
Adam sedang berada di ruangan Caren selama setengah jam lebih, dan disana dia tidak menemukan apapun selain jadwal meeting yang akan di lakukan Jodi, dan beberapa catatan janji temu Jodi dengan beberapa orang. Adam sudah mencatat semuanya, dia bahkan memfoto semua dokumen yang seharusnya tidak ada di ruangan itu sebagai ruangan sekertaris.
Adam beralih ke ruangan Jodi, dan benar saja, semua laci yang ada di ruangan Jodi itu terkunci rapat. Untung saja Adam sudah mengantisipasi hal ini sebelumnya, dia bahkan sudah menyiapkan berbagai macam kunci yang sudah di berikan oleh anak buahnya. Adam mencoba untuk membuka satu persatu laci itu, meski ruangan itu sudah ada pendinginan udaranya tapi tetap saja Adam berkeringat, karena bagaimanapun dia harus melakukan semuanya dengan cepat. Setelah membuka dua buah laci, dia akhirnya menemukan sebuah dokumen yang Vina katakan saat itu. Dari PT Heterogen yang sudah di tolak oleh Kevin Rahardja. Tapi dari tanggal yang tertera dalam dokumen itu baru dua hari yang lalu.
"Bagus, semakin banyak saja bukti kecurangan mu!" gumam Adam yang tersenyum menyeringai.
Adam lalu beralih ke laci lain, sedikit terkejut karena saat dia membuka sebuah lemari yang sebenarnya adalah rak buku, dia menemukan sebuah brangkas di balik rak buku itu.
"Wow, seperti nya aku menemukan harta Karun!" seru Adam yang terlihat senang.
Adam senang bukan karena melihat brankas itu dan ingin mengambil isi yang ada di dalamnya. Tapi dia senang karena dia yakin pasti akan menemukan sesuatu yang berharga di dalam sana.
Adam berusaha membuka brankas berukuran lebar mungkin sekitar dua puluh centi, dengan tinggi dua puluh centi juga, dan panjang mungkin sekitar tiga puluh centi meter. Sudah hampir sepuluh menit dan Adam tak kunjung bisa membuka brankas itu.
"Huft, aku rasa aku harus banyak belajar dari Eka kalau soal ini!" gumamnya menyebutkan nama salah seorang anak buah Samuel yang memang pandai membuka brangkas apapun.
"Tidak bisa! sudahlah!" tapi ketika Adam sudah hampir putus asa, dia asal menekan saja angka yang dia ingat sebagai tanggal ulang tahun Vina.
Ceklek
Pintu brangkas itu terbuka, Adam tertegun sejenak. Dia tidak menyangka sama sekali kalau yang di jadikan password brangkas Jodi adalah tanggal ulang tahun Vina.
Adam pun jadi mulai berpikir apakah Jodi memang menyukai Vina, kalau tidak kenapa dia sampai menjadikan tanggal lahir Vina sebagai sandi brangkasnya.
Adam segera membuka lebar pintu brangkas itu, dia lumayan terkejut melihat banyaknya uang tunai di sana.
"Banyak juga uangnya!" gumam nya sambil mengeluarkan semua dokumen yang ada di brangkas Jodi itu.
Plek
Mata Adam langsung melihat ke arah sesuatu yang jatuh ke lantai. Adam langsung berjongkok dan meraih benda itu, sebuah Foto, foto Vina sedang tersenyum dengan mini dress putih bermotif bunga di sebuah taman, menaiki sebuah ayunan. Sepertinya Vina tidak sadar kalau fotonya sudah di ambil.
"Jadi Jodi memang menyukai Vina?" tanya nya pelan.
__ADS_1
Beberapa menit apa yang dia temukan membuat Adam terdiam. Dia yakin kalau Jodi sebenarnya memang sangat mencintai Vina. Tapi Adam merasa kesal mengetahui hal itu.
Dia berdecak kesal lalu mulai memilih beberapa dokumen yang bisa di jadikan bukti kecurangan Jodi. Seperti menemukan harta karun, Adam sangat senang ketika melihat bukti kalau Adam juga sudah menerima Milyaran rupiah dari PT FTP. Yang sekarang memang sedang bekerja sama dengannya.
"Bagus sekali!" gumam Adam lalu membereskan semua seperti sedia kala. Dia sudah menghabiskan satu jam lebih untuk memeriksa ruangan Caren dan juga Jodi.
Sampai teleponnya berdering, dan saat dia melihat ke layar ponsel, nama Vina tertera di sana.
"Halo Vina, aku sudah dapatkan buktinya....!"
"Adam tolong aku, aku di restoran Sea Blue. Tapi tidak ada orang di sini. Aku merasa tubuhku tidak nyaman... cepat datang Adam..?" lirih Vina dengan suara yang terdengar aneh oleh Adam.
"Vina, astaga restoran itu cukup jauh. Aku akan ke sana. Bertahanlah!" seru Adam lalu langsung membawa dokumen yang penting bersamanya menuju ke parkiran.
Sementara itu di restoran, Vina masih berada di dalam kamar mandi. Dia tidak mengerti apa yang sudah terjadi padanya, dia hanya minum minuman yang di sajikan pelayan. Tapi setelah itu dia merasa tubuhnya sangat tidak nyaman.
Sejak awal dia datang ke restoran ini sebenarnya dia merasa sangat aneh, karena tidak ada satu pun orang yang datang. Namun Jodi bilang karena sudah mereservasinya khusus untuk Vina.
Tapi Vina malah merasa dirinya kepanasan dan sangat kehausan, semakin banyak dia minum malah semakin dirinya merasa haus. Vina merasa pasti ada yang tidak beres. Akhirnya dia pamit ke toilet pada Jodi.
Sementara itu di sebuah ruangan VIP di restoran itu, Jodi cukup lama menunggu.
"Vina, aku akan menjadikan mu milikku sebentar lagi. Tidak akan adalagi alasan untuk mu menolak ku!" ucap Jodi penuh keyakinan.
Setelah beberapa menit Vina tak kunjung keluar dari toilet. Jodi pun menyusul nya, dia sudah membayar semua pelayan agar tidak mengganggunya dan Vina.
Tok tok tok
Jodi mengetuk pintu toilet dimana Vina sedang berada di dalamnya.
"Vina, apa semua baik-baik saja?" tanya Jodi.
Namun tidak ada jawaban dari dalam toilet karena Vina terus membasuh wajahnya untuk tetap menjaga kesadarannya.
__ADS_1
"Vina!" panggil Jodi lagi.
Jodi yang tak kunjung mendapatkan jawaban akhirnya memutuskan untuk mendobrak pintu toilet itu.
Dia melihat Vina sudah hampir tidak sadar, namun terus membasuh wajahnya hingga baju yang dia pakai pun menjadi basah.
Senyum menyeringai langsung tercipta di wajah Jodi. Dia mendekati Vina lalu memeluknya.
Bahkan saat di peluk pun Vina sudah tidak bisa memberontak.
"Apa yang kamu lakukan padaku?" tanya Vina dengan kesadaran yang hampir hilang.
"Aku memelukmu, aku bahkan tidak bisa melakukan ini selama dua tahu berpacaran dengan mu Vina. Aku sangat mencintaimu, jujur aku sangat mencintaimu tapi aku juga butuh hal lain sebagai seorang pria!" jawab Jodi.
Vina sudah tidak menghiraukan apa yang di katakan Jodi. Dia tetap berusaha mendorong Jodi agar melepaskan dirinya.
"Lepaskan aku, lepaskan!" teriak Vina.
"Tidak akan ada yang mendengar mu sayang!" ucap Jodi langsung mengangkat tubuh Vina seperti seorang kuli mengangkat karung beras.
Brukk
Jodi menjatuhkan tubuh Vina di atas sofa. Vina yang tidak punya tenaga hanya bisa menangis.
"Jodi, aku mohon jangan lakukan ini. Aku sudah menikah!" ucap Vina dengan air mata berderai di pipinya.
"Jika Adam menceraikan mu, aku yang akan menikahi mu. Tahukah kamu Vina, aku sudah menunggu saat ini sejak lama!" serunya yang mulai membuka jas dan juga dasinya.
'Adam, cepatlah datang!' lirih Vina yang bahkan untuk bangkit dari posisi tidurnya seperti tidak punya tenaga lagi.
***
Bersambung...
__ADS_1