Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
264


__ADS_3

Samuel mengajak Naira ke ruangan mereka untuk membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum bergantian menjaga Adam dengan Stella dan Damar. Saat selesai merapikan rambutnya, Naira melihat ke arah Samuel yang sedang merapikan kancing kemejanya.


"Mas, kenapa kita tidak jujur saja pada Adam?" tanya Naira pada Samuel.


Samuel yang mendengar pertanyaan Naira lantas mendekati istrinya itu dan membantu merapikan rambut Naira yang sedang duduk di kursi dekat ranjang pasien di ruangannya.


"Maksudmu jujur apa sayang?" tanya Samuel lembut pada sang istri.


"Maksud ku kenapa kita harus bilang kalau Vina itu kekasihnya Adam? kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya saja, kalau sebenarnya Vina itu adalah orang yang dia tabrak dan mengatakan kalau syarat agar Adam tidak masuk ke dalam penjara adalah dengan menikahi Vina!" jelas Naira menyampaikan maksudnya pada Samuel.


Naira pikir kalau dengan mengatakan yang sebenarnya mungkin akan membuat Adam menerima pernikahan itu, karena pastinya dia tidak akan mau masuk penjara bukan?


Samuel tersenyum lirih saat mendengar apa yang dipikirkan oleh istri nya. Menurut nya istrinya itu begitu polos, hingga berpikir seperti itu.


"Sayang, kamu mengenal Adam kan? dia tidak akan pernah takut untuk masuk ke dalam penjara daripada melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya. Dan dia sedang amnesia, itu membuat semua lebih mudah. Maksud ku adalah, dia tidak akan mengingat kalau dia menyukai Puspa. Dan dia tidak akan bermusuhan dengan Riksa. Kalau masalah kebohongan yang dikatakan oleh kakek itu adalah untuk mencegah Adam bertindak kurang baik pada Vina, dengan mengatakan kalau Vina adalah kekasih Adam, sebenarnya kamu berharap agar Adam dapat memperlakukan gadis itu dengan baik!" jelas Samuel panjang lebar.


Naira terdiam, dia sebenarnya merasa kalau ada yang aneh dengan Adam. Dia merasa kalau Adam tidak benar-benar amnesia. Karena saat melihat Naira, tatapan Adam masih sama. Tatapan tidak suka dan tidak mau di ganggu sama sekali, seperti tatapan mata Adam biasanya. Tapi Naira ragu untuk mengatakan itu pada Samuel, dia tidak ingin kalau apa yang dia rasakan itu membuat masalah baru, menciptakan masalah lain bagi keluarga Virendra yang sedang memiliki banyak masalah saat ini.


Samuel tahu kalau Naira tidak pernah setuju kalau ada yang berbohong, atau dia harus ikut dalam kebohongan itu. Tapi semua itu kakek, ayah dan ibu Samuel lakukan untuk kebaikan gadis bernama Vina itu. Mereka semua berharap agar Adam bisa memperlakukan Vina dengan baik kalau mereka mengatakan Vina adalah kekasih Adam.


"Sayang, jangan terlalu di pikirkan ya! ingat kalau kamu sedang hamil. Banyak pikiran tidak baik untuk kandungan mu. Tenang lah, kita pasti bisa melewati semua ini dengan baik, tanpa menyakiti siapapun. Kita akan berbuat yang terbaik semampu kita, Ya?" tanya Samuel dan langsung mendapatkan anggukan kepala dari Naira.


Setalah selesai merapikan diri mereka, Samuel dan Naira pun ke kamar rawat Adam, karena harus bergantian dengan ibu Stella dan ayah Damar yang harus pulang untuk istirahat.

__ADS_1


Namun ketika Samuel dan Naira tiba di ruang rawat Adam, mereka berdua tidak menemukan siapapun di dalam sana. Dan akhirnya, Samuel pun menghubungi ayahnya.


Tut Tut


"Halo Sam!" sapa ayah Damar dengan cepat.


"Ayah, kalian ada dimana? aku ada di kamar Adam dan dia tidak ada!" kata Samuel yang terdengar sedikit panik.


"Begini Sam, tadi dua orang penjaga keluarga Rahardja datang dan mengatakan kalau Vina ingin bertemu dengan Adam, kami sekarang ada di luar ruangan rawat Vina. Adam ada di dalam bersama Vina!" jelas ayah Damar.


"Ayah, apa aku perlu ke sana?" tanya Samuel.


"Tidak usah Sam, kamu tunggu saja di ruangan Adam!" kata ayah Damar selanjutnya.


"Iya Sam!" sahut ayah Damar lalu memutuskan panggilan telepon dari Samuel.


Samuel menyimpan kembali ponselnya lalu melihat ke arah Naira yang terlihat sangat penasaran dengan percakapan suami dan ayah mertuanya itu karena memang Samuel tidak menyalakan speaker ponsel nya tadi.


"Ayah dan ibu menemani Adam bertemu dengan Vina. Gadis itu meminta bertemu dengan Adam!" kata Samuel membuat rasa penasaran Naira perlahan menghilang.


Naira mengangguk paham, dia tahu pasti banyak yang ingin Vina bicarakan dengan Adam sebelum mereka menikah besok.


"Tapi mas, apakah Adam akan setuju dengan pernikahan ini?" tanya Naira yang masih ragu sebab dia masih tetap merasa kalau Adam itu sebenarnya tidak amnesia.

__ADS_1


"Sayang, kita berdoa saja ya. Agar dia setuju, karena jika tidak suami mu ini harus berjuang lagi di pengadilan, kamu tahu kan suami mu ini sangat pemberani, tapi tetap saja aku tidak ingin membuat istri tercinta ku ini menjadi tidak tenang karena memikirkan ku dan proses peradilan yang pasti akan memakan banyak waktu!" jelas Samuel.


Naira kembali terdiam, apa yang dikatakan suaminya itu benar. Jika kita benar memang kita tidak perlu takut menghadapi tuntutan apapun. Apalagi saat itu Samuel melakukan tindakan itu untuk menyelamatkan nyawa Vina. Tapi apa yang dikatakan Samuel juga benar, kalau proses peradilan itu juga pasti akan memakan banyak waktu, tenaga dan biaya.


"Semoga semua berjalan dengan baik ya mas!" ucap Naira uang sudah sangat pasrah pada apapun yang akan terjadi. Yang jelas dia selalu berharap yang terbaik bagi keluarganya.


Samuel pun merangkul Naira dan memeluk istrinya itu.


Sementara itu di dalam kamar rawat Vina, suasana masih hening sejak lima menit yang lalu ketika pintu ruang rawat itu tertutup setelah ayah dan ibu Adam keluar dari dalam ruangan rawat Vina, karena Vina ingin bicara berdua saja dengan Adam.


Setelah mengumpulkan segenap keberanian nya, Vina mengangkat kepalanya dan menatap Adam yang sedari tadi juga tidak melihat ke arahnya.


"Jadi apa yang dikatakan oleh orang tuamu padamu?" tanya Vina dengan yakin.


Meski kata-kata itu keluar dengan mantap, tapi Vina tetap saja menggenggam selimut nya dengan kuat karena jujur saja dia sangat gugup bicara pada Adam. Wajah Adam yang sejak tadi sangat dingin membuat Vina merasa punggungnya sedikit berkeringat dingin.


Cukup lama Vina menunggu Adam bersuara, tapi pria tampan yang berambut sedikit merah itu tidak membuka mulutnya sejak tadi, bahkan melihat ke arah Vina pun tidak.


Vina menghela nafas panjang dan kembali mengumpulkan segenap keberanian nya lagi untuk kembali bertanya pada Adam.


"Adam Virendra, apa kamu percaya kalau aku katakan sebenarnya aku yakin kalau kamu sama sekali tidak amnesia?" tanya Vina membuat Adam yang sedari tadi membuang wajahnya menoleh dengan cepat dan dengan tatapan tajam ke arah Vina.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2