
"Naira kenapa dari tadi terlihat gelisah! ada apa?" tanya ibu Stella yang sedang mengajari ku menyulam pakaian bayi.
Sejak tadi aku memang tidak fokus, bagaimana tidak, ini sudah hampir sore. Aku saja keluar dari rumah menuju taman belakang ini setelah makan siang dengan ibu dan kakek. Dan hampir dua jam aku sudah berada di sini bersama dengan ibu Stella yang mengajarkan aku cara menyulam pakaian bayi. Karena ini gak yang baru bagiku maka aku butuh waktu lebih dari satu jam untuk bisa pola dasarnya.
Mas Sam bilang akan pulang siang, tapi ini sudah sangat terlambat. Aku sudah coba menghubunginya beberapa kali tapi nomernya tidak bisa di hubungi. Aku jadi cemas, apalagi saat aku menghubungi Riksa mencoba mencari tahu keberadaan mas Sam, Riksa bahkan bilang mas Sam sudah keluar dari kantor sebelum jam sebelas siang tadi.
Bagaimana aku tidak semakin panik saja karena hal ini. Tapi aku tidak ingin membuat ibu Stella juga cemas. Jadi aku harus bilang apa pada ibu Stella, apa aku katakan saja yang sebenarnya kalau mas Sam sudah keluar dari kantor tapi tidak pulang ke rumah. Tapi apa aku tidak terlalu kekanak-kanakan kalau hal seperti itu saja bilang pada ibu Stella, apa aku nanti akan di sebut sebagai pengadu kalau seperti itu.
Aku jadi bingung sendiri.
"Naira sayang, kalau ada yang kamu inginkan kamu jangan ragu ya mengatakan nya pada ibu dan juga suami mu. Karena ibu tidak mau ya kalau sampai cucu ibu nanti ngences!" ucap ibu sambil terkekeh geli sendiri.
Aku juga ikut terkekeh kecil. Tapi tiba-tiba saja muncul sebuah ide di kepala ku.
"Bu, sebenarnya aku ingin sekali bekerja di perusahaan mas Sam, apa boleh?" tanya ku pada ibu Stella.
"Bekerja?" tanya ibu Stella yang menanggapi pertanyaan ku dengan sangat cepat.
Aku juga segera mengangguk kan kepala ku dengan cepat.
"Iya Bu, rasanya aku ingin sekali bekerja. Lagipula kata dokter Arini kan aku harus banyak bergerak dan beraktivitas agar aliran darah semakin lancar!" ucap ku pada ibu Stella.
Beberapa alasan yang aku rasa akan membuat ibu Stella menyetujui permintaan ku itu. Tapi sepertinya aku berhasil, karena ibu Stella langsung tersenyum padaku.
"Ibu tahu, kamu pasti ingin dekat dengan suami mu terus kan?" tanya nya dengan tersenyum seolah sengaja mengatakan hal itu padaku untuk menggoda ku.
Tapi apa yang dikatakan oleh ibu Stella itu memang benar, beberapa hari ini aku rasanya cemas dan selalu curiga pada mas Sam. Akan lebih baik kalau aku bersamanya di rumah dan juga di kantor.
"Baiklah, ibu akan membantu mu meminta ijin pada kakek dan ayah mertuamu. Naira kamu benar, putra sulung ibu itu sangat tampan, kamu memang harus ekstra hati-hati dan waspada menjaganya!" ucap ibu semakin membuat perasaan ku tidak enak saja.
__ADS_1
Tak lama setelah perbincangan kami, aku mendengar klakson mobil dari arah depan rumah.
"Nah itu pasti Samuel, temui lah dia. Kita bisa lanjutkan menyulamnya lagi besok atau kapan-kapan lagi. Cucu ibu juga masih beberapa bulan lagi kan baru hadir! sekarang temui suami mu!" seru Bu Stella.
Aku langsung bergegas berdiri dan meletakkan semua peralatan yang tadinya ada di pangkuan ku ke atas meja. Aku melangkah sangat cepat, sampai ibu Stella menegur ku.
"Naira sayang, pelan-pelan saja jalannya. Awas terselandung dan jatuh!" seru ibu Stella.
Aku langsung berbalik dan mengangguk paham pada apa yang dikatakan oleh ibu Stella. Setelah itu aku langsung bergegas berjalan ke arah depan. Dan ternyata benar, mas Sam baru saja masuk dari pintu utama.
Begitu dia melihat ku, dia langsung merentangkan kedua tangannya dan berjalan cepat ke arah ku.
"Sayang, maaf aku terlambat. Apa kamu menunggu ku?" tanya nya dan memeluk ku.
Tapi entah kenapa saat dia memelukku, aku mencium aroma parfum yang berbeda dari yang dia pakai sebelumnya.
Aku langsung menarik diriku dengan cepat.
Samuel hanya mengusap wajahnya kasar sebelum menggenggam kedua tangan ku.
"Aku akan ceritakan, tapi kita ke kamar saja ya!" ucap Samuel lalu menggandeng tangan ku dan mengarahkan langkah kami menuju ke kamar kami.
Sesampainya di dalam kamar, aku langsung duduk di sofa begitu juga dengan Samuel. Dia hanya melepaskan dasi dan menggulung lengan bajunya.
"Sayang, sebelum nya aku minta maaf karena tadi aku sudah mengambil keputusan tanpa bertanya dulu padamu!" ucap Samuel membuat ku makin penasaran dan rasanya perasaan ku juga semakin tidak nyaman saja.
Aku menatap tajam ke arah Samuel, karena dia terlihat ragu untuk bicara dan tak kunjung bersuara.
"Maksud nya bagaimana? mas kemana saja? aku bahkan menghubungi mas beberapa kali tapi tidak bisa tersambung, ponsel mas kenapa?" tanya ku bertubi tubi.
__ADS_1
Sebenarnya masih banyak lagi, tapi hanya tiga pertanyaan itu yang bisa ku sebutkan dalam sekali helaan nafas ku yang sudah mulai tidak beraturan karena kesal ini.
Samuel tidak langsung menjawab, dia malah mengeluarkan ponselnya dari saku celana nya dan meletakkan ponsel itu di atas meja.
"Ponsel ku mati, semalam aku lupa mencharge nya. Dan kamu benar aku memang sudah keluar dari perusahaan siang tadi, saat perjalanan pulang aku tidak sengaja menabrak seseorang...!"
"Mas menabrak orang? apa orang itu terluka? parah atau tidak? masuk rumah sakit mana? apa dia masih bisa tertolong, apa keluarga mau menuntut mas?" pertanyaan-pertanyaan itu sungguh mengganggu pikiran ku.
Aku sangat panik, aku takut kalau mas Sam mendapat masalah karena kejadian itu. Tapi mas Sam malah menggenggam tangan ku lagi dan menggelengkan kepalanya perlahan.
"Sayang, tidak seperti itu. Jangan panik. Aku memang menabrak, tapi orang itu sama sekali tidak terluka, hanya tersenggol sedikit hingga dia jatuh!" jelas mas Sam.
Aku langsung menghela nafas ku lega.
"Syukur lah, lain kali jangan mengemudi saat mas lelah!" ucap ku kemudian.
Mas Samuel mengangguk, dia kemudian kembali menatap ku dengan tatapan yang aku rasa itu adalah tatapan merasa menyesal dan merasa bersalah, aku jadi makin takut melihat ekspresi mas Sam yang seperti itu.
"Sayang, orang yang tadi tidak sengaja aku tabrak itu, apa kamu tidak ingin tahu dia siapa?" tanya mas Sam padaku.
Deg deg deg
Entah kenapa setelah mendengar pertanyaan mas Sam itu, hatiku menjadi lebih tidak tenang dari sebelumnya.
"Siapa mas?" tanya ku pelan dan menatap mas Sam dengan dalam.
"Orang itu adalah Caren!"
Sontak aku langsung menarik tangan ku yang di genggam oleh mas Sam. Jadi yang membuatnya terlambat dan tidak bisa aku hubungi adalah wanita itu.
__ADS_1
***
Bersambung...