Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
304


__ADS_3

Seperti yang dikatakan oleh Adam, Vina perlahan melangkah membawa sebuah box putih kecil, yang berisi bubur ayam. Langkah Vina itu terkesan di paksakan, namun dia harus tetap melangkah menuju ke ruangan Jodi. Dia tidak mau kalau sampai pria yang kata Adam buaya darat itu berhasil dengan rencananya. Setidaknya dia harus berusaha, seperti kata Adam, setidaknya mereka sudah berusaha, hasil akhirnya biar takdir yang menentukan.


Ketika berada di depan ruangan Jodi, sekertaris Jodi yang tak lain adalah Caren sedang tidak ada di meja kerjanya. Vina sih sudah menduga, kalau perempuan itu pasti ada di dalam ruangan Jodi. Entah apa yang sedang mereka lakukan?


Vina tidak mengetuk pintu ruang kerja Jodi terlebih dahulu, dia sengaja melakukan itu agar dia bisa mendengar kalau-kalau Jodi dan Caren merencanakan sesuatu lagi.


Vina semakin mendekati daun pintu, tapi tidak mendengar apapun. Akhirnya Vina memutuskan untuk langsung membuka pintu ruangan Jodi.


Ceklek


"Jodi aku bawakan... ups maaf, sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat!" Vina yang melihat Jodi dan Caren sedang duduk di sofa sambil sarapan bersama berniat untuk keluar lagi dari ruangan Jodi.


"Vina, tunggu...!"


Tapi Jodi dengan cepat berdiri lalu bergegas menghampiri Vina.


Karena di panggil Vina menghentikan langkahnya tapi juga tidak langsung berbalik. Membuat Jodi harus lebih jauh berjalan agar bisa berdiri di hadapan Vina.


"Aku dan Caren sedang sarapan, jika kamu mau bergabung aku akan sangat senang!" ucap Jodi lalu melihat ke arah bungkusan yang Vina bawa.


"Apa itu untukku?" tanya Jodi yang mengembangkan senyuman lebar di wajahnya.


Vina sebenarnya merasa sangat muak harus berkata-kata manis pada pria buaya darat di depannya itu. Tapi dia juga harus memikirkan perusahaan ini dan keluarganya. Lagipula dia sudah bertekad, tidak bisa mundur lagi.


"Tadinya sih iya, tapi kulihat kamu sudah punya banyak sarapan. Lebih baik ku berikan pada Adam...!"


Srett


Belum juga Vina selesai dengan apa yang dia katakan, Jodi langsung merebut bungkusan yang Vina pegang dengan cepat.

__ADS_1


"Tidak Vina, itu adalah sarapan Caren. Aku akan makan sarapan darimu ini saja!" seru Jodi dengan bersemangat.


Caren yang sedang berada di belakang mereka merasa kalau Jodi benar-benar masih mencintai Vina. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat, dia tidak mau kalau sampai kehilangan Jodi. Caren langsung berdiri dan menghampiri dua orang yang berada di depannya itu.


"Vina, kamu sudah sarapan belum? ayo kita makan bersama, aku membuat sendiri nasi goreng di rumah tadi. Dulu kamu kan paling suka nasi goreng buatan ku!" ucap Caren.


Vina langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak terimakasih, tapi aku sudah tidak makan makanan berminyak seperti itu lagi, dokter menyarankan aku makan makanan yang berkuah. Jodi, mau aku temani tidak? kebetulan aku sedang menunggu Adam mengambil dokumen di bagian pemasaran dan belum ada pekerjaan?" tanya Vina yang dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah Jodi.


Sontak saja Jodi tersenyum dan mengangguk dengan cepat.


"Tentu saja, aku sangat senang kalau kamu menemaniku! silahkan!" ucap Jodi sambil mempersilahkan Vina duduk di sofa.


Caren semakin kesal, karena Jodi meminta Vina duduk di kursi yang tadinya dia duduki. Caren kesal dia tidak bisa duduk di samping Caren.


"Sebenarnya ada yang ingin aku katakan padamu, tapi...!" Vina berkata pada Jodi tapi dia melirik sekilas ke arah Caren.


"Caren, kamu kembali saja ke meja kerjamu. Dan bawa makanan yang kamu bawa ini!" ucap Jodi santai.


Vina tahu, meskipun mungkin saja Jodi melakukan semua itu hanya untuk bersandiwara saja, tapi dia tahu kalau Caren pasti akan sakit hati. Sejauh dia mengenal Caren, mantan sahabat baiknya itu adalah orang yang sangat perasa. Meskipun kata-kata itu terkesan biasa saja di dengar oleh orang lain, tapi akan sangat menyakiti hati Caren.


"Tapi Jodi, kita kan bisa sarapan bersama...!"


Caren mencoba untuk tidak keluar dari ruangan itu, benar apa yang dipikirkan oleh Vina. Kalau saat ini dia sedang sangat sakit hati karena merasa di acuhkan oleh Jodi. Caren berusaha untuk tidak terbuang begitu saja.


"Caren, keluar! dan bawa semua makanan itu. Vina tidak suka makanan berminyak!" seru Jodi dan kali ini pria itu mengatakannya dengan nada tegas dan raut wajah serius ketika melihat Caren.


Caren hanya bisa menahan amarahnya, karena dia tidak mau terkesan sangat ingin berada di sana di hadapan Vina. Dengan terus menahan marah, Caren berusaha bersikap wajar. Dia meraih kotak makan yang sudah di rapikan oleh Jodi dan mengangkat nya.

__ADS_1


"Baik, aku permisi!" ucapnya singkat karena dia sangat kesal, lalu dia berjalan keluar ruangan Jodi dengan cepat.


Caren menutup pintu ruangan Jodi dengan agak keras, dan Vina sangat puas melihat hal itu. Tapi dia berpura-pura terkejut.


"Astaga...!" pekik Vina berpura-pura terkejut karena suara pintu yang keras.


"Aku akan menegurnya!" ucap Jodi yang langsung berdiri menuju ke arah pintu.


"Jodi sudahlah, mungkin karena tadi tangannya membawa kotak makanan jadi dia tidak bisa menutup pintu dengan benar!" ujar Vina mencoba untuk tidak membiarkan Jodi keluar dan mengejar Caren.


Jodi pun kembali duduk di sebelah Vina.


"Kamu tahu tidak, aku merasa kalau kamu sudah berubah sejak sadar di rumah sakit paska kecelakaan itu, aku sudah sangat takut kehilanganmu!" ucap Jodi mulai mengeluarkan kalimat-kalimat rayuan mautnya. .


'Dasar pembual, aku ini istri orang. Masih mau di gombalin, uwek!' batin Vina yang sebenarnya merasa sangat mual berada di samping Jodi dan mendengarkan kata-kata maut Jodi.


"Saat kamu memutuskan untuk menikah dengan Adam, dunia ku hancur Vina, benar-benar hancur!" tambah Jodi lagi dengan raut wajah yang begitu sedih.


'Hais, dasar penipu. Aku tahu pasti bukan duniamu uang hancur, tapi rencana jahat mu untuk mengambil perusahaan ayahku yang hancur. Kalau aku menikah denganmu pasti dengan mudah kamu bisa menguasai perusahaan ini!' batin Vina lagi.


"Sebenarnya apa yang membuatmu memutuskan menikah dengan Adam, Vina?" tanya Jodi.


Vina terkejut mendengar pertanyaan Jodi, dia tidak mungkin bilang kalau dirinya menikah dengan Adam agar Jodi tidak bisa dengan mudah mengambil alih perusahaan ayahnya dan membongkar semua kebusukan Jodi kan. Vina lalu menundukkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Vina berpura-pura sedih dan menangis.


"Hiks... hiks... apa yang harus aku lakukan Jodi. Kamu tahu kan, kalau karena kecelakaan itu aku tidak bisa lagi menjadi seorang ibu, lalu bagaimana aku harus membebani mu dengan masalah ku itu?" tanya Vina yang masih menunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


'Ternyata benar dugaan ku, dia sangat mencintai ku, hingga dia tidak mau kalau sampai aku juga menderita kalau sampai tidak punya keturunan!' batin Jodi yang begitu percaya diri kalau semua yang Vina lakukan itu demi dirinya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2