Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
107


__ADS_3

Riksa Nugraha POV


Begitu mendengar kabar tentang Samuel dan juga Naira dari pak Ranu. Aku bergegas keluar dari ruangan ku dan menemui Dina di ruangannya.


Tanpa mengetuk pintu ruang kerja Dina, aku langsung membuka pintu dan melihat Dina sedang memeriksa beberapa dokumen di atas mejanya.


"Dina, aku keluar dulu. Tolong cancel pertemuan mu dengan Perusahaan Ban itu!" ucap ku pada Dina dengan terburu-buru.


Tapi baru akan berbalik, Dina menutup dokumen nya dan berdiri.


"Tapi Riksa, orangnya sudah menunggu di bawah! di ruang meeting lantai tiga!" seru Dina juga dengan cepat. Tak kalah cepat dari perkataan ku.


Aku memijit kepala ku yang terasa berdenyut. Aku tidak bisa menunda meeting penting ini, tapi bagaimana dengan Naira. Aku sungguh bingung. Dan seperti nya Dina mengerti hal itu.


"Ada apa Riksa? ku dengar bos tadi juga pergi dengan terburu-buru. Bahkan semua laporan ini belum di tanda tangani, padahal harus di kirimkan malam ini. Apa ada hal yang mendesak?" tanya Dina yang juga terlihat begitu penasaran.


"Tidak ada, baiklah letakkan semua laporan itu di ruangan ku, setelah meeting dengan perusahaan ban itu akan ku periksa dan tanda tangani!" jawab ku lalu keluar dari dalam ruangan itu.


Aku bergegas menemui klien penting perusahaan, aku harap pertemuan ini tidak berlangsung lama. Aku sungguh mencemaskan keadaan Naira. Tapi tanggung jawab ku disini menahan ku untuk sementara waktu. Selain sekertaris pribadi Samuel, aku juga merangkap sebagai wakil dari Samuel. Jadi jika tidak ada Samuel di perusahaan, maka aku bisa mengambil keputusan jika itu memang sangat mendesak.


Aku segera turun ke lantai tiga, segera bertemu dengan pak Bambang, wakil dari perusahaan ban yang akan bekerja sama dengan kami.


Beberapa menit berlalu, dan akhirnya pertemuan penting itu selesai, aku kemudian bergegas menuju kembali ke ruang kerjaku. Aku tidak tahu apa saja yang sudah terjadi pada Naira, jujur saja aku sangat cemas. Aku sudah menganggap gadis itu seperti adikku sendiri, bukan karena kasihan, tapi seiring waktu dia mampu membuat Samuel melupakan Caren. Dan aku mengira hal itu akan berakibat baik.


Bahkan kemarin semua juga masih baik-baik saja. Aku bahkan terkejut saat mereka tidak jadi makan malam saat itu. Padahal itu makan malam yang sangat penting bagi Samuel, tapi dia memilih menghabiskan waktu bersama Naira.


Aku benar-benar mengira hubungan mereka sudah membaik. Dan pagi ini ketika Samuel meminta agar Naira ikut ke kantor, bahkan memindahkan mejanya ke dalam ruangan nya, aku kira Samuel benar-benar sudah bisa menerima Naira.


Tapi firasat ku berubah, setelah siang tadi. Dan aku bahkan tidak menyangka kemarahan Samuel berlanjut sampai sekarang.


Aku sudah sampai di ruang kerja ku dan segera duduk di kursi ku, meskipun aku belum datang, pak Urip tidak akan menghubungi ku lagi, karena dia sangat percaya padaku. Setelah menandatangani semua dokumen, dengan cepat aku meninggalkan ruang kerja dengan hanya membawa ponsel dan kunci mobil ku saja. Jas ku, ku tinggal dalam ruangan.


Setelah sampai di parkiran, dengan cepat aku melajukan mobil ku. Dengan kecepatan di bawah 100 km/jam, tetapi di atas 80 km/jam aku berusaha untuk secepatnya tiba di kediaman Samuel.


Tidak sampai setengah jam, aku sudah tiba di depan teras kediaman Samuel. Aku mematikan mesin mobil lalu, menarik tuas rem tangan. Aku secepat nya keluar dari dalam mobil dan langsung berlari ke dalam.

__ADS_1


Langsung mengarah pada kamar utama, dimana sudah ada pak Ranu dan dua pelayan lainnya.


"Pak Ranu!" panggil ku pada pak Ranu.


Kalau aku tidak salah menghitung, sejak pak Ranu menelpon sampai aku bisa kemari membutuhkan waktu satu jam, apakah selama itu mereka berdiri di depan pintu.


"Tuan Riksa, syukurlah tuan datang!" seru pak Ranu yang wajahnya sudah pucat.


Aku tidak tahu kalau pak Ranu juga bisa sangat perduli seperti ini pada Naira, tapi aku senang itu artinya di rumah ini Naira mempunyai orang yang akan membela dan melindunginya.


"Apa yang terjadi, apa Naira baik-baik saja?" tanya ku.


Tapi setelah menanyakan pertanyaan itu, aku merasa kalau apa yang aku tanyakan itu adalah pertanyaan konyol, bagaimana mungkin Naira baik-baik saja.


"Tuan menarik paksa nyonya muda masuk ke dalam, dan sudah hampir satu jam tuan muda terus berteriak dan mengerang, sementara tidak ada suara dari nyonya muda!" cerita pak Ranu dengan ekspresi panik. Tangan tuanya itu terlihat gemetar.


Aku terdiam, aku tidak tahu kenapa tapi hatiku rasanya sedih dan ingin menangis. Tapi aku menahannya agar tidak terlihat oleh semua orang disini. Aku bisa menebak apa yang di lakukan oleh Samuel pada Naira, tapi ketika tangan ku terangkat ingin mengetuk pintu.


Naluri ku itu kalah oleh akal logis di kepala ku.


'Apa yang akan kamu lakukan Riksa? kedua orang di dalam itu adalah sepasang suami istri. Sudah halal bahkan sangat di perbolehkan apa yang di lakukan oleh Samuel itu pada istrinya!' pikir ku.


"Tuan Riksa!" panggil pak Ranu terlihat seperti meminta bantuan ku agar bisa mengetahui keadaan Naira.


Tapi tanggung jawab ku dan sumpah ku pada Tante Stella benar-benar membuat ku tidak berdaya. Aku hanya menelan saliva ku perlahan, dan menepuk bahu pak Ranu.


"Samuel adalah suami Naira pak, kita tidak berhak ikut campur dalam masalah rumah tangga antara mereka!" ucap ku lemah.


Aku memilih untuk bersandar pada dinding di sebelah pintu kamar Samuel. Sambil terus berharap kalau Naira tidak trauma pada Samuel, berharap kalau Samuel tidak kelewat batas.


***


Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu yang dibuka.


Ceklek

__ADS_1


Samuel keluar dari dalam kamarnya dengan hanya menggunakan jubah tidur. Dia menatap heran dan juga tidak suka pada kami semua satu-persatu orang yang ada di depannya.


"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Samuel dengan dingin.


Pak Ranu dan yang lain tertunduk, Samuel lalu mengalihkan pandangannya padaku.


"Kebetulan kamu ada disini! ikuti aku!" serunya sambil melangkah. Tapi baru beberapa langkah dia berbalik.


"Jangan ada yang masuk ke dalam kamar ku!" tegasnya membuat semua pelayan juga pak Ranu mengangguk patuh.


Aku mengikuti langkahnya masuk ke dalam ruang kerja.


Dengan ragu, aku memberanikan diriku untuk bertanya pada Samuel.


"Apa kesalahan Naira?" tanya ku membuat Samuel berbalik dan mengarahkan tatapan tajam padaku.


"Dia melanggar perintah ku, aku tahu dia sedang berfikir untuk menunda kehamilan, tapi aku sudah melarang nya membeli bahkan mengkonsumsi obat itu, tapi dia membeli ini..!" jawab Samuel sambil melemparkan satu strip kapsul berwarna merah yang masih utuh, belum ada yang berkurang.


Aku meraih benda itu dan memperhatikan nya dengan seksama.


"Bos, ini bukan obat penunda kehamilan! ini vitamin A untuk memperbaiki vitalitas mata!" jelas ku pada Samuel.


Aku menghembuskan nafas berat, untuk hal ini Samuel bahkan menghukum Naira dengan tidak manusiawi.


"Apa kamu bilang?" tanya Samuel dengan wajah yang begitu suram.


"Ini vitamin bos!" jawab ku tegas.


Aku lihat Samuel langsung terduduk lemas di kursi kerjanya.


"Keluar Riksa!" perintahnya dengan suara berat.


Aku keluar dari kamarnya, tapi aku berbalik sebelum menutup pintu. Ku lihat Samuel mengacak rambutnya frustasi. Aku rasa dia menyesali perbuatannya pada Naira, aku harap begitu.


Riksa Nugraha POV end

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2