
Kami sudah tiba di kediaman Virendra, rumah besar yang halaman nya pun lebih besar dari rumah lama Samuel yang dia berikan pada mantan kekasihnya itu.
Samuel membukakan pintu mobil untukku. Dan menggandeng ku langsung masuk ke dalam rumah, meninggalkan Riksa dan pak Urip yang mengeluarkan barang-barang kami dari dalam bagasi mobil di bantu oleh para asisten rumah tangga yang ikut keluar ketika mendengar suara mobil datang.
"Selamat datang di rumah!" ucap Samuel saat mengajak ku melangkah masuk melewati pintu.
Dia terus menggenggam erat tangan ku saat pak Ranu dan bibi Merry menghampiri dan menyapa kami.
"Selamat datang tuan dan nyonya muda!" sapa pak Ranu dan bibi Merry kompak.
Mereka menyapa kami bersama-sama dengan senyum tulus mereka dan mereka sesekali melirik ke arah tangan ku dan Samuel yang tengah bertaut.
Aku merasa malu, tapi mau bagaimana lagi. Jika aku menarik tangan ku, maka Samuel akan marah.
"Selamat malam Pak Ranu, bibi Merry!" ucap ku membalas sapaan mereka.
"Dimana Adam?" tanya Samuel.
Aku tahu sebenarnya Samuel sangat perduli pada Adam, pertama kali yang dia tanyakan saat masuk ke dalam rumah ini adalah Adam. Aku harap memang bukan Adam pelakunya, jika tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Selamat datang kakak ku, kakak ipar!" ucap sebuah yang datang dari ruang tengah.
"Selamat datang, kakak ipar ku yang malang. Kamu terusir dari rumah suami mu sendiri... ck sungguh tidak beruntung!" ucap Adam yang membuat Samuel mengeratkan genggaman nya pada tangan ku.
Aku tahu Samuel merasa kesal dengan apa yang di katakan oleh Adam. Tapi apa yang dia katakan itu memang benar. Aku memang harus keluar dari rumah suami ku yang telah dia berikan pada mantannya. Jika kedua orang tuaku mendengar hal ini, aku tidak tahu apa yang akan mereka pikirkan, mereka pasti merasa sangat sedih mendengar hal ini.
"Bisa diam tidak?" bentak Samuel yang sudah mulai tidak dapat menahan emosinya.
Suasana menjadi sangat tegang, ketika pak Ranu dan bibi Merry hanya bisa saling pandang dan menundukkan wajah mereka. Aku juga melihat ke arah Adam yang setelah mengatakan semua itu dan mendengar kemarahan Samuel masih bisa tersenyum menyindir ke arah ku dan Samuel.
"Kenapa teriak-teriak, itu kenyataan!" ucap Adam dengan santainya.
"Maaf tuan, kami akan siapkan makan malam. Permisi!" ucap bibi Merry dan menyabet nyabet tangan pak Ranu agar mengikutinya pergi.
__ADS_1
Aku berusaha menenangkan Samuel dengan mengusap lengannya perlahan. Tapi apa yang aku lakukan itu justru mendapat lirikan tajam dari Adam.
"Hoh, romantis sekali!" ucapnya dengan senyuman yang aku bisa lihat itu senyum paling aneh yang pernah aku lihat ada pada wajah seseorang di dunia ini.
Dia menghampiri kami, aku tahu Samuel sedang berusaha menahan emosinya. Aku lihat wajahnya mulai merah padam. Wajah putihnya itu sangat sulit menyembunyikan ekspresi kalau dia sedang menahan marah. Karena raut wajah dan rahang nya yang mengeras menegaskan kalau saat ini Samuel memang sedang dalam emosi yang bisa siap kapan saja akan meledak.
"Jika kalian menunjukkan acting seperti ini, pasti tidak akan tahu kalau sebenarnya pernikahan kalian berdua hanya pernikahan kontrak!"
Deg
Aku mundur satu langkah kebelakang dan menarik tangan ku dari Samuel. Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar, bukankah Samuel berkata kalau hanya aku, dirinya dan Riksa yang tahu tentang hal ini. Lalu bagaimana bisa Adam bicara seperti itu.
Samuel menoleh sekilas ke arah ku setelah aku melepaskan tangannya.
Lalu dia mencengkeram kerah baju Adam yang berada di depannya.
"Adik kurang ajar, apa yang kamu katakan? hah jangan karena aku diam saja kamu bisa bertingkah dan berkata seenaknya! aku akan memberimu pelajaran!" gertak Samuel dengan tangan yang sudah dia kepalkan di depan wajah Adam.
"Mau pukul aku, cepat pukul! memangnya apalagi yang bisa kamu lakukan selain memukul ku?" tanya Adam yang terlihat meremehkan semua yang Samuel katakan.
"Mas, lepaskan dia. Sudah!" ucap ku panik.
Adam tidak melawan, tapi itu malah membuatku semakin takut kalau dia sengaja mancing keributan dengan Samuel.
"Mas, sudah... lepaskan. Kakek akan datang jangan seperti ini!" ucap ku berusaha mengatakan semua itu dengan suara yang meninggi agar Samuel mendengar nya.
Setelah aku menyebutkan kata kakek, akhirnya Samuel melepaskan cengkraman tangan nya pada kerah baju yang dipakai oleh Adam.
"Mas, ayo kita masuk saja!" ucap ku lalu menarik lengan kekar Samuel menuju ke ruang tengah.
Samuel masih terus menoleh ke arah Adam yang masih menunjukkan senyum anehnya pada kami.
"Mas, sudah! dimana kamar kita?" tanya ku pada Samuel.
__ADS_1
Samuel berhenti di ruang tengah dan mengusap wajahnya kasar.
"Nai, aku benar-benar tidak tahu darimana Adam...!"
"Mas, kita tidak bisa bicara disini! dimana kamar kita?" tanya ku menyela Samuel.
Aku berusaha menghentikan Samuel yang ingin menjelaskan sesuatu padaku, karena kami tidak bisa membicarakan hal seperti ini di tempat umum. Meskipun di dalam rumah, ruang tengah juga termasuk tempat umum. Dimana setiap penghuni rumah bisa saja keluar masuk dan lalu lalang di sini.
Samuel kemudian menggandeng tangan ku, tapi aku dengan cepat menepisnya. Aku masih kesal kenapa dia tidak menepati ucapannya.
"Nai...!"
"Mas duluan, aku ikuti mas!" jawab ku singkat dan cepat.
Samuel pun segera berjalan menuju ke arah kiri dari ruang keluarga yang luasnya sebesar lapangan basket di lapangan komplek perumahan tempat ayah tinggal. Dia menuju ke sebuah pintu yang besar berwarna coklat tua dan membukanya.
Begitu kami masuk, dia langsung mengunci pintu itu. Aku cukup di buat takjub, pasalnya ada foto pernikahan ku dan Samuel yang ukurannya dua kali lipat lebar dari pintu masuk terpajang di dinding putih kamar yang di bawah ya ada meja yang di atasnya juga banyak sekali figura foto pernikahan kami.
"Sayang, kamu suka kan dengan kamar kita?" tanya Samuel seraya memeluk ku dari belakang.
Aku yang masih terpana melihat foto besar yang terpajang di dinding tanpa sadar mengangguk kan kepala ku beberapa kali. Sampai aku ingat kalau aku sedang kesal pada Samuel.
Aku menepis tangan Samuel lalu berbalik ke arahnya.
"Mas jangan mengalihkan topik pembicaraan!" protes ku pada Samuel.
Samuel menghela nafas cukup panjang.
"Kenapa Adam bisa tahu pernikahan kita hanya pernikahan kontrak?" tanya ku pada Samuel.
"Apa kamu percaya kalau aku bilang, aku juga tidak tahu bagaimana dia bisa tahu tentang hal itu. Aku sama sekali tidak pernah membicarakan ini selain pada Riksa!" jawab Samuel dengan wajah yang sepertinya sangat bingung.
***
__ADS_1
Bersambung...