
Setelah selesai di periksa dan di perban, kami semua makan malam bersama. Samuel bahkan meminta anak buahnya yang lain membelikan ayah ku kursi roda. Aku sebenarnya terharu dengan yang di lakukan oleh Samuel. Tapi mendadak rasa kagum ku hilang seketika.
"Hei, Naira. Seharusnya kamu sangat bersyukur. Bukankah sebuah keberuntungan yang amat besar bagimu karena mendapatkan suami sebaik dan sekaya aku, banyak gadis yang berharap berada di posisi mu!" ujarnya berbisik padaku.
Apa yang dia katakan itu sebenarnya benar, tapi mendadak rasa kagum ku langsung hilang begitu saja karena ucapan nya tadi. Aku malah mengira kalau dia melakukan semua ini karena hanya ingin semua orang disini tahu, kalau dia sangat baik dan juga sangat kaya. Tidak ada yang menandinginya dalam hal materi dan juga kebaikan.
Setelah makan malam, ayah, Samuel, Riksa dan juga Ibras berkumpul diruang keluarga. Aku dan ibu ku membereskan ruang makan dan dapur. Sejak tadi aku diam dan berfikir, apakah tidak sebaiknya aku jujur saja ayah dan ibu tentang pernikahan ini. Masalahnya Samuel tidak hanya melanggar apa yang dia katakan sendiri kalau dua tidak akan menyentuhku, tapi juga dia tidak memperbolehkan aku menunda kehamilan. Kalau seperti ini, saat kami berpisah nanti aku tidak tahu apakah akan ada seorang tuan kecil yang akan membuatku sangat menyesal karena telah menyembunyikan ini semua dari ayah dan ibuku.
Dan yang pasti ayah dan ibuku pasti juga tidak mau kalau sampai mereka di pisahkan dari cucu mereka.
Aku sungguh bingung, dia belum ada saja aku sudah memikirkan banyak hal yang terjadi kemungkinannya di masa depan nanti. Bagaimana kalau dia benar-benar hadir.
Aku juga tidak bodoh untuk tidak mengetahui apa yang dilakukan Samuel itu juga sedang berusaha membuat ketakutan ku itu menjadi kenyataan.
Prang
"Naira! astaga! kenapa bisa pecah nak, kamu tidak apa-apa?" tanya ibuku panik dan langsung mengambil sapu dan pengki dari belakang rumah.
Aku masih memandang pecahan piring yang ada di lantai. Aku bahkan berpikir mungkin hati dan kehidupan ku akan seperti itu nanti.
"Ada apa?" tanya sebuah suara yang membuat ku langsung menoleh.
"Riksa!" ucap ku sambil tersenyum melihat Riksa.
Aku tersenyum bukan karena senang melihat Riksa. Tapi karena aku tersadar dari harapan ku yang tidak mungkin akan menjadi kenyataan. Aku bahkan sempat berharap Samuel kemari dan melihat apa yang terjadi padaku. Sungguh bodoh sekali aku ini.
"Tidak apa-apa, tangan ku licin. Piringnya terjatuh begitu saja! ada apa?" tanya ku pada Riksa.
Dia tidak mungkin hanya ingin melihat kondisi ku kan.
"Aku mendengar suara benda terbanting, aku khawatir. Tapi aku bilang pada bos, aku mau ke toilet." jelas Riksa.
__ADS_1
Aku sangat terkejut dengan apa yang Riksa katakan, sebegitu perduli nya itukah dia padaku.
"Naira, aku sudah pernah katakan padamu kan. Apapun yang mengganggu pikiran mu, kamu bisa datang padaku dan membagi beban pikiran mu itu!" seru Riksa terdengar sangat tulus.
Aku menghela nafas pelan.
"Aku tidak bisa katakan disini. Mungkin lain kali...!"
"Ada apa ini? kenapa kamu di sini? kamu bilang mau ke toilet?" tanya Samuel yang baru saja datang dan menepuk bahu Riksa.
"Nak Samuel, tidak ada apa-apa. Naira tangannya licin, piringnya terjatuh. Nai, biar ibu yang bereskan sisanya sebaiknya kamu temani nak Samuel dan nak Riksa, lalu katakan pada Ibras untuk mengajak ayah istirahat. Dia sudah minum obat, sebaiknya langsung tidur kata dokter begitu tadi!" seru ibu.
Aku pun mengangguk patuh dan berjalan keluar, di ikuti oleh Samuel. Karena Riksa benar-benar harus pergi ke toilet jika tidak mau Samuel marah padanya.
Setelah Ibras dan juga ayah masuk ke dalam kamar, aku duduk di sofa ruang tv sambil menonton acara televisi, sebuah program komedi. Tapi tiba-tiba Samuel meraih remote control televisi yang aku pegang dan mengganti channel acara televisi nya.
"Mas... tunggu sampai iklan dulu baru di ganti!" aku mengatakan kalimat protes itu dengan nada pelan. Sama sekali tidak terkesan seperti sebuah kalimat yang menyiratkan kalau aku sedang protes padanya.
Dia tidak perduli dan tetap mengganti channel acara televisi, lalu duduk di sebelah ku. Sangat dekat, aku menggeser sedikit posisi duduk ku, tapi dia malah ikut geser bahkan merangkul lengan ku.
"Kenapa, tidak senang di rangkul suami sendiri. Berharap orang lain yang melakukan nya, jangan mimpi!" ucapnya ketus.
Aku diam dan tidak menanggapinya. Semakin di tanggapi aku rasa dia akan semakin tidak mau kalah.
"Lagi pula kalian sangat aneh ya, setiap iklan kalian mengganti channel, apa kalian tidak tahu, iklan itulah yang membuat acara itu bisa semakin panjang episode nya. Susah kalau tidak mengerti bisnis!" ucapnya panjang lebar.
Tapi ada satu hal yang dia katakan itu benar, aku memang tidak mengerti bisnis.
"Bos, apa ada lagi yang bisa aku bantu?" tanya Riksa yang baru saja kembali dari toilet.
"Tidak ada pulang saja sana. Besok pagi jemput aku jam 7 pagi. Ada pertemuan penting!" seru Samuel.
__ADS_1
Aku hanya melihat ke arah Samuel dan ke arah Riksa secara bergantian tanpa ikut berbicara. Tapi aku bisa lihat kalau Samuel terkesan sangat cuek dan tidak memperhatikan Riksa. Dia bahkan bicara tanpa melihat ke arah Riksa sama sekali. Dan Riksa, dia malah beberapa kali melirik ke arah ku. Membuatku menelan saliva ku dengan susah payah.
"Baik bos, Nai...!"
"Kamu panggil dia apa?" tanya Samuel yang kali ini melihat ke arah Riksa dengan tatapan tidak senang.
"Naira!" jawab Riksa dengan cepat.
"Ck... jangan kurang ajar Riksa, dia istriku. Panggil dia nyonya bos seperti yang lain!" perintah Samuel pada Riksa.
Pria muda yang tampan dan baik hati itu mengangguk paham. Tidak ada sama sekali raut kesal terpancar di wajahnya.
"Baik bos, nyonya bos! aku pulang dulu. Selamat malam!" ucapnya sopan.
"Selamat malam Riksa!" sahut ku.
Tapi Samuel langsung menempeleng kepala ku membuat aku sangat terkejut.
"Kenapa mas menempeleng ku, aku salah apa?" tanya ku tak mengerti.
"Jangan bersikap manis pada pria lain di depa. ku, kamu lupa aturan itu?" tanya Samuel dengan wajah dingin.
Aku mengerjapkan mataku perlahan.
"Mas, dia bukan orang lain, dia Riksa!" aku berusaha menjelaskan. Tidak akan ada yang terjadi, karena dia adalah Riksa. Orang yang bahkan jika aku merayu nya, dia tidak akan mengkhianati Samuel.
"Sekarang aku tanya, dia pria bukan?" tanya Samuel membuat ku sulit untuk membantah lagi.
Aku hanya diam dan menghela nafas ku.
"Tunggu apalagi, sudah pergi sana!" perintah Samuel pada Riksa yang meskipun Samuel sudah sangat kasar padanya dia tetap tersenyum dan menundukkan sedikit tubuh nya memberi hormat pada Samuel sebelum pergi.
__ADS_1
***
Bersambung...