
Aku sedang menyelesaikan menjemur kain sprei yang telah aku cuci di jemuran di depan rumah, bukan pas di depan tapi sedikit di sebelah kanan.
Aku bahkan berusaha menyelesaikan nya dengan cepat dengan harapan, selesai sebelum Riksa dan bos nya yang suka marah-marah itu datang kemari.
Tapi ternyata meskipun aku berusaha secepat mungkin, tetap saja aku belum siap saat mereka sudah datang.
Aku langsung berdiri kaku di tempat ku ketika, orang yang sedang ku batin dalam hati itu tiba-tiba sudah berada di hadapan ku. Berdiri di samping mobilnya sambil membuka kacamata hitamnya dan melotot ke arah ku.
'Hah, bagaimana ini. Kaki ku tidak bisa bergerak!' batin ku
Karena tatapan tajam nya itu kali ku seperti tertancap dan tidak bisa bergerak. Apalagi ketika dia melangkah maju dan makin dekat ke arah ku. Kurasa wajah ku saat ini terlihat sangat pucat.
"Kenapa belum bersiap? kenapa bilang otewe mandi di telepon bahkan berani menutup telepon tapi belum siap sama sekali. Kamu membohongi ku?" tanya nya dengan geram.
Aku bisa merasakan aura menyeramkan terpancar dari pria yang terlihat mengeraskan rahangnya di tepat di depan wajah ku itu.
"Ma.. maaf...!"
"Riksa!!" teriak nya memanggil Riksa.
Dengan cepat Riksa menghampiri nya.
"Iya bos, pagi Nai!" jawab Riksa saat sudah berdiri di samping kiri bos nya.
Dan menyapaku, tapi ketika Riksa selesai melakukan itu tatapan tajam yang tadinya Samuel di tujukan padaku kini di alihkan pada Riksa.
"Maaf bos!" seru Riksa cepat.
"Tambahkan dalam kontrak, jika Naira putri berbohong lagi padaku dan mengatakan apa yang tidak dia lakukan maka hutangnya akan bertambah 20 persen!" seru Samuel lalu kembali menatap ku dengan tatapan yang begitu mendominasi.
"Ta..tapi tapi...!" aku mencoba untuk menjelaskan apa yang membuat ku mengatakan itu. Tapi dia sama sekali tidak memberikan aku kesempatan bicara.
"Riksa, beritahu dia untuk bersiap dalam sepuluh menit. Atau tambah kan hutangnya 20 persen!" tegas nya lalu dia berjalan masuk ke dalam rumah.
"Riksa, jadi berapa hutang ku sekarang?" tanya ku dengan lemas pada Riksa.
"Maaf Nai, tapi sekarang hutang mu jadi 120 juta, dan jika dalam sepuluh menit kamu tidak selesai mandi dan bersiap maka akan menjadi 140 juta...!"
"Aghhk!" pekik ku padahal Riksa belum selesai bicara.
Aku langsung berlari masuk ke dalam rumah, aku bahkan tidak memperdulikan ember yang masih berada di luar juga Samuel yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Aku langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mandi dengan sangat cepat.
Aku berlari lagi ke arah kamar dengan lilitan handuk di tubuh ku, aku memakai pakaian ku lalu menyisir rambut ku dengan cepat.
"Aku rasa ini belum sepuluh menit!" gumam ku sambil memoleskan lipstik merah muda di bibir ku.
Aku meraih tas ku dan segera pergi keluar dari dalam kamar. Aku langsung menghampiri Riksa dan Samuel yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
__ADS_1
"Aku siap!" ucap ku membuat dua pria itu menoleh ke arah ku.
Aku bisa melihat dua perbedaan ekspresi yang ditunjukkan dua pria itu. Riksa dengan wajah teduh dan damainya yang tersenyum saat melihat ku, dan Samuel yang melihat ku dari atas kepala sampai ke ujung kaki ku. Dan tatapannya masih saja sinis.
"Benar-benar biasa saja!" celetuk nya lalu berdiri dan keluar dari dalam rumah.
Aku juga tidak tersinggung pada ucapan nya itu, mungkin karena aku juga tidak berharap dia memujiku. Riksa juga ikut berdiri, tapi dia tidak langsung keluar, dia malah menghampiri ku.
"Hei, sudah sarapan belum? jangan sampai perut mu terdengar demo di depan calon ibu mertua mu!" ucap Riksa pelan.
'Apa? bertemu ibu mertua!' pekik ku dalam hati.
Aku menggeleng kan kepala ku perlahan. Riksa langsung menepuk pundak ku dengan lembut.
"Aku sudah mengira hal itu, jadi aku sudah membelikan mu sarapan. Dan kamu bisa sarapan di dalam mobil!" ucap Riksa sambil tersenyum.
"Terimakasih Riksa!" ucap ku pada pria yang baik ini.
"Sama-sama, ayo cepat ke mobil. Atau bos akan menambah lagi hutang mu!" kelakar nya padaku.
Aku menggedikkan bahu ku.
"Tidak tidak, jangan sampai itu terjadi. Ayo!" sahut ku.
Kami keluar dari rumah, aku sudah tidak melihat Samuel, dia pasti sudah berada di dalam mobil. Aku melihat pak Urip membukakan pintu penumpang bagian belakang tapi ku rasa itu bukan untukku, tidak mungkin kan kalau si lidah tajam itu mau duduk bersama ku.
"Nai, masuk!" kata Riksa dari arah belakang dan langsung membuka pintu penumpang bagian depan.
Aku masuk dengan ragu ke dalam mobil, setelah pak Urip menutup pintu mobil. Aku menggeser posisi duduk ku menjauh dari Samuel. Aku lebih memilih minggir sepinggir-pinggirnya pokoknya.
Pak Urip langsung melajukan mobil yang kami tumpangi ini. Riksa juga memberikan sebuah box makanan ukuran kecil padaku, lengkap dengan sebotol kecil air mineral.
"Ini Nai, makan dulu!" kata Riksa saat aku meraih box makanan itu.
"Terimakasih!" jawab ku sambil tersenyum.
"Sama-sama!" sahut Riksa lalu kembali menghadap ke arah depan.
Aku melirik sekilas ke arah Samuel, seperti nya dia tidak perduli dengan aktifitas yang kami lakukan. Aku langsung membuka box makanan itu dan seperti nya ini kwetiau goreng, wah dengan irisan bakso dan udang di dalamnya. Kelihatan nya sangat enak. Aku meraih garpu yang ada di sebelah nya dan langsung makan makanan yang ternyata memang sangat lezat saat sampai di mulut ku.
"Em, ini enak sekali. Terimakasih Riksa." ucap ku refleks karena merasa ini adalah kwetiau paling enak yang pernah aku makan.
"Hei, dia bayar pakai uang ku. Itu artinya aku yang membelikan mu makanan itu! kenapa dari tadi terus berterimakasih padanya!" ucap Samuel yang langsung membuat ku menoleh ke arahnya dan menghentikan aktivitas makan ku.
Aku mengunyah makanan yang ada di dalam mulut ku, kenapa rasanya jadi berubah ya. Tadi rasanya gurih, manis dan enak sekali. Tapi kenapa setelah mendengar apa yang di katakan Samuel rasanya jadi terlalu asin dan terlalu manis. Sangat tidak enak.
Aku melihat ke arah spion depan, melihat Riksa dengan ekspresi terkekeh tapi tanpa suara. Aku jadi heran sebenarnya apa yang sedang dia tertawa kan. Aku lalu beralih pada pria bernama Samuel yang duduk di samping ku ini.
__ADS_1
"Maaf, terimakasih ya untuk sarapannya!" ucap ku gugup pada Samuel.
Dia tidak menjawab dan dia malah melengos, mengalihkan pandangannya ke arah jendela.
'Ih, maunya apa sih? repot banget waktu aku bilang makasih sama Riksa, nah sekarang dia malah melengos!' batin ku kesal.
Huh, tadinya aku sangat bersemangat untuk menghabiskan makanan ini, tapi sekarang rasanya sulit sekali mengunyah nya di dalam mulut ku.
Beberapa menit kemudian kami sampai di bandara, jalanan menuju ke bandara tidak terlalu ramai jadi pak Urip bisa melenggang bebas dengan mobil yang dia kemudikan. Kurang dari satu jam kami sudah tiba di bandara.
Pak Urip membukakan pintu mobil untuk Samuel dan Riksa membukakan pintu mobil untuk ku. Aku memang bukan pertama kalinya datang ke bandara. Tapi ini pertama kalinya aku ke tempat penjemputan kedatangan luar negeri. Aku mengikuti langkah cepat Samuel dan Riksa, pak Urip menunggu di mobil.
Kami sudah berada di tempat dimana orang-orang biasa menunggu kedatangan penumpang. Riksa mengajak ku duduk di dekat Samuel, tapi aku memilih sedikit menjauh darinya.
Bukan karena aku tidak ingin dekat dengannya, aku hanya takut membuat kesalahan dan dengan mudah dia akan menambahkan lagi jumlah hutang ku padanya.
"Hei, ku perhatikan sejak tadi kamu selalu duduk menjauh dari ku. Kenapa?" tanya Samuel membuat ku terkesiap.
Aku tidak tahu harus menjawab apa, mau bicara tapi rasanya suara ku tak bisa keluar dari mulut ku.
"Duduk di sini! aku tidak mau saat ini datang dia melihat kita seperti sedang bermusuhan!" seru nya.
Dan seperti terhipnotis, saat dia menepuk kursi yang ada di sampingnya aku langsung berdiri dengan cepat dan duduk di kursi itu. Aku menghela nafas panjang.
Aku juga sempat melihat ke arah Riksa yang lagi-lagi seperti terkekeh tanpa suara.
'Ini ada apa sih sebenarnya?' tanya ku dalam hati.
Tak lama kemudian, Riksa dan juga Samuel berdiri dan melihat ke arah depan. Aku juga ikut berdiri dan melihat ke arah yang sama dengan mereka. Terlihat seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat cantik dengan rambut bergelombang berwarna coklat dan riasan make up yang membuatnya terlihat semakin cantik.
Wanita itu berjalan ke arah kami, dan merentangkan kedua tangannya. Aku melihat Samuel juga merentangkan kedua tangannya dan berjalan maju menghampiri wanita itu.
"Sayang!" seru wanita paruh baya yang aku yakini sebagai Tante Stella, ibunya Samuel.
"Ibu.." ucap Samuel.
Tapi ternyata wanita itu melengos melewati Samuel dan malah memelukku.
"Naira, ibu senang sekali bertemu dengan mu!" ucap nya sambil melihat ku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Aku melirik sekilas ke arah Samuel yang terlihat sangat kecewa dan menatap ke arah ku dengan tajam, membuat ku segera memalingkan wajah ku pada Tante Stella.
"Saya, juga senang bertemu dengan Tante!" ucap ku gugup.
"Sayang jangan panggil Tante dong, panggil ibu ya. Kan kamu akan jadi menantu ibu sebentar lagi. Ayo kita pergi ke salon sekarang! ibu sudah tidak sabar mendengar cerita tentang mu dan Samuel, ceritakan di dalam mobil ya!" ucap Tante Stella panjang lebar sambil mengajak ku berjalan meninggalkan Samuel dan juga Riksa menuju ke dalam mobil.
Kesan pertama aku bertemu dengan ibunya Samuel adalah, aku tidak yakin kalau Samuel ini benar-benar anak dari Tante Stella, karena sifat mereka begitu berbeda. Samuel yang galak dan garang, dan Tante Stella yang sangat ramah dan juga murah senyum.
__ADS_1
***
Bersambung...