS_1
***
Bersambung...