
Saat Samuel, Riksa dan Damar kembali dari kantor. Mereka semua begitu terkejut mendengar apa yang sudah terjadi di kedua Virendra ketika mereka bertiga tidak ada di rumah.
"Lalu bagaimana keadaan Vina?" tanya Damar yang begitu mencemaskan keadaan menantu bungsunya itu.
Makan malam pun urung di laksanakan karena semua orang sedang tidak dalam keadaan bisa dan memiliki keinginan untuk makan saat melihat Vina belum sadarkan diri.
Damar dan yang lain yang telah berada di dalam kamar Stella pun melihat kondisi Vina yang memang belum ada tanda-tanda kalau dia akan bangun dan segera sadar.
Damar duduk di sisi tempat tidur dan memeriksa strip luka yang di tempelkan dokter Ayu di kening Vina.
"Kasihan sekali anak ini, ck... lain kali kita harus lebih intens melindunginya!" ucap Damar begitu saja.
Tapi apa yang di katakan oleh Damar itu membuat Naira merasa kalau Vina akan selalu dalam bahaya kalau dekat dengan Adam. Stella, ibu mertuanya memang sudah mengatakan kalau Adam mengalami bipolar. Tapi Naira sendiri tidak tahu apa artinya itu. Saat ibu Stella mengatakan itu sambil menangis, Naira hanya berusaha menenangkan ibu mertuanya itu. Mau bertanya apa itu bipolar, Naira tidak berani karena takut membuat Stella menjadi lebih sedih lagi, karena punya menantu yang kurang wawasan seperti dirinya. Tapi memang tidak semua orang tahu apa itu bipolar kan?
'Kenapa aku menangkap maksud ayah Damar itu seperti Vina akan berada dalam bahaya kalau dekat dengan Adam?' tanya Naira dalam hati.
Tak lama berada di kamar Stella, Vina menunjukkan kalau dia sudah mulai sadar. Vina membuka matanya perlahan, dan tangannya langsung terangkat dan menyentuh keningnya yang terluka. Itu adalah gerakan refleks karena di tempat yang akan dia sentuh itu memang terasa lebih sakit dari tempat yang lainnya.
"Vina!" panggil Stella yang merupakan orang pertama yang melihat kalau Vina sudah sadar.
Stella langsung mendekati Vina dan duduk di tepi tempat tidur.
"Sayang, kamu sudah sadar. Apa masih terasa sakit? dimana yang sakit nak?" tanya Stella yang terlihat begitu panik.
Vina hanya tersenyum kecil ketika melihat wajah Stella uang panik dan mendengar semua pertanyaan nya yang bertubi-tubi. Damar yang melihat Vina tersenyum malah merasa sangat bersalah pada gadis itu.
'Dia malah tersenyum, terbuat dari apa hari anak ini?' tanya Damar dalam hati.
__ADS_1
Damar kemudian ikut mendekati Vina dan bertanya.
"Nak, bagaimana keadaan mu? jika kamu merasa tidak enak kita ke rumah sakit saja ya sekarang!" ucap Damar menawarkan pada Vina untuk membawanya ke rumah sakit kalau memang kondisi nya tidak nyaman.
Vina tidak langsung menjawab, dia malah berusaha untuk bangun dan duduk. Stella yang menyadari hal itu pun langsung membantu Vina untuk dapat duduk.
"Ayah, ibu... aku tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja tadi. Sekarang aku sudah baik-baik saja. Bagaimana dengan Adam? apa dia masih mengamuk?" tanya Vina yang justru mengkhawatirkan keadaan Adam.
Stella sampai begitu terharu dan langsung melihat ke arah Damar yang juga melihat ke arahnya. Damar menepuk pelan bahu Stella.
"Dia sudah tenang nak, kamu malam ini tidur disini saja ya dengan ibu Stella. Biar ayah yang temani Adam!" ucap Damar dan mendapatkan anggukan kepala dari Stella juga yang juga melihat ke arah Vina.
Setelah semua menjadi tenang karena ternyata Vina bilang dia merasa kalau tubuhnya tidak ada yang sakit selain sedikit nyeri di kepala. Puspa dan Naira pun mengajak semua untuk makan malam.
"Aku sudah membuat bubur untuk Vina, om dan yang lain silahkan makan malam saja dengan tenang. Ada aku yang akan menjaga dan menemani Vina!" ucap Puspa.
Tapi sebelum mendapatkan jawaban dari Puspa, Samuel menarik tangan Riksa keluar dari kamar.
"Sudahlah, kalau kamu di dalam yang ada Puspa tidak akan menemani Vina tapi menemani kamu!" ucap Samuel yang membuat semua orang jadi terkekeh.
Setelah semuanya keluar dari dalam kamar untuk makan malam. Salah seorang asisten rumah tangga membawakan bubur buatan Puspa ke dalam kamar.
"Ibu adalah bubur buatan ku, ayo kita makan!" ajak Puspa.
Dan mereka bertiga pun makan bersama, Vina, Puspa dan juga asisten rumah tangga yang menemani Puspa. Beberapa saat kemudian mereka pun selesai makan malam. Makan bubur tentu saja lebih cepat daripada makan makanan berat lainnya. Puspa meminta asisten rumah tangga itu untuk membereskan semua peralatan makan dan membawanya ke dapur.
Puspa lalu duduk di kursi yang ada di dekat tempat tidur dimana Vina posisinya masih duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Puspa.
Vina hanya tersenyum, dia tidak menyangka kalau Puspa yang awalnya begitu cuek padanya sekarang sikapnya menurut Vina menjadi lumayan bersahabat. Tapi sayang itu tidak berlangsung lama. Karena saat Vina akan membuka suara untuk berterima kasih pada Puspa karena telah membuatkan makan malam untuknya, Puspa malah lebih dulu berkata.
"Apa tujuan mu masuk ke dalam keluarga ini?" tanya Puspa yang membuat Vina terkejut.
Ekspresi wajah terkejut dan kaget dak dapat di sembunyikan oleh Vina.
"Tu.. tujuan?" tanya Vina yang memang tidak mengerti maksud perkataan Puspa.
Puspa yang awalnya berwajah ramah, kini sudah mulai merubah ekspresi wajah nya menjadi serius dengan kedua tangan dia lipat di depan dadanya.
"Iya, kamu tidak perlu berpura-pura polos di hadapan ku. Bukankah kamu adalah sahabat baiknya Caren Maida, orang yang jelas-jelas masih berusaha untuk mengejar Samuel yang jelas-jelas meninggalkan nya karena dia selingkuh dengan Kenzo. Aku tahu semuanya, Samuel dan Naira adalah sahabat ku, dan aku tidak akan membiarkan seorangpun menyakiti dan memisahkan mereka berdua!" tegas Puspa langsung pada intinya.
Puspa memang bukan orang yang suka berbelit-belit saat bicara.
"Jadi kalau tujuan mu adalah untuk membantu Caren dan menjadi mata-mata nya. Maka orang pertama yang akan segera membongkar kebusukan dan kepura-puraan mu itu adalah aku!" tegas Puspa dengan mata yang nyaris tak berkedip.
Vina hanya diam, dia sama sekali tidak tersinggung dengan semua perkataan Puspa. Dia justru merasa kalau hatinya terasa sakit bukan karena perkataan Puspa, tapi karena hal lain.
'Bukankan seharusnya sahabat itu seperti ini? selalu ada untuk satu sama lain, melindungi dan membela satu sama lain. Bukan menusuk dari belakang!' batin Vina yang hatinya sudah menangis saat ini.
Meski di hatinya terasa sakit, tapi Vina berusaha untuk tetap tersenyum.
"Puspa, aku memang teman Caren. Tapi aku tidak akan pernah menjadi mata-mata nya atau mata-mata siapapun di rumah ku sendiri. Sama seperti ayah dan ibu mertua menganggap ku sebagai anak mereka, aku akan menganggap mereka seperti kedua orang tua ku. Dan aku juga yakin kalau kamu dan Naira sebenernya juga sudah menganggap ku sebagai adik. Maka aku juga akan menganggap mu dan Naira kakak ku, aku tidak akan menusuk kalian dari belakang. Karena tidak ada orang yang tahu rasa sakitnya di tusuk dari belakang melebihi diriku!" ucap Vina dengan mata yang berkaca-kaca.
***
__ADS_1
Bersambung...