Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
121


__ADS_3

Author POV


Samuel memanggil Naira ketika dia akan keluar dari dalam kamar mandi, karena Naira memang sedang menunggunya sambil memegang handuk di dekat kamar mandi. Naira bisa langsung memberikan handuk itu pada Samuel tanpa Samuel harus berteriak dua kali.


Samuel meminta agar Naira mengikutinya ke dalam kamar.


"Lumayan juga!" seru Samuel sambil melihat pakaian yang disiapkan oleh Naira.


Samuel mengganti pakaian nya lalu meminta Naira memasangkan dasi untuknya.


"Apa yang akan kamu lakukan hari ini selain menjaga ayah?" tanya Samuel pada Naira yang sedang berada di depannya yang sedang memasang dasi untuknya.


"Tidak ada mas, apa ada yang mas ingin aku lakukan?" tanya Naira dengan lembut.


Samuel terlihat berdecak kesal.


"Ck... apa kamu tidak ada inisiatif mau apa gitu?" tanya Samuel mencoba memancing Naira, apakah istrinya itu punya inisiatif untuk sekedar mengantarkan makan siang untuknya ke kantor.


Naira yang di tanya seperti itu malah semakin bingung saja. Dia tidak mengerti sepertinya apa yang di mau oleh Samuel.


"Sudahlah, aku berangkat. Ingat untuk memikirkan apa yang sebaiknya kamu lakukan. Selain menjaga ayah, bukankah seharusnya kamu juga memikirkan suami mu!" ucapnya lalu pergi meninggalkan kamar.


Naira yang masih berfikir lalu mengikuti Samuel yang sudah berjalan ke arah luar dan tak lama Riksa ternyata juga datang. Dia langsung keluar dari dalam mobilnya lalu menghampiri Samuel dan juga Naira.


"Selamat pagi bos, nyonya bos!" sapa Riksa pada Samuel dan juga Naira.


Sebenarnya Naira merasa agak kurang nyaman di panggil oleh Riksa seperti itu. Tapi karena tidak ingin membuat masalah dengan Samuel. Jadi Naira memilih untuk diam, sambil tersenyum dan sedikit mengangguk kan kepalanya pada Riksa.


"Pagi, bagaimana apa semua sudah di atur. Ingat agar Dina memastikan semuanya rapi dan sesuai dengan keinginan pak Thomas. Kita harus dapatkan proyek ini, sebentar lagi tahun baru. Kerja sama ini akan sangat menguntungkan bagi kita!" ucap Samuel panjang lebar pada Riksa.


Suara dan ekspresi wajah Samuel sangat serius. Naira bisa tahu kalau mereka berdua seperti nya sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting bagi Samuel juga bagi perusahaan nya.


Samuel melirik ke arah Naira sekilas.

__ADS_1


"Oh ya Riksa, katakan jam berapa kita biasanya makan siang?" tanya Samuel pada Riksa.


"Sekitar jam satu bos, mungkin rapatnya akan selesai paling lambat jam sebelas!" jawab Riksa


Tapi Riksa sedikit mengernyit kan dahi nya lalu menatap ke arah Naira. Naira tidak mengerti maksud mereka itu terlihat dari ekspresi yang dia tunjukkan.


"Aku berangkat!" ucap Samuel karena dia juga melihat ekspresi datar yang di tunjukkan oleh wajah Naira.


"Mas!" Naira memanggil Samuel dan mengulurkan tangan nya pada Samuel meminta dia memberikan tangannya.


Samuel memberikan tangannya lalu Naira mencium punggung tangan Samuel. Samuel terlihat menyunggingkan senyumnya dan melirik ke arah Riksa yang terlihat biasa-biasa saja.


Samuel seperti sedang menunjukkan kalau dirinya sangat di hormati oleh Naira. Tapi Riksa menganggap itu adalah hal yang biasa karena pasangan di depannya itu memang pasangan suami istri, wajar mereka saling menghormati seperti itu.


Setelah drama itu, Samuel masuk ke dalam mobil yang pintunya terlebih dahulu di bukakan oleh Riksa. Dan mereka pun pergi meninggalkan rumah Naira.


Naira yang masih melihat mobil Riksa menjauh, dia juga memperhatikan mobil milik Samuel yang masih terparkir di depan teras rumah ayahnya.


"Kenapa Samuel tidak pakai mobilnya?" tanya Naira bergumam.


"Pagi ayah!" sapa Naira lalu menghampiri sang ayah yang masih berada di atas tempat tidur nya dengan posisi duduk bersandar di sandaran tempat tidur.


"Pagi nak, nak Samuel sudah berangkat kerja?" tanya Rama.


Naira mengangguk cepat.


"Sudah yah, bagaimana keadaan ayah?" tanya Naira sambil melihat ke arah kaki ayahnya yang sudah di ganti perban oleh ibunya.


"Ayah juga sudah membaik, ayah ingin keluar Naira. Bisa bantu ayah?" tanya Rama.


Naira tersenyum lalu membantu ayahnya untuk turun dari tempat tidur. Kursi roda yang dibelikan Samuel sangat membantu mobilitas Rama, dia bersyukur karena ada Samuel yang memenuhi semua kebutuhan nya yang kalau dari ekonomi keluarganya sendiri, mungkin Rama tidak akan membeli benda itu meskipun sebenarnya sangat dia butuhkan mengingat harganya yang tidak murah.


Setelah Rama duduk di kursi, Naira mendorong kursi roda yang di duduki Rama keluar rumah, lebih tepatnya di teras depan.

__ADS_1


"Ayah ingin sarapan disini? aku akan ambilkan sarapannya ya!" ucap Naira setelah bertanya pada ayahnya.


Rama mengangguk dan Naira pun mengunci roda kursi roda Rama, agar tidak bergerak. Naira lalu masuk ke dalam mengambilkan sarapan untuk ayahnya.


Sambil sarapan Rama menceritakan pada Naira apa saja yang mereka lakukan saat liburan bersama dengan orang tua Samuel.


"Kamu beruntung sekali nak, ayah tidak tahu apa kebaikan yang sudah ayah dan ibumu lakukan dimasa lalu, sampai kamu mendapatkan suami sebaik nak Samuel!" ujar ayah sesekali menatap sendu pada Naira.


'Kalian sangat mensyukuri pernikahan ku dengan Samuel, lalu bagaimana perasaan kalian kalau kalian tahu pernikahan ku dengan Samuel hanya pernikahan kontrak!' Naira menangis dalam hatinya.


"Kami harus berbakti pada suami mu ya, jangan sampai kamu membuatnya merasa sedih dan terluka. Jangan pernah berbohong pada nak Samuel, dan jangan melakukan sesuatu yang akan membuat nak Samuel marah dan kecewa. Mengerti nak?" tanya ayah Naira setelah memberi beberapa nasehat yang menurut Naira sangat benar.


Naira tersenyum dan mengangguk paham, menanggapi nasehat yang dikatakan oleh ayahnya. Selama ini dia juga selalu menuruti nasehat ayahnya, dan hidupnya selalu berjalan baik.


Sementara itu di perusahaan, di ruang meeting istimewa yang biasa disiapkan oleh Samuel untuk meeting bersama orang-orang istimewa juga. Sudah ada Samuel dan juga Tuan Thomas, bersama dengan Riksa dan Dina dari pihak Samuel. Lalu dua orang asisten pria dan dua orang asisten wanita dari pihak tuan Thomas.


Sesuai kesepakatan, tuan Thomas akan menginvestasikan dana yang luar biasa besar bahkan jika dana itu dipakai untuk membeli saham perusahaan Samuel, maka harga itu adalah senilai 60% dari saham perusahaan induk Virendra grup.


Tapi tuan Thomas menginginkan pula agar Samuel bekerja sama dengan dua perusahaan yang sudah dia tentukan. Dan Samuel belum mengetahui hal itu, tapi yang jelas tuan Thomas pasti sudah memikirkan yang terbaik baik perusahaan nya dan juga Samuel. Karena investasi yang akan di tanamkan oleh tuan Thomas memang tidak main-main.


"Riksa, apa kamu sama sekali tidak tahu perusahaan mana yang sedang kita tunggu ini?" tanya Samuel yang sepertinya sudah mulai gelisah sambil berbisik pada Riksa.


Riksa menggelengkan kepalanya.


"Tidak tahu bos, datanya tidak bisa di lacak. Dan kita tidak mungkin memaksa masuk. Akan sangat fatal bagi kerja sama ini. Bersabarlah bos, sebentar lagi mereka juga datang. Kita akan tahu siapa mereka!" jelas Riksa.


"Apa maksud mu mereka? tidak hanya satu perusahaan?" tanya Samuel lagi.


"Tidak bos, Anita sekertaris tuan Thomas tadi mengatakan pada Dina untuk menyiapkan dua kursi lain selain untuk bos dan tuan Thomas!" jawab Riksa.


"Siapa sih mereka!" gumam Samuel.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2