Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
270


__ADS_3

Sementara Vina sedang dibuat takjub dengan kamar yang hampir semua barangnya adalah barang favorit nya dan warna pastel biru kesukaan nya. Di ruang keluarga, Naira dan Puspa sedang membantu bibi Merry menyiapkan minuman dan juga makanan kecil untuk kakek Virendra, Damar, Kevin dan juga Adam.


"Sebagai yang paling berumur di sini, aku yang akan menjamin kenyamanan dan juga perlindungan untuk Vina, Kevin. Kamu tidak perlu cemas, dan anggap saja rumah ini juga adalah rumah mu, tidak perlu formalitas untuk bisa datang dan menemui Vina!" ucap kakek Virendra berusaha membuka percakapan antara empat orang tersebut yang sejak di tinggalkan oleh Stella, Lisa dan Vina tadi, ke empatnya hanya diam.


Sedangkan Naira dan juga Puspa yang sudah selesai dengan pekerjaan mereka juga memilih untuk menyusul Vina dan juga Stella di kamar barunya Vina.


"Aku memang mengenal keluarga Virendra, tapi aku hanya mendengar tentang kalian dari berita bisnis. Aku hanya bisa berharap kalau putri ku tidak salah mengambil keputusan!" sahut Kevin yang masih menunjukkan kalau sebenarnya dia kurang setuju dengan keputusan sang putri tunggal yang menginginkan pertanggungjawaban dari Adam, dengan cara seperti ini.


Kakek Virendra dan juga Damar hanya bisa menghela nafas mendengar apa yang dikatakan oleh Kevin. Mereka juga tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena mang posisi mereka sulit. Adam, anak bungsu keluarga ini memang telah membuat kesalahan yang bisa dikatakan sangat fatal sebenarnya. Beruntungnya Vina, malah memilih jalan damai seperti ini. Dan semua keluarga Virendra menaruh respek baik yang begitu besar pada keputusan Vina ini. Maka mereka juga sudah bicara satu sama lain kalau mereka akan memperlakukan Vina dengan sebaik-baiknya di kediaman Virendra ini.


Sementara Adam malah sejak tadi hanya diam dan menundukkan kepalanya. Dia merasa seperti terdampar di antara para orang tua yang wajah dan pembicaraan mereka sangat serius.


"Pak Kevin, apa perlu kita buat surat perjanjian tertulis agar pak Kevin lebih tenang meninggalkan Vina di sini?" tanya Damar yang mencoba memberikan solusi lainnya.


Adam yang mendengar apa yang dikatakan ayahnya langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Damar.


'Apa-apaan ayah ini?' tanya Adam dalam hati.


Kevin yang juga melakukan hal yang sama, yang langsung menoleh ke arah Damar pun mengangguk setuju.


"Begitu juga bagus!" balasnya singkat.


Damar lalu bicara pada kakek Virendra, setelah kakek menyetujui nya. Dia kemudian menghubungi pengacaranya yaitu Adi. Dan meminta agar pengacara nya itu datang dan mempersiapkan segala sesuatunya.


Sementara itu Naira dan juga Puspa sudah tiba di kamar Vina, yang tadinya adalah kamar milik Adam. Warna hitam putih kamar Adam kini nyaris berubah seratus delapan puluh derajat dengan nuansa biru pastel yang membuat ruangan ini semakin cerah tapi terasa sangat hangat.

__ADS_1


"Wah, lihat Naira. Kurasa nanti akan ada yang mengamuk melihat kamar ini!" gumam Puspa yang hanya bisa di dengar oleh Naira.


Karena Stella, Vina dan Lisa sedang melihat-lihat balkon di luar kamar Adam.


Naira tersenyum kecil mendengar perkataan Puspa. Memang benar, Adam pasti akan marah dengan perubahan drastis yang terjadi di kamarnya ini. Tapi Naira lebih fokus pada Stella yang sedang menggandeng lengan Vina dan menjelaskan seluk beluk rumah ini. Naira ingat ketika dia juga baru pertama kali datang ke rumah ini, sikap ibu mertua nya itu juga seperti saat ini terhadap Vina. Sangat lembut dan hangat, seperti ibu kandung sendiri saja. Naira bahkan juga senang melihat Vina, karena dia juga terlihat baik. Tapi Naira kembali menarik senyumnya ketika mengingat kalau Vina adalah sahabat dari Caren. Bagaimana pun juga Vina tidak mungkin akan menjadi teman baiknya sama seperti Puspa.


Puspa juga melihat ke arah Vina. Kalau Naira hanya merasa kalau dia tidak akan berteman dekat dengan Vina karena adik iparnya itu adalah sahabat Caren. Kalau Puspa punya pemikiran yang lebih logis lagi.


Puspa menyipitkan matanya dan mendekati Naira.


"Nai, kamu pernah berpikir tidak kalau Vina sengaja meminta pernikahan ini agar dia bisa masuk ke dalam keluarga ini, untuk menjadi mata-mata Caren, secara dia kan sahabat baik magnet betina itu?" tanya Puspa pada Naira uang membuat Naira mengerutkan keningnya.


"Magnet betina?" tanya Naira yang agak aneh ketika mendengar sebutan Puspa untuk Caren.


"Aduh Puspa, ada-ada saja. Tapi kurasa... ah tidak mungkin lah. Meskipun mereka sangat dekat dan bersahabat sangat baik, mana mungkin Vina mau sampai harus menikah kalau hanya untuk pura-pura atau jadi mata-mata. Pernikahan itu bukan hal yang bisa di buat seperti itu... eh!" Naira yang awalnya sangat yakin dengan perkataan nya mendadak ingat dengan apa yang dia lakukan sendiri dengan Samuel. Hingga Naira merasa kalau dia juga sudah pernah main-main dengan pernikahan dan merasa kalau seharusnya dia tidak mengatakan hal seperti itu.


Dan karena Naira seperti bingung sendiri dengan apa yang dia katakan. Akhirnya sekarang Puspa yang balik terkekeh karena ulah Naira.


"Aduh, aku tidak mau banyak bicara soal ini. Aku sendiri menikah dengan mas Samuel kan awalnya...!"


"Sudah, sudah! tidak usah di bahas. Itu kan dulu, sekarang kalian adalah pasangan paling romantis dan bucin." sindir Puspa pada Naira yang membuat Naira merasa malu dan salah tingkah.


"Naira, Puspa!" panggil Stella yang baru masuk dari balkon kamar Adam bersama Vina dan Lisa.


"Iya ibu!" jawab Naira

__ADS_1


"Iya Tante!" jawab Puspa.


Naira dan Puspa menjawab dengan serempak lalu segera menghampiri Stella.


"Kalian berdua temani Vina dulu ya. Ibu dan Tante Lisa mau ke luar dulu!" ucap Stella dan langsung di balas dengan anggukan kepala oleh Naira dan juga Puspa.


Setelah Stella dan Lisa keluar, Naira mulai membuka suara karena Puspa yang biasanya lebih banyak bicara sekarang malah diam saja dan melihat ke arah Vina dengan tatapan penuh selidik.


"Em, mari aku bantu kamu menyusun pakaian mu di lemari!" ajak Naira yang sudah menarik koper besar milik Vina menuju ke dekat lemari.


Namun baru beberapa langkah, Puspa sudah menghentikan Naira dan mengambil alih menarik koper yang tadinya Naira tarik.


"Nai, kamu sedang hamil. Jangan tarik koper berat begini. Biar aku saja!" kata Puspa.


"Tidak apa-apa, hanya di tarik saja. Kopernya ada rodanya tidak berat sama sekali!" bantah Naira.


"Ck... pokoknya tidak boleh, aku saja. Kamu buka saja lemarinya, setelah itu kamu berdiri saja menyusun biar aku yang mengambil dari dalam kopernya!" ucap Puspa yang membuat Vina hanya diam saja memperhatikan tingkah dua orang wanita di depannya itu.


"Vina, kenapa diam saja. Ini kan pakaian mu, ayo bantu kami!" seru Puspa membuat Vina segera tersadar dari lamunan nya dan maju mendekati Naira dan Puspa.


'Mereka berdua sangat akrab, seperti aku dan Caren. Seandainya kamu tidak mengkhianati ku Caren, huh' batin Vina yang kembali sedih mengingat sahabat yang sudah dia anggap saudara sendiri itu yang telah tega mengkhianati nya.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2