Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
08


__ADS_3

Aku sekarang sedang berada di dalam mobil. Sekertaris pribadi si lidah tajam yang mengantar ku pulang. Aku senang berada satu mobil dengannya, karena dia ini sangat murah senyum. Tidak seperti si lidah tajam itu. Yang selalu membuat ku seperti berada dalam tempat yang angker kalau dia sedang diam. Dan membuat jantung ku yang imut ini jadi spot jantung saat dia bicara. Dia itu memang menyebalkan.


Tapi mau bagaimana lagi, setidaknya aku tidak rugi-rugi amat kan menikah dengannya. Karena aku akan dapat 10 juta sebulan, uang itu akan ku kumpulkan untuk melunasi hutang ku padanya. Lagi pula dia tak akan menyentuh ku, aku yakin itu. Dia bilang pada kekasih nya kan aku ini bukan tipe nya, lagipula memandang ku saja dia sepertinya malas sekali. Jadi aku rasa aku nantinya akan jadi janda kembang.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Riksa dan membuyarkan semua pikiran nyeleneh di dalam otakku.


Aku menoleh ke arahnya, wajah nya itu loh, teduh banget. Dan setiap bicara, dia juga sangat lembut dan sopan. Aku jadi penasaran, kenapa pria sebaik ini bekerja pada si lidah tajam ya.


"Aku sedang memikirkan nasib ku hari ini! Aku berangkat bekerja seperti biasanya, berdoa sebelum keluar dari rumah. Sampai di tempat kerja aku membersihkan toko bersama Mini, seperti biasanya. Tapi kenapa bisa jadi begini ya? aku kira aku akan dimarahi di depan orang ramai dan langsung di bawa ke kantor polisi oleh bos mu si lidah tajam itu, tapi ternyata aku malah menandatangani kontrak pernikahan, bukankah ini lucu?" tanya ku pada Riksa.


Aku tidak yakin dia mengerti apa yang aku ucapkan, kalau yang di depan ku ini si lidah tajam, dia pasti akan menanyakan aku ini sekolah dimana? kenapa kata-kata ku ini susah di mengerti sekali.


"Kamu berfikir ini lucu?" dia malah membalas pertanyaan ku dengan pertanyaan. Kurasa dia memang tidak mengerti.


"Apa kamu tidak punya kekasih, kamu terlihat tidak terbebani dengan semua ini?" tanya nya lagi, padahal aku belum menjawab pertanyaan pertama nya tadi.


Aku menggelengkan kepalaku, dan ku rasa dia sudah tahu jawaban dari pertanyaan nya itu.


"Ayah dan ibu melarang ku pacaran, dan kurasa itu benar. Pergaulan anak jaman sekarang sulit di prediksi, teman sekolah ku bahkan belum lulus SMA kala itu, tapi dia sudah hamil dan harus berhenti sekolah dan menikah. Kadang rasa suka itu bisa membutakan, aku tidak bermaksud untuk menyinggung siapapun tapi sepertinya benar kalau cinta itu buta. Jadi aku juga tidak ingin menjadi buta, jadi aku putuskan juga untuk tidak jatuh cinta kecuali pada pria yang akan menjadi suamiku..."


Riksa mengerutkan keningnya, aku juga merasa ada yang salah. Aku menghentikan ucapan ku dan mengernyitkan dahi ku sendiri. Seperti nya aku salah bicara, apa ini artinya aku hanya akan jatuh cinta pada si lidah tajam itu. Tidak mungkin, pernikahan ini kan juga hanya pernikahan kontrak, artinya aku juga hanya akan menjadi istri kontrak, aku tidak akan jatuh cinta kontrak juga kan. Seperti nya aku harus membenahi kalimat yang aku katakan tadi.


"Maksud ku jatuh cinta pada suami betulan, bukan suami kontrak!" ralat ku dan Riksa malah terkekeh.


"Kamu ini polos sekali ya, apa boleh aku minta tolong padamu?" tanya nya dengan suara lembut.


Aku langsung mengangguk.


"Apa yang bisa aku bantu?" tanya ku padanya.

__ADS_1


"Besok, aku akan menjemputmu untuk feeting gaun pengantin, jadi nanti malam kamu harus yakinkan kedua orang tua mu untuk menyetujui pernikahan mu dengan bos. Bisa kan?" tanya nya dan seperti nya dia ini juga tertekan oleh si lidah tajam itu. Kasihan sekali Riksa.


Tapi kalau aku juga sudah tanda tangan kan, jadi memang bisa atau tidak bisa ya harus bisa.


"Aku sudah tanda tangan kontrak itu, aku akan berusaha." jawab ku dan aku kembali melihat senyum terkembang di bibirnya.


"Satu lagi!" lanjut nya.


Aku kembali menoleh ke arah nya, mendengarkan dengan baik apa yang akan dia katakan selanjutnya.


"Apa?" tanya ku cepat.


Kurasa kalau bicara dengan Riksa, aku mudah tanggap. Tidak seperti dengan si lidah tajam itu. Kata-kata yang keluar dari mulut si lidah tajam itu terlalu tajam dan menyakiti hati. Kenapa juga ada yang betah hidup di dekatnya, bahkan menjadi kekasihnya lagi.


"Kamu tuliskan juga seperti yang aku tulis di kertas tadi ya, apa saja yang kamu suka dan tidak suka, keluargamu, hobi mu, dan semua tentang dirimu..."


Dia menghentikan kalimatnya saat aku menatap heran ke arahnya.


Dia terlihat tersenyum kikuk.


"Untuk jaga-jaga saja, tidak masalah kan?" tanya nya.


Dan karena dia meminta hal ini dengan tulus dan lembut. Maka aku juga dengan cepat mengangguk.


Kami sudah tiba di depan rumah ku, lagi-lagi para tetangga keluar dari rumah mereka dan melihat ke arah ku. Mungkin karena mobil yang berhenti berbeda dengan yang sebelumnya. Aku juga sedikit mendengar gunjingan mereka, entah itu baik atau buruk aku tidak tahu, karena hanya terdengar samar.


Riksa membukakan pintu mobil untuk ku.


"Tidak usah, aku bisa sendiri!" seru ku yang memang sudah memegang handel pintu mobil dari dalam.

__ADS_1


"Silahkan Naira, ini tugas ku!" balas nya.


Aku segera turun dari dalam mobil, lalu aku berjalan ke arah rumah.


"Naira!" panggilnya dan aku menghentikan langkahku lalu berbalik melihatnya.


"Aku pulang ya, jangan lupa yang aku pinta tadi!" serunya dan dia kembali masuk ke dalam mobil.


Aku masih terdiam di tempat ku menatap kepergian nya.


"Kenapa kesannya jadi aneh ya?" tanya ku bergumam. Tapi aku tak mau memikirkan nya, hari ku ini benar-benar melelahkan.


Saat aku akan melangkah masuk rumah, aku teringat sesuatu sehingga aku menepuk dahi ku sendiri.


"Sepeda ku!" ucap ku kesal.


"Ck... yah jalan kaki deh ngambil sepeda di gerai indah!" keluh ku lalu tidak jadi masuk ke dalam rumah.


Aku berjalan menjauhi rumah dengan tujuan ke gerai ayam geprek tempat indah bekerja.


"Ih ih lihat deh, tadi dia di anter pakai mobil yang beda lagi loh dari yang tadi siang!" celetuk ibu-ibu rempong di sekitar rumah ku.


"Ih iya, tadi tuh warnanya putih kan, barusan warnanya hitam!" sahut ibu-ibu berdaster di sebelahnya.


"Iya, yang keluar juga beda. Tadi siang tuh tinggi, putih, badannya gede, yang barusan gak setinggi yang tadi siang!" sambung ibu berambut pirang dengan rol rambut di poninya.


Aku hanya mendengus kesal.


'Repot banget deh ini ibu-ibu, gak tahu mereka udah masak apa belum!' keluh ku dalam hati sambil berlalu meninggalkan mereka.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2