
Wika membawa ku naik ke atas pelaminan, tempat ini benar-benar luas tidak seperti di pelaminan-pelaminan yang biasa aku hadiri saat kondangan di sekitar tempat tinggal ku. Kalau mau foto keluarga, tamu yang mau bersalaman harus mengantri dulu, dan hanya muat untuk satu baris tamu saja.
Tempat ini sangat luas, selain kursi pengantin, kurasa masih muat lagi kalau ada angkot lewat dengan dua jalur, tapi tidak mungkin juga ada angkot yang lewat disini. Aku hanya mendeskripsikan seluas apa pelaminan ini.
Atau mungkin di belakang kursi pengantin itu akan di beri hiasan air terjun seperti pada pernikahan seorang tetanggaku, di belakangnya ada air mancurnya. Itu adalah pelaminan terbaik yang pernah aku lihat. Tapi kurasa jika setinggi dan seluas ini, pasti akan ada air terjun disana.
Ketika aku sedang melihat-lihat, Wika kembali bicara padaku.
"Saat anda naik dari tangga yang ada disana itu, anda harus langsung menghampiri tuan Samuel yang nantinya juga akan berjalan perlahan menghampiri anda. Tapi ingat jangan sampai terkesan tuan Samuel yang mendekati anda lebih dulu!" jelas nya.
Aku mengernyitkan dahi ku. Terus terang saja aku makin tidak mengerti ucapannya ini. Apa maksudnya dengan sama-sama menghampiri tapi si lidah tajam tidak boleh terkesan mendekatiku. Apa aku harus berjalan dengan cepat dan si lidah tajam berjalan sangat lambat, itu aneh sekali.
"Nona Wika, aku sungguh tidak mengerti! bukan kah kami berdua akan sama-sama saling menghampiri? pasti kami akan bertemu di tengah tempat ini kan?" tanya ku pada Wika karena aku bingung.
Dia malah mendecakkan lidahnya.
"Nona Naira, kamu berjalan dari tangga itu, dan tuan Samuel berjalan dari tempat ku berdiri ini! mengerti?" tanya nya.
'Ih, ni orang sehat gak sih. Kan dari tadi emang maksud aku gitu. Kenapa dia pakai bilang jangan terkesan Samuel mendekat, kan aku jadi bingung!' keluh ku dalam hati.
Aku menganggukkan kepalaku, dan dia menjelaskan lagi.
"Tuan Samuel akan mengulurkan tangannya pada anda, dan ayah anda akan memberikan tangan anda pada tuan Samuel. Mengerti?" tanya nya lagi.
Dia mengatakan kalimat dengan pendek-pendek, kurasa dia mengira daya tangkap ku ini lemah. Dan itu memang benar. Aku sempat ingin terkekeh, tapi itu urung ku lakukan karena Wika lagi-lagi menatap ku dengan tatapan tegas dan bicara lagi.
__ADS_1
"Setelah itu kalian berdua akan berjalan mendekati meja pernikahan yang akan ada disini, kalian berdua akan duduk berdampingan dengan orang tua tuan Samuel dan juga orang tua anda sebagai saksi serta seorang penghulu, lalu akan di laksanakan prosesi ijab kabul, semua acara akan di pandu oleh pembawa acara, pastikan pembawa acara selesai dengan instruksi nya baru anda dan tuan Samuel melakukan apa yang di instruksikan...!"
Wika menerangkan panjang lebar apa yang harus aku lakukan, aku menangkap semua yang dia jelaskan. Aku ini juga sering jadi panitia saat acara pernikahan di sekitar rumah. Jadi sedikit-sedikit aku paham lah, apa yang biasa di lakukan mempelai wanita di pernikahan.
Riksa menghampiri kami ketika dia sudah keluar dari sebuah ruangan.
"Hai Nai, bagaimana? tidak sulit kan?" tanya Riksa.
Aku baru saja akan membuka mulut ku untuk menjawab pertanyaan Riksa, tapi Wika maju satu langkah dari tempatnya dan menyela ku.
"Tentu tidak tuan, nona Naira ini sangat pintar, dan dia cepat sekali menangkap semua penjelasan ku. Senang sekali bisa bertemu dan mengarahkan calon istri tuan Samuel yang cantik dan juga pintar ini!" ucap nya dengan senyuman tiga jarinya.
'Wow, ternyata aku bukan hanya akan angkat topi untuk sandiwara si lidah tajam saja. Wanita bernama Wika yang menjadi sekertaris pribadi Riksa ini juga akan mendapatkan hal yang sama dariku, aku angkat topi juga untuk dia! apa memang harus seperti ini ya di dunia bisnis, harus lain di mulut lain di hati. Ini mengerikan!' keluh ku dalam hati.
Aku mengangguk kan kepala ku perlahan.
"Iya, aku sudah mengerti!" jawab ku pelan.
"Baiklah, aku juga sudah memeriksa semua CCTV yang terpasang. Dan semua sesuai dengan perintah bos Samuel. Sekarang kita bisa pergi ke percetakan!" seru Riksa yang kemudian mengalihkan pandangannya dariku pada Wika.
"Wika, pastikan semua aman dan terkendali. Tidak boleh ada kesalahan, karena pernikahan nya benar-benar tinggal sebentar lagi!" seru Riksa dan wanita itu langsung mengangguk mantap.
Aku mulai mencium aroma kagum dan aroma-aroma cinta sepihak dari Wika untuk Riksa, karena saat menatap Riksa. Mata Wika selalu berbinar, berbeda dengan tatapan ku ataupun tatapan Riksa. Tapi kurasa Riksa tidak menyukai nya, karena sejak tadi sepertinya Riksa malas kontak mata dengan Wika.
Aku dan Riksa meninggalkan Wika yang masih berdiri mematung melihat kepergian kami. Aku menoleh sekilas dan dia memeluk HT nya sambil memandangi punggung Riksa. Aku berbalik dan kembali berjalan mengikuti Riksa. Tapi aku tidak bisa untuk tidak terkekeh geli melihat kelakuan Wika itu. Dia yang sangat tegas dan judes padaku, tapi saat bicara dengan Riksa dia mendadak jadi lembut dan manis. Itu sungguh menggelikan.
__ADS_1
Dan ternyata kekehan ku dapat di sadari oleh Riksa. Sambil membukakan pintu mobil untuk ku, Riksa bertanya.
"Sedang menertawakan apa?"
Aku langsung menggelengkan kepalaku dengan cepat berkali-kali.
"Tidak, tidak apa-apa!" jawab ku. Aku tidak ingin Riksa mengira aku menertawakan wanita yang menyukai nya, meskipun itu benar adanya.
Riksa menutup pintu mobil bagian depan, lalu berputar dari depan dan duduk di kursi kemudi.
"Mau langsung ke percetakan atau mau makan siang dulu?" tanya nya.
Aku senang sekali pada pria di samping ku ini. Dia selalu menanyakan pendapat ku sebelum mengambil keputusan jika itu berhubungan dengan kami berdua.
"Ke percetakan saja, kasihan mereka jika harus menunggu kita makan siang dulu. Belum tentu mereka sudah makan siang!" jawab ku.
"Kenapa berfikir begitu?" tanya Riksa.
"Kamu pasti sudah menghubungi mereka kan? bos mereka pasti meminta mereka mempersiapkan yang terbaik dan menunggu kita, sebelum kita datang. Mereka pasti tidak akan beranjak dari tempat mereka, bahkan hanya untuk makan siang!" jelas ku karena aku pernah merasakan hal itu.
Saat seorang klien ko Acong bilang akan membeli beberapa buku limited edition, aku, Mini dan Haris tidak akan beranjak dari tempat kami sebelum klien itu datang. Bahkan hanya untuk ke kamar kecil.
***
Bersambung...
__ADS_1