Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
282


__ADS_3

Memang cukup dilematis apa yang di alami oleh Puspa saat ini. Di depan semua anggota keluarganya, dia harus mengatakan sebuah keputusan yang jelas akan di tentang oleh semua anggota keluarganya. Tapi seperti itulah pilihan hidup, bagi Puspa yang akan menjalankan pernikahan seumur hidup, dia merasa kalau dia berhak untuk menentukan keputusan untuk hidupnya sendiri, bahagia atau tidak dirinya adalah keputusannya. Dia hanya meyakini hal tersebut saat ini. Dan Riksa, dia mengenal sangat baik pemuda itu, bahkan bermain bersamanya sejak usianya masih anak-anak. Sedangkan Jonathan, dia bahkan hanya tahu tentang siapa itu Jonathan dari cerita yang di sampaikan oleh ayah, ibu dan adiknya saja.


Mega yang mendengar anak sulungnya berkata seperti itu lantas berdiri dari duduknya dan menghampiri Puspa, Mega berdiri tepat di depan Puspa. Dengan tatapan yang begitu tajam, Mega pun bertanya pada anak sulungnya itu.


"Kamu bilang apa tadi?" tanya Mega memastikan kalau Puspa masih bisa merubah keputusannya.


Tapi dari mata wanita berusia 27 tahun itu sama sekali tidak ada keraguan di sana. Dia bahkan menyeka air matanya yang tadi dia tumpahkan ketika mengingat kesedihannya karena kepergian Fika.


"Aku katakan kalau aku akan menikah dengan Riksa!" tegas Puspa yang membuat Jonathan benar-benar merasa seperti orang yang sudah kalah sebelum berperang.


Mega juga lantas melihat ke arah Riksa, dengan pandangan merendahkan dia masih memasang ekspresi meremehkan pilihan Puspa.


"Kamu bilang akan menikah dengan orang ini?" tanya Mega pada Puspa sambil tangannya menunjuk tepat di depan wajah Riksa.


Riksa yang merasa kalau wanita paruh baya di hadapannya itu sudah bertindak sangat tidak sopan pun berusaha menahan dirinya, meski tangannya yang sebelah kiri juga sudah terkepal karena kesal.


"Apa kamu buta Puspa?" bentak Mega pada Puspa.


Putra yang mendengar ucapan yang begitu kasar dari sang istri yang ditujukan pada sang putri sulung pun tak tinggal diam, Putra langsung mendekati Mega dan berdiri di depannya.


"Ada perbedaan antara marah dan menghina Mega, jaga perkataan mu. Tidak sepantasnya di usia kita yang seharusnya menjadi contoh bagi anak-anak kita, kamu mengatakan hal se kasar itu pada anak mu sendiri!" ucap Putra yang meskipun terkesan marah, namun masih mengatakan semua itu dengan nada suara yang begitu tenang, serta ekspresi wajah yang tidak terlalu menunjukkan kalau dia marah pada Mega yang menurutnya sudah bertindak sangat keterlaluan.


"Lantas apa yang harus aku lakukan? lihat putri mu. Apa dia tidak bisa melihat bedanya baru permata dan batu kerikil yang sudah di pungut oleh Stella dari pinggir jalan...!"

__ADS_1


"Ibu, stop!" kali ini Puspa yang menyela ibunya dengan nada suara sedikit meninggi.


Puspa sudah tidak tahan lagi dengan semua hinaan yang keluar dari mulut wanita yang notabene nya adalah ibu kandungnya sendiri itu. Menurut Puspa, Mega benar-benar sudah keterlaluan, Puspa tidak terima ibunya itu menyamakan Riksa dengan batu kerikil, apalagi Mega juga bilang hanya batu kerikil yang di pungut di jalan oleh Stella. Itu jelas-jelas penghinaan yang ditujukan pada Riksa.


Mega makin tersulut emosi karena Puspa berani berkata dengan nada tinggi padanya. Dia melewati Putra, suaminya dan berdiri kembali tepat di depan Puspa.


"Kamu membentak ibu? ha... kamu berani membentak ibu demi pria yang bahkan kita tidak tahu dengan jelas asal usul nya itu? kita tidak tahu siapa kedua orang tua kandungnya? masa depannya? dia itu bukan siapa-siapa Puspa, buka mata mu!" seru Mega yang begitu kesal karena Puspa membela Riksa.


"Tolong hentikan semua penghinaan ibu pada Riksa, jangan sampai aku melupakan kalau aku adalah manusia yang lahir dari rahim mu, Ibu!" ucap Puspa dengan mata yang kembali berkaca-kaca dan nada suara yang bergetar.


Putra dan Riksa saling pandang, mereka berdua tahu situasi saat ini sudah sangat tidak kondusif. Jika pertengkaran ini dilanjutkan maka Riksa takut kalau Puspa bahkan akan menyesali apa yang akan dia katakan pada ibunya.


Riksa kemudian mendekati Puspa dan menggenggam tangan wanita itu dengan lembut.


"Diam kamu! siapa yang menyuruh mu bicara?" tanya Mega yang menyela ucapan Riksa.


Putra yang tidak ingin suasana tambah kacau pun ikut menengahi mereka. Putra berada di samping Mega dan berusaha menenangkan istrinya itu.


"Sudah Mega, hentikan semua ini!"


"Jangan berkata seolah kamu juga menyetujui hubungan mereka mas, ingat kalau kamu punya perjanjian dengan ayah Jonathan, dan sampai kapan pun aku tidak akan pernah menerima orang ini yang tidak jelas asal usulnya menjadi menantu keluarga ini, kakinya saja ku haramkan menginjakkan kaki di rumah ini. Pergi kamu dari sini!" teriak Mega pada Riksa.


"Ibu, cukup! kalau ibu mengusir Riksa dari sini, maka aku juga akan pergi dari sini!" gertak Puspa yang menggenggam tangan Riksa dengan erat.

__ADS_1


"Puspa nak, jangan bicara begitu. Semua ini demi kebaikan mu. Mengerti lah nak!" ucap Putra yang memang kembali bimbang karena apa yang barusan Mega katakan.


Mega mengingatkan Putra tentang janinnya pada ayah Jonathan. Itu membuat Putra kembali berusaha membujuk Puspa untuk tetap tinggal dan bicara lagi dengannya. Sebut saja Putra kurang tegas, tapi dia memang begitu mencintai Mega sehingga terkadang dia juga harus mendukung apapun yang dilakukan Mega walaupun sebenarnya itu bukan hal yang tepat ataupun benar.


"Maaf ayah, tapi kalau ibu tidak mengijinkan Riksa berada di rumah ini, maka aku juga tidak akan tinggal!" ucap Puspa yang menatap ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Mega malah tersenyum miring.


"Heh, kamu pikir ibu akan membiarkan mu bisa keluar dari rumah ini?" tanya Puspa.


"Apa maksud ibu?" tanya Puspa yang merasa kalau ibunya telah melakukan hal yang tidak dia duga sebelumnya.


"Keluarlah jika kalian bisa, tapi mobil mu diluar sudah tidak ada rodanya lagi, juga kalau kamu mau keluar dari sini, paling tidak pria tidak berkelas ini harus melawan setidaknya 50 orang pengawal yang sudah ibu dan Jonathan sewa! jika bisa silahkan keluar!" tantang Mega yang merasa kalau semua yang dia lakukan akan bisa menahan Riksa untuk tidak bisa membawa Puspa keluar dari rumah ini lagi.


Puspa yang merasa kalau ibunya sudah keterlaluan pun mengertakkan giginya kesal.


"Ibu keterlaluan! Riksa cepat hubungi Samuel!" seru Puspa yang merasa kalau Riksa tidak akan mampu melawan 50 orang pengawal yang bahkan tubuhnya lebih besar darinya.


Tapi dengan percaya diri, Riksa melepas jas nya dan memberikan nya pada Puspa.


"Tidak perlu, aku harus memperjuangkan mu sendiri. Aku akan buktikan kalau aku pantas!" ucap Riksa dengan tatapan tenang pada Puspa yang sangat cemas saat menerima jas dari Riksa.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2