Istri Kontrak CEO

Istri Kontrak CEO
190


__ADS_3

Stella dan juga Damar hanya bisa saling pandang mendengar pertanyaan Melinda yang mengatakan kalau dia masih ada niat untuk memberikan lagi kado lain bagi Naira.


Stella yang tidak ingin membuat Melinda menaruh kecurigaan bahwa sebenarnya Stella sudah tahu rencana licik dari Melinda pun hanya bisa mengangguk kan kepalanya dan tersenyum seadanya saja.


"Tentu saja, niat baik tidak boleh di tolak bukan?" tanya Stella yang sebenarnya ditujukan untuk menyindir secara halus wanita yang berada di depannya itu.


Melinda yang sebenarnya juga merasa tersindir atas ucapan yang dilontarkan oleh Stella juga hanya menambahkan ekspresi tersenyum biasa saja.


"Selamat pagi!" sapa Natasha yang membawa nampan berisi empat gelas jus jeruk di atasnya.


Stella dan Damar kembali saling pandang, mereka semakin yakin bahwa keluarga ini terutama dua wanita yang berada satu ruangan dengan mereka ini memang adalah wanita yang licik. Dengan empat buah gelas minuman yang disiapkan tentu saja saat mereka datang karena begitu mereka duduk dan berbicara sebentar minuman itu sudah siap, itu menunjukkan kalau Natasha memang menyiapkannya begitu mobil mereka masuk tadi.


Stella hanya bisa menghela nafasnya panjang.


Tapi dia lalu segera yang berubah ekspresinya menjadi tersenyum.


"Wah, Natasha kamu sendiri yang menyiapkan semua ini?" tanya Stella yang berusaha bersikap biasa saja di depan kedua wanita itu.


Stella yang awalnya tidak menyadari kalau yang ada di situ adalah Damar dan bukannya Naira, sedikit terkejut saat meletakkan gelas di depan Damar.


"Eh iya Tante, ini aku yang siapkan. Silahkan om dan Tante!" ucap Natasha lalu ikut duduk di sebelah sang ibu.


Natasha duduk dengan pandangan cemas dan tidak senang.


'Kenapa malah om Damar? bagaimana kalau minuman yang sudah aku campur obat itu di minum oleh om Damar?' tanya Natasha dalam hati.


Mendadak keringat dingin mengalir di pelipis Natasha, sebab kalau sampai terjadi sesuatu pada Damar, dirinya juga tidak ingin.


"Terimakasih, tapi maaf ya. Kami buru-buru, aku harus berangkat kerja. Kami pamit dulu!" ucap Damar.


Mendengar apa yang di ucapkan oleh Damar itu, Natasha langsung menghela nafasnya lega.


"Iya om, silahkan!" sahut Natasha cepat.


Damar dan Stella akhir nya keluar, setelah mengantar sampai di depan pintu, Melinda dengan cepat menarik putrinya masuk ke dalam.

__ADS_1


"Kenapa kamu panik begitu? bagaimana kalau sampai kita ketahuan tadi?" tanya Melinda yang merasa sedikit kesal pada putrinya.


"Ibu, aku panik. Kenapa malah om Damar yang datang, bagaimana kalau om Damar yang minum minuman yang sudah aku campur obat itu?" tanya balik Natasha tak kalah meninggikan suaranya dari sang ibu.


"Ck... kenapa juga wanita kampungan itu tidak datang!" kesal Melinda.


"Sekarang bagaimana?" tanya Natasha.


"Kamu tenang saja, ibu akan pikirkan cara lain untuk menyingkirkan wanita kampung itu dari kediaman Virendra!" ucap Melinda dengan seringai di wajahnya dan dengan nada suara yang penuh dengan keyakinan.


***


Sementara itu di perusahaan Samuel, meeting dengan perusahaan Rizaldi berjalan dengan baik. Tuan Rizaldi tak henti-hentinya memuji kinerja Samuel dan Riksa dan hal itu juga membuat anak dari tuan Rizaldi yaitu Teddy menjadi kesal sendiri.


Semua yang dia rencanakan berakhir tidak sesuai dengan harapannya. Apalagi untuk menjalankan rencana nya itu dia tida sedikit mengeluarkan uang, untuk menutupi jejak Lusiana dia bahkan memerlukan beberapa ratus juta, juga untuk membungkam mulut Lusiana. Namun semua jadi sia-sia. Tentu dia sangat kesal.


"Kerja bagus Samuel, aku memang tidak salah memilih mu menjalankan proyek ini. Kita tinggal menunggu keuntungan saja kalau begitu. Senang bekerja sama dengan anak muda berbakat seperti dirimu!" ucap tuan Rizaldi membanggakan dan memuji Samuel.


Samuel tersenyum puas, sesekali dia malah sengaja melihat ke arah Teddy untuk menunjukkan kemenangan nya.


"Bos, seperti nya memang dia yang membuat masalah untuk kita!" ucap Riksa yang sedari tadi juga memperhatikan gerak-gerik dari putra tunggal tuan Rizaldi itu.


"Aku kan sudah bilang sejak kemarin, kamu saja yang tidak percaya. Sudahlah! aku mau pulang dulu ya, aku mau bertemu dengan istri cantik ku!" ucap Samuel langsung melenggang meninggalkan Riksa dan Dina yang masih merapikan dokumen hasil meeting tadi.


Dina dan Riksa pun saling pandang.


"Sejak Naira hamil seperti nya bos jadi ingin menempel terus pada istrinya itu ya?" tanya Dina pada Riksa.


"Itu bagus juga kan, jadi dia tidak menempel pada kita!" ucap Riksa yang membawa laptop nya dan keluar dari dalam ruangan.


"Aih, kenapa aku merasa Riksa banyak berubah juga ya, dia jadi suka bercanda. Seperti bukan Riksa saja!" gumam Dina yang juga merasa sedikit aneh dengan sikap Riksa.


Meski lelah, Samuel memilih untuk mengemudi sendiri daripada harus menunggu pak Urip menjemput nya. Karena saat ini pak Urip masih berada di kediaman Virendra.


Samuel berusaha untuk berkonsentrasi saat mengemudi, beberapa lama kemudian saat sudah hampir tiba di dekat rumahnya, tiba-tiba saja...

__ADS_1


Brukk


"Astaga, apa itu?" tanya Samuel yang merasa kalau mobilnya telah menabrak sesuatu.


Samuel segera melepas sabuk pengaman nya dan langsung keluar dari dalam mobil. Dan betapa terkejutnya ketika dia melihat seorang wanita yang tengah berusaha bangkit berdiri setelah jatuh karena telah menyenggol mobil Samuel tadi.


"Caren!" ucap Samuel tak percaya melihat wanita yang ada di hadapannya.


Wanita itu adalah Caren, tapi dengan penampilan yang terlihat menyedihkan. Pakaian yang sangat biasa dan dengan riasan pucat tidak seperti biasanya.


Caren mengangkat wajahnya dan meringis menahan sakit.


"Sam!" lirih Caren.


"Woi, berhenti. Jangan lari!" terdengar teriakan dari arah belakang Caren.


Caren lalu menoleh ke arah belakang dan dengan langkah terpincang-pincang dia mendekati Samuel dan bersembunyi di belakang Samuel.


"Sam, tolong aku! mereka mau menjual ku. Tolong aku!" pinta Caren dengan mata berkaca-kaca.


Samuel masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat ini. Dia tidak menyangka kalau Caren akan berubah menjadi sangat menyedihkan seperti ini.


"Hei, cepat serahkan wanita itu pada kami!" ucap salah seorang dari 4 pria berbadan tegap dan bertato.


Samuel melihat ke arah Caren lalu ke arah 4 orang pria itu.


"Kenapa kalian mengejarnya?" tanya Samuel.


"Wanita itu sudah berhutang banyak pada bos kami, dia tidak bisa bayar. Dia harus bekerja pada bos kami dengan menjual dirinya!" jawab pria yang bertato ular di lehernya.


Samuel terkejut, dia tidak percaya kalau wanita yang begitu anggun dan pintar, biasa bergelimang harta, sekarang bahkan terancam harus menjual diri untuk menutupi hutangnya.


"Sam, tolong aku. Aku tidak mau menjual diri, aku tidak mau, tolong aku Sam!" ucap Caren sambil terisak dengan tangan gemetar sambil memegang tangan Samuel.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2