Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
290


__ADS_3

Sementara itu di kediaman Virendra, Naira terlihat sangat tidak bersemangat pagi ini. Masalahnya semalam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia sudah terbiasa tidur dengan Samuel ada disampingnya. Dan malam tadi suaminya tidak ada bersamanya, bahkan sampai sekarang Samuel belum menghubungi nya. Mau menghubungi Samuel duluan, Naira takut kalau Samuel sedang sibuk dan dalam keadaan yang seharusnya tidak menerima panggilan telepon. Dia sering melihat film action, dan di televisi itu terkadang jagoannya malah lengah saat ada yang menghubunginya dan akhirnya jagoan dalam film itu kalah.


Naira tidak mau sampai suaminya mengalami kesulitan seperti itu, tapi dia sangat merindukan Samuel. Alhasil dia malah terus memandangi foto pernikahan nya dan Samuel di layar ponselnya yang sudah dia jadikan wallpaper di layar ponselnya.


"Mas, aku tidak tahu sejak kapan aku begitu bergantung padamu. Rasanya aneh ya, beberapa bulan yang lalu kita tidak saling kenal, kamu datang tiba-tiba mengancam ku dengan rekaman yang ada di ponsel mu, lalu kita menikah. Aku bahkan sangat membenci sikapmu yang kasar dan arogan, tapi dalam beberapa bulan juga, aku malah tidak bisa jauh-jauh darimu, aku begitu merindukan mu Kenapa kamu tidak menelpon ku?" tanya naira sambil mengusap wajah Samuel yang ada di layar ponselnya.


Naira menghela nafasnya panjang. Perutnya mulai terasa lapar. Tadi ibu mertuanya sudah memanggil nya untuk sarapan, tapi dia merasa tidak ingin makan. Jadi dia bilang nanti dia akan menyusul, tapi ini sudah satu setengah jam sejak Stella memanggilnya yang kedua kalinya.


Stella yang sudah selesai mengurus sarapan pagi dan obat untuk ayah mertuanya dan juga Adam langsung menuju kamar Naira karena mencemaskan menantunya itu.


Stella memegang gagang pintu kamar Naira dan Samuel, ternyata pintunya tidak terkunci. Stella memutuskan untuk membuka saja langsung pintu kamar anak dan menantunya itu.


Begitu membuka pintu, Stella melihat Naira sedang duduk di sofa dan bersandar pada pegangan sofa sambil memandangi layar ponselnya, Stella berjalan pelan mendekati Naira. Dia semakin penasaran dengan apa yang sedang di lihat begitu seriusnya oleh Naira.


Dan senyum lebar terkembang di wajah Stella ketika menantunya itu sepertinya sangat merindukan putranya. Karena Naira terus mengusap wajah Samuel sambil terus memandangi foto Samuel.


"Sayang, suami mu itu hanya pergi untuk urusan bisnis bukan untuk berperang. Kamu jangan mencemaskan nya ya!" seru Stella sambil mengusap lengan Naira.


Naira langsung tersadar dari lamunannya dan duduk dengan posisi yang benar.


"Ibu!" ucap Naira lalu menyimpan ponselnya di samping tempat dia duduk.


Stella lalu duduk di sebelah Naira dan menepuk tangan Naira yang berada di pangkuannya.


"Sayang, kamu belum sarapan loh. Samuel pasti akan segera kembali begitu pekerjaan nya selesai. Jangan cemas!" ucap Stella sambil tersenyum.


"Ibu bawa sarapannya kemari ya? bukannya hari ini juga adalah jadwal cek kandungan mu?" tanya Stella.


"Iya ibu, tidak apa-apa aku akan sarapan di meja makan saja!" jawab Naira.

__ADS_1


"Ibu temani ya menemani dokter Arini?" tanya Stella.


Naira langsung mengangguk. Dan Stella langsung mengajak Naira untuk ikut bersamanya ke ruang makan untuk sarapan dulu sebelum berangkat. Ternyata saat Naira tiba di ruang makan, ada Vina di sana yang sedang menemani Adam sarapan.


"Sayang duduklah, ibu akan bersiap-siap dulu. Sarapan yang banyak ya!" ucap Stella pada Naira yang langsung di balas anggukan kepala oleh Naira.


Begitu Stella sudah meninggalkan mereka bertiga, Naira mulai mengambil sarapan uang ada di meja makan. Tapi saat Naira baru akan memotong sandwich yang ada di atas piringnya. Adam tiba-tiba langsung meletakkan sendok dan garpu nya di atas meja.


"Aku sudah selesai, antar aku ke kamar!" ucap Adam sambil menoleh ke arah Vina.


Vina yang masih mengunyah roti yang baru saja masuk ke dalam mulutnya hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Pergi sendiri bisa kan, aku belum menghabiskan sarapan ku!" ucap Vina dengan cuek tanpa melihat ke arah Adam.


Naira yang mendengar Vina mengacuhkan Adam sedikit heran. Tapi dia tidak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga adik iparnya itu.


Naira hanya melihat kepergian Adam sambil mengunyah sandwich yang sudah masuk ke dalam mulutnya.


"Jangan di masukkan ke dalam hati ya kak, ucapan Adam tadi!" seru Vina yang tersenyum pada Naira.


Naira juga membalas senyum dari Vina, apalagi tadi Vina memanggilnya kak.


"Aku sudah terbiasa dengan itu, kamu kelihatan nya sudah sangat akrab dengan suami mu itu?" tanya Naira balik.


"Apa kelihatan nya seperti itu? tapi sebenarnya dia itu sangat galak, dan sangat dingin seperti suhu minus!" jawab Vina membuat dirinya dan Naira terkekeh.


"Kak, aku tidak melihat Puspa dua hari ini, apa semua baik-baik saja?" tanya Vina membuat tawa Naira langsung terhenti.


"Em, semua baik-baik saja. Puspa ada banyak pekerjaan, jadi...!"

__ADS_1


"Kak Naira belum percaya padaku ya?" tanya Vina menyela perkataan Naira.


Naira meletakkan garpu nya di atas piring.


"Bukan begitu tapi, memang semua masih baik-baik saja. Kamu juga baru sembuh kan, sebaiknya pikirkan saja dulu kesehatan mu!" ucap Naira membuat Vina yakin kalau memang ada yang sedang di sembunyikan oleh kakak iparnya itu.


Tapi Vina juga tidak ingin banyak bertanya kalau memang Naira tidak mau menceritakan padanya.


"Aku sudah sehat kak, lusa aku dan Adam sudah akan bekerja di perusahaan ayah ku...!"


"Apa? kamu dan Adam akan bekerja?" tanya Stella yang tiba-tiba masuk ke ruang makan dan mendengar apa yang Vina katakan setelah bersiap mengantarkan Naira ke dokter kandungan.


Vina langsung mengangguk yakin.


"Iya Bu, Adam sudah setuju!" jawab Vina tegas.


Stella sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Vina. Bukan hanya Stella, Naira juga sampai bengong mendengar apa yang dikatakan oleh Vina.


'Wah, apa Adam sudah menemukan pawangnya. Vina ini unik sekali, tadi dia berani melawan keinginan Adam, dia bahkan bisa membuat Adam pergi bekerja, wah..!' batin Naira takjub pada adik iparnya yang meskipun sudah mengatakan hal itu masih bisa mengunyah makanan nya dengan santai.


"Kamu tidak bercanda kan Vina?" tanya Stella yang masih tak percaya ada yang bisa membuat dan membujuk Adam untuk bekerja.


"Tidak Bu, Adam akan membantu ku di perusahaan ayah ku. Tidak apa-apa kan Bu?" tanya Vina.


"Oh, tentu saja tidak apa-apa sayang. Itu bagus sekali, ibu sangat mendukungmu kalau tentang hal itu!" ucap Stella yang sangat senang pada usaha Vina membujuk Adam. Padahal sebenarnya Vina tidak membujuk Adam, tapi dia mengancam Adam.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2